Archive for September, 2008




ILMU PENGETAHUAN

PERTOLONGAN PERTAMA GAWAT DARURAT (PPGD)

Oleh : Amsi Rahmanta
(BLS Certificate No. A.G.D BLS 00 0207)

Bayangkan ada seorang pendaki yang tidak hati-hati lalu terjatuh ke dalam jurang sedalam 10 meter. Sangat miris karena pendaki tersebut mengalami trauma tulang belakang yang cukup parah. Prognosa menyatakan dia bakal lumpuh seumur hidupnya dari batas pusar ke bawah (paraplegi). Menurut cerita teman-teman pendaki yang ikut mendaki bersama dia, pertolongan di tempat kejadian dilakukan oleh pendaki lain yang kemungkinan besar belum mengetahui teknik PPGD. Kita lalu akan membayangkan korban diangkat dari dasar jurang entah dengan apa dan bagaimana, namun dapat diyakinkan bahwa proses evakuasi, mobilisasi dan tranportasi korban sangatlah merugikan dan memperburuk cedera tulang belakangnya.
Bayangkan juga ada seorang pendaki yang tiba-tiba mengalami serangan jantung yang menyebabkan jantungnya tiba-tiba berhenti berdenyut lalu mengalami kematian mendadak karena tidak mendapatkan pertolongan yang cepat, padahal kita berada tidak jauh dari lokasinya. Atau seorang pemanjat tebing yang mengalami kecelakaan dan menyebabkan fraktur terbuka yang mengeluarkan cukup banyak darah lalu membuatnya pingsan. Apakah yang harus kita lakukan ?
Kejadian gawat darurat biasanya berlangsung cepat dan tiba-tiba sehingga sulit memprediksi kapan terjadinya. Langkah terbaik untuk situasi ini adalah waspada dan melakukan upaya kongkrit untuk mengantisipasinya. Harus dipikirkan satu bentuk mekanisme bantuan kepada korban dari awal tempat kejadian, selama perjalanan menuju sarana kesehatan, bantuan di fasilitas kesehatan sampai pasca kejadian cedera. Tercapainya kualitas hidup penderita pada akhir bantuan harus tetap menjadi tujuan dari seluruh rangkai pertolongan yang diberikan.
Jadi prinsip dan tujuan dilakukannya PPGD adalah :
1. Menyelamatkan kehidupan
2. Mencegah keadaan menjadi lebih buruk
3. Mempercepat kesembuhan
Upaya Pertolongan terhadap penderita gawat darurat harus dipandang sebagai satu system yang terpadu dan tidak terpecah-pecah, mulai dari pre hospital stage, hospital stage, dan rehabilitation stage. Hal ini karena kualitas hidup penderita pasca cedera akan sangat bergantung pada apa yang telah dia dapatkan pada periode Pre Hospital Stage bukan hanya tergantung pada bantuan di fasilitas pelayanan kesehatan saja. Jika di tempat pertama kali kejadian penderita mendapatkan bantuan yang optimal sesuai kebutuhannya maka resiko kematian dan kecacatan dapat dihindari. Bisa diilustrasikan dengan penderita yang terus mengalami perdarahan dan tidak dihentikan selama periode Pre Hospital Stage, maka akan sampai ke rumah sakit dalam kondisi gagal ginjal.
Penderita dengan kegagalan pernapasan dan jantung kurang dari 4-6 menit dapat diselamatkan dari kerusakan otak yang ireversibel. Syok karena kehilangan darah dapat dicegah jika sumber perdarahan diatasi, dan kelumpuhan dapat dihindari jika upaya evakuasi & tranportasi cedera spinal dilakukan dengan benar.
Oleh karena itu orang awam yang menjadi first responder harus menguasai lima kemampuan dasar yaitu :
• Menguasai cara meminta bantuan pertolongan
• Menguasai teknik bantuan hidup dasar (resusitasi jantung paru)
• Menguasai teknik menghentikan perdarahan
• Menguasai teknik memasang balut-bidai
• Menguasai teknik evakuasi dan tranportasi

Penyebarluasan kemampuan sebagai penolong pertama dapat diberikan kepada masyarakat yang awam dalam bidang pertolongan medis baik secara formal maupun informal secara berkala dan berkelanjutan dengan menggunakan kurikulum yang sama, bentuk sertifikasi yang sama dan lencana tanda lulus yang sama. Sehingga penolong akan memiliki kemampuan yang sama dan memudahkan dalam memberikan bantuan dalam keadaan sehari-hari ataupun bencana masal.

I. MEMINTA PERTOLONGAN

Apakah yang anda lakukan jika menemukan seseorang pasien gawat darurat ?
1. amankan penderita
2. hubungi Ambulans dengan telepon nomor 118
3. tertibkan masyarakat
4. lakukan prosedur gawat darurat
Cara memanggil Mobil Ambulans :
Putar nomor telepon 118, Telepon : (021) 687089 – 65303118 Fax : (021) 585652
Lalu sebutkan :
nama, nomor telepon, lokasi korban, jenis penyakit (sakit, kecelakaan lalin.kerja, kriminalitas), keadaan korban, dan jumlah korban

II. TEKNIK BANTUAN HIDUP DASAR (BLS-Basic Life Support)

Terdapat banyak keadaan yang akan menyebabkan kematian dalam waktu singkat, tetapi semuanya berakhir pada satu akhir yakni kegagalan oksigenasi sel, terutama otak dan jantung.
Usaha yang dilakukan untu mempertahankan kehidupan pada saat penderita mengalami keadan yang mengancam nyawa yang dikenal sebagai “Bantuan Hidup” (Life Support). Bila usaha Bantuan Hidup ini tanpa memakai cairan intra-vena, obat ataupun kejutan listrik maka dikenal sebagai Bantuan Hiudp Dasar (Basic Life Support). Apabila BHD dilakukan cukup cepat, kematian mungkin dapat dihindari seperti nampak dari tabel dibawah ini :
Keterlambatan kemungkinan berhasil
1 menit 98 dari 100
4 menit 50 dari 100
10 menit 1 dari 100
Catatan : Bila ada tanda kematian pasti seperti kaku mayat atau lebam mayat, sudah sia-sia untuk melakukan BHD.

Yang harus dilakukan pada BHD adalah :

a. Airway (jalan nafas)
b. Breathing (pernafasan)
c. Circulation (jantung dan pembuluh darah)

A. AIRWAY
Menilai jalan nafas dan pernafasan :
Bila penderita sadar dapat berbicara kalimat panjang : Airway baik, Breathing baik
Bila penderita tidak sadar bisa menjadi lebih sulit
Lakukan penilaian Airway-Breathing dengan cara : Lihat-Dengar-Raba
Obstruksi jalan nafas
Merupakan pembunuh tercepat, lebih cepat dibandingkan gangguan breathing dan circulation.lagipula perbaikan breathing tidak mungkin dilakukan bila tidak ada Airway yang baik.
a. Obstruksi total
Pada obstruksi total mungkin penderita ditemukan masih saar atau dalam keadaan tidak sadar. Pada obstruksi total yang akut, biasanya disebabkan tertelannya benda asing yang lalu menyangkut dan menyumbat di pangkal larink, bila obstruksi total timbul perlahan (insidious) maka akan berawal dari obstruksi parsial menjadi total.
- Bila penderita masih sadar
Penderita akan memegang leher, dalam keadaan sangat gelisah. Kebiruan (sianosis) mungkin ditemukan, dan mungkin ada kesan masih bernafas (walaupun tidak ada udara keluar-masuk/ventilasi). Dalam keadaan ini harus dilakukan perasat Heimlich (abdominal thrust). Kontra-indikasi Heimlich manouvre atau kehamilan tua dan bayi.
b. Obstruksi parsial
Disebabkan beberapa hal, biasanya penderita masih dapat bernafas sehingga timbul beraneka ragam suara, tergantung penyebabnya (semuanya saat menarik nafas, inspirasi)
- Cairan (darah, sekret, aspirasi lambung dsb), bunti kumur-kumur.
- Lidah yang jatuh kebelakang-mengorok
- Penyempitan di larink atau trakhea-stridor

Pengelolaan Jalan nafas
a. Penghisapan (suction) – bila ada cairan
b. Menjaga jalan nafas secara manual
Bila penderita tidak sadar maka lidah dapat dihindarkan jatuh kebelakang dengan memakai :
= Angkat kepala-dagu (Head tilt-chin manouvre), prosedur ini tidak boleh dipakai bila ada kemungkinan patah tulang leher.
= Angkat rahang (jaw thrust)

III. BREATHING DAN PEMBERIAN OKSIGEN
Bila Airway sudah baik, belum tentu pernafasan akan baik sehingga perlu selalu dilakukan pemeriksaan apakah ada pernafasan penderita sudah adekuat atau belum.
1. Pemeriksaan Fisik penderita.
a. Pernafasan Normal, kecepatan bernafas manusia adalah :
Dewasa : 12-20 kali/menit (20)
Anak-anak : 15-30 kali/menit (30)
Pada orang dewasa abnormal bila pernfasan >30 atau <10 kali/menit
b. Sesak Nafas (dyspnoe)
Bila penderita sadar, dapat berbicara tetapi tidak dapat berbicara kalimat panjang : Airway baik, Breathing terganggu, penderita terlihat sesak. Sesak nafas dapat terlihat atau mungkin juga tidak. Bila terlihat maka akan ditemukan :
- Penderita mengeluh sesak
- Bernafas cepat (tachypnoe)
- Pemakaian otot pernafasan tambahan
- Penderita terlihat ada kebiruan
2. Pemberian Oksigen
a. Kanul hidung (nasal canule)
b. Masker oksigen (face mask)
3. Pernafasan Buatan (artificial ventilation)
Bila diperlukan, pernafasan buatan dapat diberikan dengan cara :
a. Mouth to mouth ventilation ( mulut ke mulut )
Dengan cara ini akan dicapai konsentrasi oksigen hanya 18% (konsentrasi udara paru saat ekspirasi).
Frekuensi Ventilasi Buatan
Dewasa 10-20 x/menit
Anak 20 x/menit
Bayi 20 x/menit
b. Mouth to mask ventilation
c. Bantuan Pernafasan memakai kantung (Bag-Valve-Mask, “Bagging”)

IV. CIRCULATION
1. Umum
a. Frekuensi denyut jantung
Frenkuensi denyut jantung pada orang dewasa adalah 60-80/menit.
b. Penentuan denyut nadi
pada orang dewasa dan anak-anak denyut nadi diraba pada a.radialis (lengan bawah, dibelakang ibu jari) atau a.karotis, yakni sisi samping dari jakun.
2. Henti jantung
Gejala henti jantung adalah gejala syok yang sangat berat. Penderita mungkin masih akan berusaha menarik nafas satu atau dua kali. Setelah itu akan berhenti nafas. Pada perabaan nadi tidak ditemukan a.karotis yang berdenyut.
Bila ditemukan henti jantung maka harus dilakukan masase jantung luar yang merupakan bagian dari resusitasi jantung paru (RJP,CPR). RJP hanya menghasilkan 25-30% dari curah jantung (cardiac output) sehingga oksigen tambahan mutlak diperlukan.

V. RESUSITASI JANTUNG-PARU (RJP)

1. langkah-langkah yang haurs diambil pada sebelum memulai RJP :
( American Heart association)
a. Tentukan tingkat kesadaran (respon penderita) :
Dilakukan dengan menggoyang penderita, bila penderita menjawab, maka ABC dalam keadaan baik.
b. panggil bantuan
bila petugas sendiri, maka jangan mulai RJP sebelum memanggil bantuan,
c. Posisi Penderita
Penderita harus dalam keadaan terlentang, bila dalam keadaan telungkup penderita di balikkan.
d. Periksa pernafasan
Periksa dengan inspeksi, palpasi dan aiskultasi. Pemeriksan ini paling lama 3-5 detik.
Bila penderita bernafas penderita tidak memerlukan RJP
e. Berikan pernafasan buatan 2 kali.
Bila pernafasan buatan pertama tidak berhasil, maka posisi kepala diperbaiki atau mulut lebih dibuka. Bila pernafasan buatan kedua tidak berhasil (karena resistensi/tahanan yang kuat), maka airway harus dibersihkan dari obstruksi ( heimlich manouvre, finger sweep)
f. Periksa pulsasi a, karotis (5-10 detik)
Bila ada pulsasi, dan penderita bernafas, dapat berhenti
Bila ada pulsasi dan penderita tidak bernafas diteruskan nafas buatan
Bila tidak ada pulsasi dilakukan RJP

2. Tehnik Resusitasi jantung paru (Cardiopulmonary Resusitation)
RJP dapat dilakukan oleh 1 atau 2 orang.
a. posisi penderita
penderita dalam keadaan terlentang pada dasar yang keras (lantai, backboard,short spine board).
b. posisi petugas
posisi petugas berada setinggi bahu penderita bila akan melakukan RJP 1 orang, bila penderita dilantai, petugas berlutut seinggi bahu, disisi kanan penderita. Posisi paling ideal sebenernya adalah dengan ‘menunggangi’ penderita, namun sering dapat diterima oleh keluarga penderita.
c. tempat kompresi
Tepatnya 2 inci diatas prosesus xifoideus pada tengah sternum.
Jari-jari kedua tangan dapat dirangkum, namun tidak boleh menyinggung dada penderita.
Pada bayi tekanan dilakukan dengan 2 atau 3 jari, pada garis yang menghubungkan kedua putting susu
d. Kompresi
Dilakukan dengan meluruskan siku, beban pada bahu, bukan pada siku.
Kompresi dilakukan sedalam 3-5 cm. cara lain untuk memeriksa pulsasi a, karotis yang seharusnya ada pada setiap kompresi.
e. Perbandingan Kompresi-Ventilasi
Pada dewasa (2 dan 1 petugas) 15 : 2 anak, maupun bayi, perbandingan kompresi-ventilasi adalah 5:1, ini akan menghasilkan kurang lebih 12 kali ventilasi setiap menitnya, pada dewasa dalam satu menit dilakukan 4 siklus.
f. Memeriksa pulsasi dan pernafasan
Pada RJP 1 orang, pemeriksaan dilakukan setiap 4 siklus (setiap 1 menit).
Pada RJP 2 orang, petugas yang melakukan ventilasi dapat sekaligus pemeriksaan pulsasi karotis, setiap beberapa menit dapat dihentikan RJP untuk memeriksa apakah denyut jantung sudah kembali.
Tanda-tanda keberhasilan tehnik RJP :
Nadi karotis mulai berdenyut, pernafasan mulai spontan, kulit yang tadinya berwarna keabu-abuan mulai menjadi merah. Bila denyut karotis sudah timbul teratur, maka kompresi dapat di hentikan tetapi pernafasan buatan tetap diteruskan sampai timbul nafas spontan.
g. Menghentikan RJP
Bila RJP dilakukan dengan efektif, kematian biologis akan tertunda.
RJP harus dihentikan tergantung pada :
- lamanya kematian klinis
- prognosis penderita (ditinjau dari penyebab henti jantung)
- penyebab henti jantung (pada henti jantung karena minimal listrik 1 jam)
sebaiknya keputusan menghentikan RJP diserahkan kepada dokter.
h. Komplikasi RJP
- Patah tulang iga, sering terjadi terutama pada orang tua. RJP tetap diteruskan walaupun terasa ada tulang yang patah. Patah tulang iga mungkin terjadi bila posisi tangan salah
- Perdarahan pada perut, disebabkan karena robekan hati atau limpa.
-
SKEMA TINDAKAN RESUSITASI

III. MENGHENTIKAN PERDARAHAN

Cara :
1. Menekan dengan jari tangan
2. Penekanan dengan kain bersih/sapu tangan pada luka
3. Balut tekan
4. Torniket- hanya dalam keadaan tertentu
5. Menekan dengan jari tangan
Pembuluh darah yang terdekat dengan permukaan kulit ditekan dengan jari. Dengan menekan pembuluh darah anatara jari dan tulang, maka pembuluh darah akan berhenti.
Pada satu sisi manusia terdapat 6 titik pembuluh darah yang dapat ditekan dengan jari : Arteri temporalis Superficialis, Arteri Subclavia, Arteri Femoralis, Arteri Femoralis, Arteri Fasialis, Arteri Carotis Kommunis, Arteri Brachialis
6. Penekanan dengan kain bersih/sapu tangan pada luka
i. Sapu tangan yang sudah disterilkan dan belum dipakai lipatan bagian dalam dianggap bersih
ii. Letakkan bagian yang bersih tersebut langsung diatas luka dan tekanlah
iii. Perdarahan dapat berhenti dan pencemaran oleh kuman-kuman dapat dihindarkan
7. Balut tekan
8. Torniket
Pemasangan toniket hanya pada keadaan tertentu, yaitu apabila anggota badan atas (lengan) atau anggota badan bawah (kaki) terputus :
- tutup ujung tungkai yang putus dengan kain yang bersih
- bagian yang putus dimasukkan kekantong plastik yang berisi es salanjutnya dibawa bersama-sama korban ke rumah sakit

SYOK / SHOCK

Tanda-tandanya :
1. Kulit ; pucat, dingin, basah
2. Gelisah
3. Haus
4. Hitungan denyut nadi lebih dari 100 kali permenit
5. Nafas cepat
6. Orang-orangan mata (pupil) melebar
Tindakan :
v Tidurkan korban terlentang dengan kaki lebih tinggi daripada kepala
v Kendorkan pakaian korban
v Badan ditutupi dengan selimut
v Jangan diberi minum
Letakkan korban terlentang lurus bila ditemukan tanda-tanda kemungkinan patah tulang
Penanganan shock seperti penanganan PPGD dengan tetap mempertimbangkan ABC. Penatalaksanann pasien syock di bahas dalam Advanced Life Support

IV. BALUT-BIDAI

BALUT
Tujuan : Mencengah / menghindari terjadinya pencemaran kuman kedalam suatu luka
Alat : kain Segitiga, Perban, Balut Cepat, balut bertekanan/tensocrep
BIDAI
Alat yang dipakai untuk mempertahankan kedudukan (fiksasi) tulang yang patah.
Tujuan : Mencegah pergerakan tulang yang patah.
Sarat : Bidai harus dapat mempertahankan dua sendi tulang didepan tulang yang patah
Tidak boleh terlalu kencang dan ketat, karena akan merusak jaringan tubuh.
Alat :
v Anggota badan sendiri
v Papan, bambu, dahan
v Karton, majalah, kain
v Bantal,guling, selimut
v “air splint”
v “vakum matras”

V. TRANSPOTASI

Adalah proses memindahkan kasus gawat darurat dari satu tempat ketempat lain.
Syarat : Keadaannya stabil, Jalan nafas dijamin terbuka/bebas, Monitor (pengawasan
ketat) dari Nadi dan Pernafasan.
Alat :
1. Tenaga Manusia : Satu orang, dua orang, tiga orang, empat orang
2. Tandu kasur : Kasur, papan, dahan/bambu, matras
3. Kendaraan : Darat, laut, udara

Satu orang ; terutama untuk anggota pemadam kebakaran kalau menolong korban yang tidak sadar didalam gedung yang terbakar atau yang melewati jalan / lorong sempit. Catatan: Cara seperti ini tidak boleh dilakukan pada penderita yang mengalami patah tulang punggung.
Dua orang ; kedua tangan korban pada bahu penolong yang berdiri di kanan dan dikiri, posisi setengah duduk pada keempat tangan penolong dapat juga menggunakan kursi.
Tiga orang ; tiga penolong saling berhadapan dan berpegangan tangan dibawah si korban
Empat orang ; empat penolong saling berhadapan dan berpegangan tangan dibawah si korban
Enam orang ; cara mengangkat korban dengan menggunakan kain sprei, terutama kalau ada kecurigaan adanya patah tulang punggung.

Semoga bermanfaat
Amsi Rahmanta
pendakilemot@yahoo.co.id
www.amsiku.multiply.com

Tags: basic life support

2 comments share

ReviewReviewReview

TINJAUAN PUSTAKA BAKTERI PEMBENTUK ES

Dec 4, ‘06 7:31 AM
for everyone

Category:

Other

Bakteri dan Filosfer

Bakteri adalah mikrooganisme prokariot bersel tunggal yang hanya dapat dilihat morfologinya dengan bantuan mikroskop. Berdasarkan penampakan morfologinya, bakteri dikelompokkan ke dalam bentuk ; batang (bacillus), koma (vibrio), per (spiral) (Bergey’s Manual 1994). Niche ekologinya sangat luas hampir bisa diketemukan di lingkungan manapun termasuk ; air, tanah, aerob-anaerob, air mendidih, kawah gunung berapi, dasar laut, dan bahkan dalam tubuh kita (Suwanto 1995). Bakteri ini telah ada jauh sebelum manusia ada, kurang lebih 3,5 milyar tahun yang lalu (Brock et al 2000).

Proses evolusi selama rentang waktu yang panjang tersebut membuat tingginya keragaman bakteri sehingga yang bisa diketahui orang pada saat ini tidak lebih dari 5%-nya (Suwanto 1995). Selebihnya belum diketahui oleh orang bnanyak termasuk opara ahli karena sebagian bakteri bersifat ada namun tidak bisa dikulturkan di labolatorium (viable but non culturable).

Keragaman bakteri bisa dilihat dari berbagai sudut pandang seperti ; morfologi, fisiologi, dan genetik. Tiap-tiap habitat yang berbeda menberikan keragaman yang berbeda pula. Contoh habitat yang sering dihuni oleh bakteri adalah daun. Tiap tanaman mempunyai daun yang berbeda, baik dari segi bentuk, ukuran, maupun eksudat yang dikeluarkannya. Perbedaan tersebut menyebabkan bakteri yang menghuninya jugha berbeda, walaupun pada tanaman tertentu ditemukan populasi bakteri yang sama.

Populasi bakteri yang menghuni permukaan daun disebut dengan filoplen (phyllo = daun, plane = permukaan). Sedangkan yang menghuni sekitar permukaan daun disebut filosfer (phyllo = daun, phere=sekitar, ruang). Pemakaian filosfer lebih disukai karena cakupannya lebuh luas.

Bakteri yang mendiami permukaaan daun sangat bervariasi sesuai dengan jenis tanamannya oleh karena setiap tanaman menghasilkan eksudat tertentu yang sesuai dengan bakteri tertentu. Variasi tanaman dari dataran rendah ke dataran tinggi menyebabkan variasi bakteri yang hidup pada permukaan daunnya. Dari bakteri-bakteri yang menghuni permukaan daun salah satu diantaranya adalah bakteri pembentuk inti kristal es yang meliputi lima galur bakteri, yaitu ; Pseudomonas syringae, Pseudomonas viridiflava, Pseudomonas fluoresces, Erwinia herbicola, dan Xantomonas campestris pv translucens. Kelima spesies ini mampu mengkatalisis C, bahkan ada yang dapat membentuk°pembentukan es pada suhu di atas -10 C. Kehadiran spesies-spesies ini pada permuka°es pada suhu –1,5an tanaman (daun) dapat menyebabkan terjadinya luka beku (frost injury) C. pembentukan inti es oleh bakteri ini°pada temperatur di atas suhu –5 di habitat alaminya merupakan fenomena yang menarik.

Ekologi Bakteri Pembentuk Kristal Es

Kebanyakan bakteri pembentuk kristal es adalah bakteri filosfer. Kristal es yang dibentuk merupakan fenomena yang menarik. Fungsi dari kristal es itu sendiri masih menjadi pertanyaan dari peneliti.

Total permukaan daun yang dihuni oleh bakteri mencapai 0,1-1%, dan dari total tersebut lebih dari 90% mati karenadesinfektan topikal atau UV. Di samping harus bertahan terhadap radiasi UV, bakteri juga harus dapt bertahan dari keadaan yang berubah-ubah dengan cepat. Bakteri filosfer secara langsung terekpos dengan lingkungan, dimana angin, hujan, perubahan suhu, dan pemangsa bisa setiap saat membunuhnya. Di satu sisi bakteri filosfer juga harus berkompetisi dengan bakteri lainnya untuk mendapatkan nutrien yang serba terbatas pada permukaan daun. Bakteri yang punya kesamaan genotig (punya kesamaan habitat ekologi yang sama) akan berkompetisi langsung pada sumber daya yang terbatas ketimbang dengan bakteri yang lain. Untuk dapat tetap “survive” dari kondisi seperti di atas, bakteri filosfer pembentuk kristal es harus mempunyai mekanisme yang unik, salah satunya dengan pembentukan protein kristal es.

Adanya protein kristal es memungkinkan bakteri untuk mematikan tanaman inangnya. Sel-sel dan jaringan tanaman yang mati akibat luka beku menjadi bocor atau rusak sehingga mudah diuraikan dan digunakan untuk nutrisi bakteri. Hipotesa ini memberikan konotasi negatif bagi bakteri pembentuk kristal es karena bersifat parasit.

Kedua, bakteri-bakteri yang hidup pada permukaan daun dihadapkan pada situasi yang berubah-ubah dengan cepat,. Pada siang hari yang panas banyak dari bakteri-bakteri tersebut diterbangkan angin sampai ketinggian tertentu sehingga sinar ultraviolet dan radiasi lainnya mudah membunuh bakteri-bakteri yang sedang betyerbangan.

Meskipun demikian bakteri-bakteri yang mampu membentuk tristal es akan jatuh kembali ke permukaan tanah atau daun-daun yang merupakan habitat alaminya. Dalm hal ini bakteri pembentuk kristal es secara tidak langsung juga ikut berperan memelihara iklim kikro disekitar tanaman-tanaman inangnya.

Hipotesa yang kedua ini sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut karena implikasinya sangat luar biasa : iklim mikro dapat dipengaruhi oleh komposisi, distribusi, dan jumlah bakteri pembentuk kristal es yang hidup di lingkungan tersebut. Belbagai bahan kimia dapat menjadi inti pembentukan inti kristal es pada tempetatur –10 C atau lebih rendah, tetapi jarang sekali yang dapat membentuk intik tristal pada temperatur yang lebuih hangat (yaitu –2Csampai –5C).

Meskipun aktifitas nukleasi es nampaknya hanya terbatas pada spesies-spesies bakteri gram negatif tersebut, tetapi karena penyebarannya luas dan jumlahnya yang banyak di belbagai habitat alam maka nukleasi es oleh bakteri menjadi fenomena alam yang umum.

Inti kristal es buatan bakteri merupakan protein unik yang dihamparkan pada membran luar sel bakteri pembentuknya. Protein tersebut disandikan oleh suatu gen tunggal yang disebut gen ice atau INA (ice necleation activity). Efektifitas protein pembentuk kristal es ditentukan oleh penataannya dipermukaan membran serta tingkat agregasinyua. Oleh karena itu aktifitas protein kristal es ini sangat dipengaruhi oleh temperatur. Aktifitas nukleasi es pada sel bakteri yang mati atau bangkai bakteri kurang lebuih sama dengan sel bakteri hidup. Informasi ini sangat penting untuk pemanfaatannya di tempat terbuka, seperti dalam proses hujan buatan.

Protein pembentuk kristal es yang merupakan produk dari gen ice atau INA telah dimanfaatkan untuk menbuat salju buatan dan sudah d\ikomersilakan di amerika Serikat dengan merk dagang SNOWMAX. Produk ini memungkinkan terbentuknya salju pada kondisi temperatur udara yang lebih hangat daripada seharusnya.

Selain itukarena banyaknya dan tingginya aktifuitas inti es yang ditebar maka salju yang dihasilkan berupa serbuk halus yang berkualitas tinggi untuk olah raga ski di daerah yang cukup dingin tetapi miskin salju.

Inti kristal es asal bakteri juga mulai dilirik kemungkinan pemakaiannya dalam makanan beku (frozen foods). Kelembutan tekstur es krim sangat ditentukan oleh ukuran kristal es yang terbentuk meskipun berbagai bahan kimia tambahan dapat membentuk tekstur yang diinginkan pada es krim. Adanya inti kristal yang dapat diatur jumlahnya akan sangat membantu dalam membentuk es krim atau produk sejenis dengan kpomposisi lebih sederhana.

EKOLOGI BAKTERI

Fungsi kristal es pada bakteri pembentuknya masih merupakan tanda tanya bagi para ahli selama ini. Hipotesa yang banyak diungkapkan oleh para ahli diantaranya adalah ; pertama, adanya protein kristal es memungkinkan bakteri untuk mematikan tanaman inangnya. Sel-sel dan jaringan tanaman yang mati akibat luka beku menjadi bocor atau rusak sehingga mudah diuraikan dan digunakan untuk nutreisi bakteri. Hipotesa ini membetikan konotasi negatif bagi bakteri pembentuk kristal es karena bersifat parasit. Kedua, bakteri-bakteri yang hidup pada permukaan daun dihadapkan pada situasi yang berubah-ubah dengan cepat,. Pada siang hari yang panas banyak dari bakteri-bakteri tersebut diterbangkan angin sampai ketinggian tertentu sehingga sinar ultraviolet dan radiasi lainnya mudah membunuh bakteri-bakteri yang sedang betyerbangan.

Meskipun demikian bakteri-bakteri yang mampu membentuk tristal es akan jatuh kembali ke permukaan tanah atau daun-daun yang merupakan habitat alaminya. Dalm hal ini bakteri pembentuk kristal es secara tidak langsung juga ikut berperan memelihara iklim kikro disekitar tanaman-tanaman inangnya.

Hipotesa yang kedua ini sangat menarik untuk dikaji lebih lanjut karena implikasinya sangat luar biasa : iklim mikro dapat dipengaruhi oleh komposisi, distribusi, dan jumlah bakteri pembentuk kristal es yang hidup di lingkungan tewrsebut.

Seandainya ditemukan bakteri pembentuk kristal es dari bumi Indonesia yang beriklim tropis ini maka diharapkan adanya protein ice atau INA yang mampu membentuk krisal es pada temperatur yang lebih hangat. Sel bakteri semacam ini sangat ideal untuk dipakai sebagai bahan pembentuk inti kondensasi. Hujan yang terbentuk tidak akan membawa garam dapur tetapi membawa bangkai bakteri yang akan menjadi pupuk organik.

Usaha-usaha pertania pada masa memdatang alan lebih menuntut perlakuan yang ramah terhadap lingkungan dan menjamin sistem pertanian berkelanjutan. Dalam kaitan ini anmpaknuya juga diperluikan telaah yang baik untuk mengerti perubahan iklim mikro, baik dari aspek fisika, kimia, dan biologi.

Pengetahuan yang rinci mengenai ekologi bakteri permukaan daun dan bakteri pembentuk inti ktristal es khususnya akan menjadi masukan yang sangat baik. Itu tidak hanya untuk pemakaian praktisnya, tapi juga penghargaan pada potensi dan peranan bakteri dalam melangsungkan keharmonisan hidup di bumi ini.

0 comments share

ReviewReviewReview

SIMBIOSIS YANG LUAR BIASA

Dec 4, ‘06 7:28 AM
for everyone

Category:

Other

Lingkungan hidup bakteri di alam sangat bervariasi, di air, tanah, air panas, bahan organik, permukaan tubuh makluk hidup, dan bahkan dalam tubuh makluk hidup. Dalam lingkungan tersebut mikrooganiosme salaing berinteraksi, dan bentuk interaksinya sangat bervariasi dan beragam. Interaksi tersebut membentuk komunitas yang didalamnya berlangsung serangkaian reaksi dalam proses tranfer energi.

Salah satu interaksi yang terjadi adalah Spirochaeta dengan protozoa yang hidup dalam usus rayap. Rayap merupakan serangga yang makanannya berupa kayu yang mengandung sellulosa, hemisellulosa, dan lignin. Bahan tersebut tidak dapat dirombak oleh rayap karena ketiadaan enzim hidrolitik. Adanya protozoa (misalnya Trichomonas termopsidis, flagellata yang hidup pada caecum rayap) komponen kayu tersebut dapat dihidrolisis menjadi monomer yang dapat digunakan oleh rayap. Sebaliknya bagi protozoa tersebut bisa mendapatkan ruang dan sumber C dari rayap.

Protozoa yang menghuni usus rayap tidaklah bekerja sendirian tetapi melakukan simbiosis mutualisme dengan sekelompok bakteri. Flagella yang dimiliki oleh protozoa tersebut ternyata adalah sederetan sel bakteri yang tertata dengan baik sehingga mirip flagella pada protozoa umumnya. Bakteri yang menyusun flagella memberikan motilitas pada protozoa untuk mendekati sumber makanan, sedangkan ia sendiri menerima nutrien dari protozoa. Contoh genus bakteri ini adalah Spirochaeta.

Beberapa bakteri yang menghuni usus rayap juga diketahui dapat menghasilkan factor tumbuh berupa vitamin B yang dapat digunakan oleh rayap, seperti spesies Enterobacter agglomerans, mampu melakukan fiksasi nitrogen (Atlas % Bartha 1998). Beberapa metanogen juga ditemukan sebagai endosimbion pada beberapa protozoa pada serangga.

0 comments share

ReviewReviewReviewReview

EVOLUSI ADALAH NYATA

Dec 4, ‘06 7:26 AM
for everyone

Category:

Other

Tulisan ini merupakan tugas mata kuliah Biologi dan Biodiversitas Prokariot yang saya tulis pada tahun 2001.

Selama hidup, kita mendapati bahwa organisme yang bernyawa selalu mereproduksi dirinya sendiri. Gajah selalu mereproduksi gajah, burung gereja selalu mereproduksi burung gereja, mangga selalu menghasilkan mangga ; gajah tidak pernah mereproduksi burung gereja dan juga tidak pernah menghasilkan mangga. Ini adalah fakta yang tidak dapat dibantah oleh akal sehat dan sejarah sekalipun. Namun tidak jarang kita mendapati organisme berbeda yang sebelumnya belum pernah ada. Dalam hal ini “evolusi” adalah kata yang paling ampuh untuk menjelaskan fakta baru tersebut. Tapi apakah hal ini benar menurut ilmu pengetahuan ?
Permasalahan pertama dalam evolusi adalah apakah evolusi sendiri itu benar. Perdebatan mengenai permasalah klasik ini tidak akan pernah selesai untuk dibicarakan. Seperti kita membicarakan duluan mana antara ayam dan telur. Orang tidak mengetahui secara pasti apakah ayam yang lebih dulu ada ataukah telur. Begitu juga dengan evolusi. Di satu sisi kelompok “kreasionisme” mengganggap bahwa teori evolusi yang ada selama ini adalah kebohongan belaka (atau lebih tepatnya menyesatkan). Sementara di sisi lain kelompok “evolusionis” mengganggap bahwa hal itu adalah prinsip yang “urgent” sehingga perlu dikembangan lebih lanjut dalam skala ilmu pengetahuan yang lebih luas.

Dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang sangat pesat, terutama bidang biologi molekuler, konsep evolusi yang oleh Darwin dikatakan sebagai agen perubahan yang memunculkan banyak bentuk kehidupan seperti sekarang telah berkembang menjadi banyak teori evolusi, seperti evolusi manusia, kimia, sistem ekologi, perilaku, kebudayaan, penciptaan alam semesta, dan evolusi-evolusi lainnya.

Di antara peneliti yang mengembangkan konsep evolusi Darwin tersebut adalah Mojzsis, seorang ilmuwan yang mengenalkan bentuk awal kehidupan. Sampai dengan pertengahan pertama abad 20, ilmuwan percaya bahwa tidak ada kehidupan di bumi. Dengan teknik radio-isotop Majzsis menemukan fosil stromatolit yang diidentifikasi berumur lebih dari 3,85 milyar tahun yang. Peneliti lain yang dipelopori oleh Haldane (1932), Oparin (1938), dan Deckerson (1978) berhasil mencetuskan konsep evolusi kimiawi yang kemudian menjadi dasar pemikiran mengenai asal muasal kehidupan. Peneliti lain seperti Stainley L. Miller dan Harold C. Urey (1950) serta Sydney W. Fox menguji kebenaran teori Haldane dan koleganya yang akhirnya mendukung dan memberikan bukti kuat lainnya yang belum disebutkan sebelumnya mengenai Progenotes atau Protobion. Akhirnya perubahan besar disampaikan oleh Woose dkk (1990) dan Pace (1997) mengenai analisis 16s rRNA yang dapat digunakan untuk melacak asal usul dan kekerabatan makluk hidup.

Kalau kita mau jujur, dari serangkain penelitian di atas, saat ini kita mengetahui banyak hal mengenai kehidupan yang selama ini terselubung, seperti endosimbion, bentuk kehidupan ekstrim, fisiologis sel, protein dsb. Lebih jauh, kita juga bisa menerangkan mekanisme seleksi, mutasi, resistensi, dan variasi yang semua itu adalah bagian dari evolusi sepanjang rentang sejarah kehidupan. Aplikasi dari penemuan derivat yang di-inisiasi oleh pengetahuan di atas, saat ini kita bisa mendapatkan banyak produk seperti enzim termostabil, rekayasa genetika, pengendalian hama dan penyakit, penanganan senyawa pollutan non degradable, bidang medis, dan masih banyak lagi yang notabenenya bermanfaat bagi hajat hidup orang banyak.

Dengan demikian kita sepakat bahwa teori evolusi adalah satu-satunya teori yang telah menyusup ke segenap aspek ilmu pengetahuan. Konsepnya sendiri yang mengandung implikasi bahwa dunia ini tidaklah statis tetapi berubah secara dinamis dan spesies kita adalah produk dari proses evolusi, tak terelakkan lagi telah mengubah pandangan dan pemahaman manusia tentang alam, dan tentang eksistensi dirinya sendiri. Karenanya evolusi kemudian menjadi sangat mudah diadopsi untuk dijadikan terminologi bagi banyak cabang ilmu pengetahuan.

Manusia baik secara individual ataupun kelompok adalah makluk yang memiliki kepribadian, keyakinan, keinginan, ambisi, serta kepentingan yang bersifat material ataupun filosofis-idiologis. Oleh karena itu manusia tidak akan pernah bisa melepaskan dirinya seratus persen dari elemen subyektifitas. Inilah yang melatarbelakangi banyaknya interpretasi tentang evolusi. Harun Yahya misalnya, seorang tokoh kreasionis modern telah memberikan perubahan pandangan dalam memahami evolusi. Ia membantah teori evolusi dengan pendekatan ilmiah, yang oleh generasi kreasionisme sebelumnya belum bisa diterangkan. Buku barunya yang berjudul “The Evolution Deceit” mengungkapkan banyak hal mengenai kebuntuan teori evolusi, baik evolusi molekuler, evolusi manusia, maupun teori evolusi yang lain. Dengan sangat mudahnya tokoh bernama Harun Yahya ini dalam sekejab “memangkas” ilmu pengetahuan yang diperoleh melalui proses yang panjang. Lantas apakah ini musibah bagi ilmu pengetahuan ? Atau apakah ilmu pengetahuan telah mengalami “chaos” ?
Apa yang dikatakan oleh Harun Yahya pada dasarnya adalah perbedaan. Dalam komunitas masyarakat, apalagi masyarakat ilmiah, perbedaan adalah hal wajar seandainya diletakkan pada nilai obyektivitas ilmu pengetahuan. Sementara jika perbedaan diletakkan pada nilai-nilai dogmatis, maka yang ada adalah emosi membabi buta yang akhirnya justru akan merugikan ilmu pengetahuan itu sendiri. Ilmu pengetahuan berkembang karena keinginan orang untuk mencari tahu atau karena keberaniannya mempertanyakan sesuatu yang dianggap aneh. Dan ilmuwan sendiri bisa menghasilkan penemuan yang bermanfaat karena bisa mengalahkan keterbatasan dan mengekpresikan pikiran tanpa terbatasi oleh dogma-dogma yang belum tentu jelas.

Dalam memahami ilmu pengetahuan, prinsip Uniformitarianisme sangat diperlukan. Uniformitarianisme semata-mata menyatakan suatu proses yang kita lihat bekerja untuk jangka waktu singkat dapat berlaku lebih lama agar berakibat lebih besar secara proporsional. Meski dapat di uji, ia tidak benar-benar merupakan prinsip empiris : prinsip ini seharusnya lebih dipercaya karena kekuatan logisnya. Dengan prinsip inilah kita memperluas teori yang telah uji pada skala kecil untuk memperluas pengamatan pada skala yang lebih besar. Gravitasi, misalnya diajukan oleh Newton dari ‘kerja’ skala kecil mengenai gerakan benda-benda. Tak seorang pun mengetahui dan pernah secara langsung menguji bahwa bintang-bintang saling menarik satu sama lain seperti halnya apel ditarik ke bumi. Kita percaya uniformitarianisme, apabila uniformitarianisme ini kita tolak, semua ilmu pengetahuan menjadi mustahil. Apalagi belajar mengenai evolusi yang terpaut dengan ruang dan waktu.

Pendapat yang dikemukakan oleh Harun Yahya pada dasarnya adalah kekhawatiran munculnya paham materialisme modern berkedok ilmiah yang sebenarnya tidak beralasan. Jika pendekatan agama yang digunakan, maka alasan yang diambil pun kurang tepat, karena agama manapun tidak melarang umatnya untuk bertanya dan memahami kehidupan. Agama justru menyuruh umatnya untuk terus belajar dari fenomena alam yang ada, karena dari alam fakta itu ada. Pembelajaran proses kehidupan (seperti evolusi misalnya) tidak akan membawa orang pada penganut materialisme buta, malah semakin orang mendalami, semakin sadar ia akan kekuasaan Tuhan. Seandainya kita skeptis terhadap permasalahan evolusi, belum tentu saat ini kita bisa menyingkap banyak rahasia tentang kehidupan. Lebih jauh kita mungkin hanya akan menjadi makluk egois terhadap makluk hidup lainnya yang sama-sama diciptakan Tuhan. Akankah kita mengorbankan sesuatu yang essensial dalam hidup kita hanya karena dogma ?


0 comments share

ReviewReviewReview

PENGELOLAAN WISATA ALAM DI TN. GEDE PANGRANGO

Dec 4, ‘06 7:21 AM
for everyone

Category:

Other

Tulisan ini merupakan salah satu laporan Praktek Lapangan yang saya susun sewaktu masih kuliah dan aktif sebagai volunteer di TN.Gede Pangrango

Pengelolaan Taman Nasional secara umum ditekankan pada program konservasi lingkungan, yaitu untuk penelitian (study it), pemanfaatan (use it), dan kelestarian (save it). Strategi pemanfaatan (use it) menjadi dasar dari pengembangan wisata alam.

Sebagai suatu aktivitas wisata yang memanfaatkan sumberdaya alam sebagai obyek wisata, keberhasilan wisata alam sangat ditentukan oleh pengelolaan yang profesional. Pengelolaan wisata alam di TNGP dilaksanakan dengan tetap mengacu pada fungsi pokok Taman Nasional, yaitu perlindungan sistem penyangga kehidupan, pengawetan keanekaragaman jenis tumbuhan dan satwa, serta pemanfaatan sumberdaya hayati beserta ekosistemnya.

Secara garis besar, pengelolaan wisata alam di Taman Nasional gede Pangrango meliputi beberapa kegiatan, yaitu :

Penataan Ruang

Penataan ruang di TNGP disesuaikan dengan fungsi ruangnya berdasarkan sistem zonasi. Kegiatan wisata alam dilakukan pada zona pemanfaatan dan terbatas pada zona rimba

Pengelolaan Sarana dan Prasarana

Meningkatnya arus pengunjung taman wisata akan meningkat pula tuntutan mereka terhadap pertambahan baik jumlah maupun ragam serta bentuk sarana dan prasarana yang mereka butuhkan (Ditjend PPA, 1979).

Fasilitas/sarana dan prasarana yang terdapat di TNGP meliputi pondok pemandangan, pos jaga, pos peristirahatan, shelter, MCK, papan penunjuk jalur, papan larangan, papan interpretasi, information centre, dan jalur trail wisata.

Pengelolaan sarana dan prasaran menjadi sangat penting karena merupakan parameter keberhasilan pengelolaan secara umum, disamping pengelolaan faktor-faktor lainnya. Kegiatan ini terdiri dari inventarisir, penataan, pengadaan, pemeliharaan, dan perbaikan. Fasilitas yang menjadi prioritas utama untuk diadakan, diperbanyak, dan direhabilitai adalah fasilitas umum yang bersifat vital seperti MCK. Rencananya MCK akan ditambah jumlahnya, khususnya di tempat-tempat yang banyak pengunjung seperti di Puncak Gede, atau di Alun-Alun Suryakencana. Pembangunan fasilitas MCK ini diusahakan menggunakan bahan bangunan yang tahan lama dan tidak mudah untuk di-vandalisme, seperti batu kali.

Dari data lapangan pemeliharaan fasilitas yang ada kurang baik, sebagian besar fasilitas kondisinya rusak dan tidak terawat dengan baik. Penyebab utama kerusakan fasilitas adalah karena faktor iklim/cuaca dan ulah pengunjung (vandalisme). Hanya fasilitas yang terdapat di kantor dan tempat-tempat yang ada petugas yang kelihatan terawat, seperti di pusat reservasi Wisma Cinta Alam dan pintu masuk Resort Cibodas.

Pengelolaan Informasi

Informasi merupakan salah satu faktor penting yang harus diperhatikan karena berkaitan dengan permintaan rekreasi. Pengelolaan informasi mempunyai dua sasaran, yaitu informasi kepada pengunjung (actual demand) dan informasi kepada masyarakat (potensial demand).

a.Informasi kepada pengunjung

Informasi kepada pengunjung bertujuan untuk mengenalkan potensi atau sumberdaya rekreasi sekaligus peraturan-peraturan yang berlaku di tempat ini agar kegiatan yang dilakukan pengunjung tidak menyebabkan kerusakan sumberdaya alam dan kecelakaan diri sendiri. Informasi ini sudah tersedia secara lengkap di pusat reservasi Wisma Cinta Alam Cibodas dan pintu masuk Resort Cibodas.

Penyampaian informasi ke pengunjung di tempuh melalui pemutaran slide dan kaset mengenai Taman Nasional, penyuluhan sewaktu mengurus perizinan, pencantuman ketentuan dan larangan selama berada di dalam kawasan, dan pembagian brosur/peta secara cuma-cuma.

Informasi mengenai peraturan sudah cukup memadai, tetapi mengenai jenis-jenis vegetasi dan satwa (terutama di sepanjang jalur trail) masih terasa sangat kurang. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan memberikan papan nama pada jenis-jenis tumbuhan tertentu yang dianggap penting yang mencakup nama jenis dan ciri-cirinya.

Aspek lain yang perlu mendapat perhatian adalah penyediaan petugas pemandu yang berkualitas. Petugas pemandu ini diharapkan dapat memberikan informasi yang lebih lengkap mengenai sumberdaya di sepanjang trail yang dilalui pengunjung, sehingga selain berekreasi, pengunjung juga memperoleh tambahan informasi mengenai kekayaan flora dan fauna yang ada di Taman Nasional.

b.Informasi kepada masyarakat

Sebagai barang publik yang nantinya akan dikonsumsi oleh masyarakat, wisata alam harus diketahui secara luas. Pemberian informasi kepada masyarakat penting untuk menarik minat masyarakat baik secara perorangan maupun kolektif untuk datang ke Taman Nasional Gede Pangrango. Salah satu cara yang ditempuh adalah promosi melalui surat kabar, televisi, radio, brosur, internet, seminar, serasehan, atau melalui komunikasi langsung kepada masyarakat.

Pengelolaan informasi juga dilaksanakan dengan pemberian informasi kepada pihak yang ikut andil dalam mencemari lingkungan baik secara langsung atau tidak langsung. Informasi seperti ini biasanya diberikan kepada perusahaan yang sampah hasil produksinya banyak dijumpai mencemari kawasan, seperti perusahaan air minum dan permen. Adannya informasi seperti ini diharapkan perusahaan yang bersangkutan mempunyai kepedulian untuk menjaga lingkungan atau mengganti bahan bakunya yang ramah lingkungan.

Pengelolaan Pengunjung

Kegiatan pengelolaan pengunjung diberikan untuk memberi pengertian, rasa aman, nyaman dan kelancaran kepada pengunjung dalam menikmati obyek wisata alam. Wujud kegiatan berupa pelayanan (termasuk interpretasi), pengaturan dan pembatasan pengunjung, pembedaan pengunjung berdasarkan motivasi, pengawasan, dan penjualan paket wisata.

Yang dimaksud dengan interpretasi menurut Ditjen PHPA (1988) adalah suatu kegiatan bina cinta alam yang khusus ditujukan kepada pengunjung kawasan konsrvasi alam, yang mana merupakan kombinasi dari enam hal, yaitu pelayanan informasi, pelayanan pemanduan, pendidikan, hiburan, inspirasi, dan promosi.

Selain bertujuan memberikan informasi, pelayanan interpretasi juga bersifat memberikan pendidikan lingkungan bagi para pengunjung. Efektifitas fungsi interpretasi sebagai media pendidikan lingkungan (environment education) bagi pengunjung akan sangat berpengaruh terhadap perilaku pengunjung di dalam kawasan. Interprerasi juga merupakan tindakan antisipatif terhadap pelanggaran, kerusakan sumberdaya alam, dan keselamatan pengunjung.

Pengaturan jumlah pengunjung dilakukan agar daya dukung kawasan tetap terjaga sehingga sumberdaya alam tidak rusak. TNGP telah menerapkan peraturan yang ketat bahwa jumlah pengunjung maksimal 2000 orang per hari. Angka ini berdasarkan penelitian yang dilakukan mahasiswa IPB.

Pembedaan pengunjung juga merupakan salah satu bentuk pengelolaan. Dalam hal ini perlu dibedakan pengunjung dengan minat khusus dan pengunjung dengan minat massal. Pentingnya pembedaan pengunjung untuk memudahkan pelayanan, interpretasi, meminimalkan dampak kerusakan kawasan, dan untuk kepuasan pengunjung sendiri.

Kebutuhan masyarakat akan jenis wisata semakin meningkat, sedangkan
pengelolaannya sendiri juga semakin butuh profesionalisme serta dana yang banyak. Untuk mengatasi permasalahan ini telah dilaksanakan program penjualan paket wisata yang berorientasi profit. Keuntungan yang diperoleh merupakan sumber dana tambahan untuk perbaikan sapras, pengadaan media informasi, bantuan financial kepada sekolah yang berminat untuk mengambil paket tapi kekurangan dana, perbanyakan brosur, dan menambah pemasukan pengelola. Paket wisata yang telah ada adalah paket wisata mina khusus, paket wisata budaya, dan paket wisata pendidikan lingkungan. Paket wisata yang sudah terlaksana adalah paket wisata pendidikan lingkungan, seperti Kemah Konservasi (camp conservation)dan school visit. Kemah Konservasi diperuntukkan untuk anak SMP dan SMA, sedangkan school visit untuk anak TK dan SD.

Pengelolaan Sumberdaya Alam

Nilai estetika suatu kawasan, seperti suasana alam, pemandangan yang indah, keheningan, kicauan burung, gemericik air, suara binatang, akan mudah terusak oleh berbagai macam pembangunan bila pengelolannya tidak dilakukan dengan hati-hati. Untuk itu, pengelola kawasan konservasi harus mengidentifikasi ciri-ciri alam yang mana akan diawetkan dan mengambil tindakan yang memadai untuk melindunginya (Mackinnon, Child dan Thorsell, 1986).

Potensi utama wisata alam di TNGP adalah puncak gunung dengan hamparan Eidelweissnya, air terjun, sumber air panas, kawah gunung berapi, dan keindahan alamnya. Oleh sebab itu usaha pengelolaan ditekankan pada potensi kawasan tersebut dengan tetap mengacu pada fungsi utama. Untuk mengelola potensi kawasan tersebut telah dilakukan alternatif pengelolaan bersifat preventif dan reaktif.

Alternatif pengelolaan bersifat preventif adalah alternatif pengelolaan untuk mencegah tindakan tidak bersifat negatif, merugikan diri sendiri, orang lain, dan lingkungan. Contoh dari pengelolaan seperti ini misalnya interpretasi pengunjung sebelum memasuki kawasan dan pencantuman larangan pada peizinan (Lampiran 5). Alternatif pengelolaan bersifat reaktif dilaksanakan setelah muncul pelanggaran. Dalam hal ini Jagawana dan Polisi yang paling berperan. Sanksi yang diberikan berupa sanksi yang bersifat mendidik (sanksi education) atau sanksi pidana, tergantung besar kecilnya pelanggaran. Tujuan utama diberikannya sanksi adalah menyentuh hati kecil dan menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga lingkungan.

Pengelolaan Sumberdaya Manusia

Keberhasian kegiatan pengelolaan sangat ditentukan oleh sumberdaya manusia yang mengelola. Untuk itu Balai Taman Nasional Gede Pangrango selalu aktif mengadakan kegiatan peningkatan sumberdaya manusia baik kualitas maupun kuantitasnya. Kegiatan dilaksanakan dalam bentuk pelatihan bahasa inggris (training convervasions), sertifikasi guide (dalam rencana), saresehan, studi banding, dan seminar yang melibatkan petugas lapangan, petugas kantor, volunteer, mitra Taman Nasional, dan masyarakat sekitar.

Peningkatkan kegiatan kemitraan wisata alam

Salah satu pengelolaan wisata alam yang dilaksanakan oleh TNGP adalah menjalin kemitraan. Kemitraan wisata alam ini dilaksanakan bekerjasama dengan instansi/organisasi pemerintah, pihak swasta, LSM, dan masyarakat sekitar. Kegiatan kemitraan ini selengkapnya dapat di lihat pada Lampiran 6. Di samping itu, dalam rangka peningkatan peran dan manfaat Taman Nasional di bidang pariwisata maka di bentuk juga konsorsium yang beranggotakan lembaga perguruan tinggi dan lembaga penelitian. Konsorsium ini dinamakan Konsorsium Gede Pahala. Dalam pelaksanaannya konsorsium ini bersifat sebagai lembaga koordinatif, konsultatif, dan pengarah bagi kegiatan yang di rancang konsorsium. Selain itu juga dikembangkan sub konsorsium yang mengelola kegiatan pendidikan konservasi yang terdiri dari TNGP, Coservation International Indonesia Program (CI-IP), dan Yayasan Alami.

Partisipasi masyarakat dalam kegiatan wisata alam di TNGP juga tidak bisa diabaikan. TNGP sangat memerlukan kerjasama untuk banyak masalah yang tidak dapat ditangani sendiri oleh Taman Nasional. Partisipasi masyarakat ini antara lain adanya kelompok guide lokal, kelompok pecinta alam, kader konservasi, dan kelompok pelestari sumberdaya alam.


0 comments share

ReviewReviewReview

DAMPAK KEGIATAN WISATA ALAM DI TN. GEDE PANGRANGO

Dec 4, ‘06 7:15 AM
for everyone

Category:

Other

Tulisan ini merupakan salah satu laporan Praktek Lapangan yang saya susun sewaktu masih kuliah dan aktif sebagai volunteer di TN.Gede Pangrango

Munculnya trend gaya hidup back to nature dalam masyarakat mendorong berkembangnya kegiatan wisata alam saat ini. Pada satu sisi aktifitas ini berdampak positif dalam pemasyarakatan program konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistemnya. Hal ini dibuktikan dengan tingginya minat masyarakat, khususnya kawula muda untuk mengadakan kegiatan wisata alam seperti pendakian, camping di alam bebas, hiking, repling, atau hanya sekedar menikmati keindahan alam.

Namun demikian pada sisi lain trend back to nature masih belum dipahami dan dihayati secara baik dan benar oleh pengunjung. Masih banyak pengunjung yang belum sadar akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan, sehingga membawa dampak pada munculnya berbagai permasalahan seperti sampah di sepanjang jalur pendakian, pencemaran perairan, peningkatan erosi pada jalur pendakian, vandalisme, introduksi spesies non indigenous dan lainnya.

Salah satu faktor yang menyebabkan hal tersebut adalah rendahnya kepedulian dan apresiasi masyarakat akan pentingnya menjaga lingkungan dan kawasan konservasi. Lebih jauh, masyarakat belum memahami arti, fungsi, dan tujuan Taman Nasional sehingga tidak bisa membedakan antara rekreasi di Taman Nasional atau rekreasi di luar Taman Nasional.

Untuk mengetahui seberapa jauh pengaruh kegiatan wisata alam terhadap kelestarian potensi Taman Nasional perlu dilakukan monitoring dampak lingkungan. Salah satu caranya dengan menggunakan metode observasi sepanjang jalur Cibodas-Puncak Gede, sedangkan metode pengambilan sampel untuk analisis labolatorium tidak dilakukan, sehingga analisis yang dilakukan hanya berdasarkan studi literatur.

Berikut ini adalah hasil observasi dampak kegiatan wisata alam sepanjang jalur Cibodas-puncak Gunung Gede :

Pencemaran Sampah Padat

Sampah padat (Landfill) yang umum ditemui adalah plastik, kaleng makanan atau minuman, tabung gas, dan baterei bekas. Sampah padat ini terkonsentrasi pada sepanjang jalur pendakian, tempat camping ground, dan tempat-tampat peristirahatan yang tidak ada petugas, seperti Kandang Badak, Puncak Gede, dan air terjun Cibeureum. Di tempat-tempat ini sampah terkonsentrasi paling banyak dan bercampur dengan sampah organik sisa makanan.

Plastik adalah polimer sintetik yang resisten terhadap bahan kimia dan biodegradasi. Di alam semua senyawa organik alami terdegradasi pada kondisi yang favorable karena ada mikrob yang berkapasitas dalam biodegradasi. Penumpukan plastik sebagai senyawa xenobiotik di TNGP akan sulit terdegradasi karena ketiadaan enzim pengkonversi senyawa tersebut. Untuk dapat terdegradasi, senyawa tersebut harus mampu menginduksi sistesis enzim pendegradasi. Untuk mencapai hal ini mikroba harus berevolusi dalam waktu yang sangat lama. Evolusi biopolimer sangat lambat dan gradual, bahkan sampai jutaan atau milyaran tahun. Hal ini berarti dibutuhkan waktu yang sangat lama untuk mendegradasikan plastik secara sempurna

Ada beberapa jenis polimer plastik yang potensial menjadi biomagnifican, yaitu Polychlorinated Biphenyl (PCB). PCB ini dipakai untuk bahan pembuatan polimer polivinil, yaitu polimer bahan pembuat plastik secara umum. Struktur dari PCB ini mirip dengan DDT, sehingga pengaruh terhadap lingkungan juga mirip dengan DDT (persisten biomagnifikasi). Karena persisten terhadap biomagnifikasi, senyawa xenobiotik rekalsitran ini akan eksis di dalam sel dan konsentrasinya meningkat sebanding dengan tingkatan trofik dalam rantai makanan. Kemudian dengan terjadinya proses makan-memakan dalam rantai makanan, senyawa ini akan terakumulasi lebih lanjut dan menyebabkan kerusakan serius pada organisme karena aktif secara biologis.

Kaleng bekas susu, sarden, corned, minuman kemasan, dan tabung gas adalah landfill yang tersusun oleh logam berat seperti ; Fe, Al, Mg, Mn, Cr, Ag, Ni, Sn, Zn, Pb, Se, dan timah (PPLH-IPB, 1997 dan KPPL DKI Jakarta, 1997). Secara alami logam berat tersebut ada di alam, jadi dalam konsentrasi yang biasa tidak menimbulkan masalah yang serius. Masalah timbul jika konsentrasi di dalam kawasan meningkat oleh aplikasi pengunjung yang membuang landfills tersebut.

Logam berat dimobilisasi oleh bahan asam dan kelat dari produk mikro, kemudian digunakan digunakan sebagai sumber C oleh mikrob pengoksidasi logam berat dalam proses metabolisme energi yang menghasilkan metan. Metan akan terpresipitasi ke tanah sehingga mencemari air tanah, atau terdistribusi keluar dari tempat diaplikasikannya oleh faktor pencucian dan aliran permukaan, atau masuk keperairan dan mencemarinya. Hal ini dapat mengakibatkan ancaman serius terhadap organisme di tempat tersebut.

Logam berat dapat difiksasi dan diserap oleh akar tanaman, atau ditransfer ke tanaman melalui cendawan mikoriza dan hal ini bisa meracuni tumbuhan. Di samping itu logam berat juga bersifat rekalsitran, sehingga mudah terakumulasi dalam lingkungan dan keberadaannya secara alami sulit terurai (PPLH-IPB, 1997 ; Sutamihardja dkk, 1982). Dampak lebih luas berpengaruh pada rantai makanan di dalam ekosistem.

Tidak semua logam berat bersifat toksik bagi organisme dalam kawasan Taman Nasional. Ada beberapa mikroorganisme yang mempunnyai resistensi terhadap logam berat penyusun landfills, atau senyawa xenobiotik seperti plastik. Resistensi ini dapat dipindahkan pada sel-sel lain dalam populasi (Hardy, 1981). Intensitas transfer gen yang tinggi yang dibarengi dengan tingginya pembuangan landfills oleh pengunjung di kawasan Taman Nasional dalam waktu yang lama akan merubah “Gene Pool” dari komunitas kawasan dan berdampak pada keragaman serta kestabilitan jangka panjang (Atlas and Bartha, 1998). Bila Taman Nasional Gede Pangrango membiarkan hal ini, berarti kegiatan konservasi yang selama ini dilakukan sia-sia saja karena belum bisa melakukan konservasi genetik.

Pencemaran perairan

Perairan adalah komponen lingkungan yang paling mudah terkena dampak kegiatan manusia sehingga perlu mendapat perhatian khusus (Sanusi, 1985). Observasi mengenai pencemaran perairan sebagai dampak dari kegiatan wisata alam di TNGP sebatas pada pengamatan tingkat kekeruhan. Pengambilan sampel untuk analisis labolatorium tidak dilakukan. Observasi pada HM 0-HM 26, diperoleh hasil air kelihatan jernih, tapi bukan berarti tidak tercemar. Sementara observasi di Kandang Badak, sumber mata air sangat tercemar karena banyak sampah plastik, sisa makanan, kaleng bekas yang bercampur dengan mata air sehingga air kelihatan kotor dan keruh.

Analisis mengenai pencemaran perairan hanya dijelaskan berdasarkan studi literatur. Lima hal yang menyebabkan pencemaran air di Taman Nasional Gede Pangrango, khususnya Kandang Badak adalah ; buangan sampah ke tanah atau langsung ke perairan, buangan sisa-sisa makanan ke air atau daerah di sekitar sumber air, pemakaian sabun dan odol, tinja manusia dan air seni, serta erosi tanah yang berlebihan.

Air yang tercemar berpengaruh nyata pada penurunan kandungan oksigen terlarut. Salah satu penurunannya akibat adanya populasi mikroba heterotropik yang meningkat karena masuknya bahan pencemar organik seperti sisa makanan dan minuman. Sekali oksigen dalam air habis terpakai untuk dekomposisi aerob, pembersihan diri sendiri menjadi sangat lambat(Atlas and Bartha, 1998).

TNGP adalah daerah tangkapan dan resapan air yang potensial untuk memenuhi kebutuhan makluk hidup. Sungai-sungai yang mengalir di kawasan ini dimanfaatkan sebagai sumber air bagi keperluan rumah tangga, pertanian, dan industri. Sedangkan fungsi utama dari sungai tersebut bagi ekosistem kawasan yaitu sebagai sumber air bagi berbagai jenis satwa dan tumbuhan.

Pencemaran perairan di kawasan ini akanm membawa dampak luas terhadap kebutuhan air bersih, kesehatan, estetika, dan perekononian. Untuk itu perlu diusahakan agar pencemaran seminimal mungkin terjadi. Salah satu cara yang telah dilakukan adalah himbauan kepada pengunjung untuk menitipkan odol, sabun, biore dan sejenisnya yang mengandung deterjen, atau menyita barang-barang tersebut jika ditemukan ada sewaktu cek packing, serta himbauan untuk tidak menbuang sisa makanan ke perairan.

Kerusakan Fasilitas

Fasilitas yang terdapat di sepanjang jalur pendakian kebanyakan mengalami kerusakan yang parah. Kerusakan disebabkan karena vandalisme, faktor usia, dan ulah pengunjung. Vandalisme adalah kegiatan manusia yang merusak, seperti corat-coret pada obyek wisata maupun fasilitas wisata, membuat tulisan pada pohon atau batu. Media yang sering digunakan untuk kegitan fandalisme adalah supidol, cat, arang, pilok, tip-x, dan benda tajam. Vandalisme disebabkan karena sifat anak muda yang ingin diakui esistensinya dan kecenderungan untuk melanggar peraturan atau menyerempet larangan.

Pengaruh kunjungan terhadap tingkat erosi jalur trail

Erosi adalah hilangnya atau terkikisnya tanah atau bagian tanah dari suatu tempat ke tempat lain (Setiadi, 1998). Faktor-faktor yang mempengaruhi erosi adalah ; curah hujan, sifat-sifat tanah, kelerengan, penutupan vegetasi, dan factor manusia. Curah hujan dan kelerengan berbanding lurus dengan tingkat erosi, sementara penutupan vegetasi berbanding terbalik. Faktor manusia bisa mempercepat erosi atau sebaliknya. Sifat tanah yang gembur cenderung untuk tererosi di banding sifat tanah yang liat.

a.Jalur Cibodas-Cibeureum (2600 m)

Keadaan tanah cukup stabil, topografinya tidak terlalu terjal, dan di samping itu keadaan badan jalannya berbatu sehingga memungkinkan tanah untuk tidak terkikis oleh injakan kaki dan aliran permukaan. Di sepanjang jalur ini ditemui adanya sistem parit/drainase sehingga menyebabkan air tidak mengalir melalui trail dan berarti erosi sedikit.

b.Jalur Panyangcangan-Kandang Badak

Kondisi baik dan ditandai dengan badan jalan berbatu sehingga tingkat erosi rendah, tapi lebih tinggi daripada jalur a di atas, karena kemiringan lerengnya lebih curam.

c.Jalur Kandang Badak-Tanjakan Rantai

Kondisi jalan terjal, kemiringan 45o dan sepanjang jalur ini badan jalan tidak ditutupi dengan batu. Erosi yang terjadi lebih tinggi dibandingkan jalur a dan b. hal ini ditunjukkan dengan banyaknya akar yang terekspos ke udara (Gambar 4). Sistem drainase hampir tidak ada. Sehingga jalur pendakian juga merupakan jalur air, atau disebut gully. Di jalur ini juga muncul jalur terobosan yang dibuat oleh pendaki yang memperbesar tingkat erosi.

d.Jalur Tanjakan Rantai-Puncak Gede

Kondisi jalur sangat terjal dengan kelerengan yang sangat curam serta keadaan tanahnya adalah tanah vulkanik yang banyak mengandung pasir dengan tekstur gembur atau lepas. Penutupan vegetasi relatif rendah. Hal ini memicu tingginya tingkat erosi. Tingginya tingkat erosi ditunjukkan dengan banyaknya akar yang terekpos ke udara serta keadaan tanah yang mudah longsor. Injakan kaki terhadap top soil dan pembuatan jalan terobosan oleh ulah pengunjung semakin mempercepat erosi permukaan. Keadaan jalur ini dapat dilihat pada

Introduksi spesies non indigenous

Dampak wisata alam akibat kunjungan yang tak kalah pentingnya untuk mendapatkan perhatian serius adalah introduksi spesies non indigenous (asing) dalam kawasan. Yang di maksud dengan spesies asing (allien) di sini adalah spesies yang secara alami bukan berasal dari suatu daerah dan kehadirannya dapat menimbulkan masalah atau merugikan lingkungan, perimbangan keanekaragaman hayati, kesehatan manusia, atau menimbulkan dampak negatif pada perekonomian kawasan tersebut (Kehati, 2001). Spesies asing tidak selalu harus berasal dari luar indonesia. Tetumbuhan dan hewan yang berasal dari luar pulau atau luar kawasan dapat juga memberikan dampak negatif yang sama.

Dalam UU No.5 Tahun 1990 pasal 33 disebutkan bahwa setiap orang di larang melakukan kegiatan yang dapat mengakibatkan perubahan zona inti Taman Nasional, termasuk menambah jenis tumbuhan dan satwa lain yang tidak asli. Untuk itu keaslian ekosistem Taman Nasional harus benar-benar di jaga. Sekecil apapun introduksi material biologi, termasuk biji-bijian, telur, spora yang dapat mengembangbiakkan spesies dari satu daerah ke daerah lain harus di cegah.

Indikasi mengenai kekhawatiran ini sudah mulai tampak di beberapa tempat di dalam kawasan, seperti munculnya beberapa tanaman asing (jeruk) di sekitar air terjun Cibeureum atau sepanjang jalur pendakian dan kura-kura di Telaga Biru, yang menurut petugas tidak ada sebelumnya.

Sebagai antisipasi preventif untuk mencegah dampak negatif jangka panjang maka sebaiknya taman nasional mencantumkan larangan membawa jenis material biologis masuk ke dalam kawasan, di samping juga memberikan interpretasi pengunjung sebelum memasuki kawaan.


0 comments share

ReviewReviewReview

BAKTERI TERMOFILIK PENGHASIL XILANASE

Dec 4, ‘06 7:06 AM
for everyone

Category:

Other

Dinding sel tanaman mengandung sekitar 40-45% selulosa, 30-35% hemiselulosa, dan 20-23% lignin (Bhat & Hazlewood 2001). Hemiselulosa merupakan biomassa yang disusun oleh xilan, suatu heteropolimer kompleks dengan rantai utama gugus xilosil (ß-1,4-D xilosa) yang biasanya mengandung rantai samping berupa gugus asetil, arabinosil, dan glukuronosil (Biely 1985).

Hidrolisis xilan melibatkan kompleks enzim yang disebut xilanase dan menghasilkan monomer gula sederhana berupa xilooligo-sakarida, xilobiosa, dan xilosa. Produk hidrolisis xilan tersebut merupakan bahan yang dapat digunakan dalam pelapisan tablet dan pemanis buatan rendah kalori (Kulkarni et al. 1999).

Xilanase dapat digunakan dalam proses pembuatan bubur kertas (pulping) dan pemutihan bubur kertas (bleaching) pada industri pulp (Senior et al. 1990, Horikoshi 1996). Penggunaan xilanase bebas selulase pada proses pemutihan bubur kertas bertujuan meng-hilangkan sisa lignin yang masih terdapat dalam pulp sehingga dihasilkan kertas berkualitas tinggi. Proses pemutihan bubur kertas dengan menggunakan senyawa kimia seperti klorin akan menghasilkan limbah cair yang mengan-dung senyawa organik terklorinasi yang sangat berbahaya terhadap lingkungan (Syafii 2002). Blanco et al. (1995) melaporkan bahwa xilanase dari Bacillus sp. galur BP-23 memudahkan proses pemutihan bubur kertas dan dapat menurunkan penggunaan klorin dioksida sampai dengan 38% sehingga dapat mengurangi pencemaran lingkungan. Daneault et al. (1994) juga melaporkan bahwa peng-gunaan xilanase dalam industri pulp konvensional dapat menurunkan penggunaan klorin, NaOH, dan klorin dioksida.

Penerapan xilanase juga dilakukan pada industri ternak untuk mengubah bahan hemiselulosa menjadi pakan yang dapat diberikan pada hewan ternak nonruminansia. Pakan yang mengandung bahan hemiselulosa tidak bisa dicerna oleh hewan nonruminansia. Di samping itu, pakan tersebut juga menganggu penetrasi enzim pencernaan, penyerapan mineral dan nutrisi, serta mendukung masuknya patogen (Kulkarni et al. 1999).

Xilanase yang digunakan dalam industri pulp harus memenuhi syarat, yaitu aktif pada kondisi suhu dan pH tinggi karena proses tersebut berlangsung pada pH 10 dan suhu lebih dari 900C (Kulkarni et al. 1999). Xilanase yang ada sekarang umumnya jarang yang aktif pada kondisi tersebut. Oleh karena itu pencarian isolat bakteri penghasil xilanase yang aktif pada kondisi suhu dan pH tinggi merupakan salah satu usaha yang mempunyai prospek ekonomi tinggi.

Selama ini xilanase yang stabil pada pH dan suhu tinggi sebagian besar dieksplorasi dari bakteri termofil. Sebagai negara kepulauan yang memiliki banyak gunung vulkanik aktif maupun nonaktif, Indonesia mempunyai banyak sumber air panas. Jatuhan daun, ranting, batang, semak, dan rumput yang terdapat pada sumber air panas tersebut merupakan sumber bahan organik yang dapat dimanfaatkan mikrob pendegradasi xilan untuk tumbuh.

0 comments share

ReviewReviewReview

BAKTERI TERMOFILIK

Dec 4, ‘06 7:04 AM
for everyone

Category:

Other

Berdasarkan suhu optimum pertumbuhannya, secara umum mikroorganisme dibedakan C),°C), dan termofil (45-65°C), mesofil (13-45°menjadi psikrofil (-3-20 C)°C), dan hiper termopil (lebih dari 85°ekstrem termofil (65-85 (Edward 1991 ; Rudiger et al 1994). Sejak ditemukannya mikroorganisme yang mampu tumbuh pada keadaan ekstrim suhu, pencarian mikrooganisme ini menjadi intensif. Hal ini didorong adanya tuntutan dunia industri C) (Ng°yang sebagian besar prosesnya berjalan pada suhu tinggi (50-100 and Kenealy 1986). Mikrooganisme termofil menghasilkan enzim termostabil yang sangat penting dalam proses industri. Pemakaian enzim termostabil di samping tahan terhadap denatururasi panas, juga dapat meminimalkan resiko kontaminan dan dapat menggeser reaksi ke arah pembentukan produk (Ng and Kenealy 1986 ; Rudiger 1994).

Mikrooganisme termofil dapat diisolasi dari berbagai sumber ; sumber air panas di darat dan di laut, tanah yang selalu terkena sinar matahari, bahan yang mengalami fermentasi seperti kompos, dan instalansi air panas (Edward 1991 ; Madigan 1997). Indonesia merupakan negara kepulauan yang banyak terdapat sumber air panas, salah satunya adalah sumber air panas Teluk Ratai yang terdapat di Lampung. Dedaunan yang gugur, biji, rerumputan, serbuk sari, dan bangkai serangga merupakan sumber bahan organik yang dapat dimanfaatkan oleh mikrob yang hidup dalam kolam tersebut. Kondisi ini menciptakan peluang yang besar untuk menemukan mikrob termofil penghasil enzim hidrolitik ekstraselluler (protease, kitinase, mananase, amilase, amilase, dan xilanase) pada sumber air panas tersebut.

0 comments share

ReviewReviewReview

BAKTERI PENDEGRADASI SENYAWA XENOBIOTIK

Dec 4, ‘06 7:02 AM
for everyone

Category:

Other

Keinginan manusia untuk menempati lingkungan yang sehat mendorongnya melakukan kegiatan pembersihan lingkungan. Berbagai kegiatan telah dilakukan, termasuk penanganan masalah limbah. Sejak kegiatan industri berkembang konsentrasi limbah di alam meningkat. Hal ini memberi pengaruh serius bukan hanya untuk manusia, tetapi makluk hidup lain karena sifatnya yang rekalsitran, toksik, dan potensi biomagnifikasi. Contoh limbah tersebut adalah senyawa phenol, yaitu senyawa aromatik dengan 6 atom Carbon berbentuk siklik yang pada salah satu cincinnya tersubstitusi gugus -OH.

Tingginya konsentrasi limbah senyawa aromatik di alam memberikan tantangan pada manusia untuk menghilangkan keberadaannya serta mengkonversi senyawa tersebut menjasi senyawa lain yang tidak membahayakan. cara ini dilakukan baik secara kimia, fisik, dan biologi. Penanganan secara kimia dan fisik terbukti memerlukan biaya yang tidak sedikit, waktu yang lama, dan tidak efektif karena menimbulkan masalah baru terhadap lingkungan. Oleh karena itu perlu diupayakan cara yang lebih efektif, efisien, dan aman dalam penangananannya.

Beberapa spesies bakteri diketahui mampu mendegradasi senyawa aromatik menjadi senyawa yang tidak berbahaya melalui kometabolisme. Spesies tersebut diantaranya adalah Pseudomonas putida UWC1, P.putida G7, Pseudomonas aeruginosa 57, dan masih banyak yang lain. Pemanfaatan mikroorganisme dalam bioremidisasi selain aman bagi lingkungan juga dapat mengurangi biaya. Untuk itu pencarian bakteri yang mampu melakukan fungsi bioremidiasi merupakan usaha yang mempunyai prospek nilai ekonami tinggi.

0 comments share

ReviewReviewReview

BIOLUMINESCENS: makluk hidup yang berpendar

Dec 4, ‘06 7:00 AM
for everyone

Category:

Other

Alam merupakan produk yang maha pencipta yang didalamnya menyimpan banyak fenomena yang mengagumkan. Salah satu fenomena tersebut adalah adanya bioluminescens, yaitu produksi cahaya secara biologi. Hal ini bisa dilihat pada fenomena kunang-kunang, tumbuhan hutan jamur yang bercahaya, invertebtata laut, ulat, ikan dan lain-lain.

Sejumlah bakteri gram-negatif diketahui dapat memancarkan cahaya (luminescens). Contohnya adalah genus Photobacterium dan beberap genus Vibrio. Kebanyakan bakteri luminescens tersebut ditemukan di laut dan berasosiasi dengan ikan. Beberapa organ ikan dapat berluminescens karena pada organ tersebut tumbuh bakteri luminescens. Beberapa bakteri luminescens hidup secara saprofit pada ikan mati, sehingga untuk mengisolasi bakteri ini lebih mudah diambil dari ikan yang telah mati (1-2 hari) pada suhu 10-20 derajat Celsius.

Kemampuan bakteri untuk ber-luminescens tidak lepas dari adanya enzim luciferase yang dimiliki oleh bakteri tersebut. Bersama dengan tiga komponen lainnya yaitu ; senyawa aldehid rantai panjang, flavin mononukleotida, dan oksigen, bakteri tersebut menghasilkan senyawa autoinduser berupa senyawa homoserin lakton yang dapat menginduksi sel-sel lain sehingga menyebabkan munculnya cahaya

Proses berpendar ini terjadi karena ada protein yang disebut luciferin diubah menjadi oxyluciferin oleh enzim luciferase dengan adanya oksegen (Atlas 1997). Enzim luciferase ini sintesisnya diatur oleh gen lux (lux I dan Lux R) dan sistesisnya bersifat autoinduksi. Bakteri luminescens ini memproduksi substrat tertentu yang disebut autoinduser yang jika sel-selnya memenuhi titik kritis (critical level), maka akan menginduksi luciferase. Saat jumlah sel bakteri ini masih sedikit, proses luminescens tidak terjadi, namun saat jumlahnya m,emenuhi syarat (quorum sensing) maka autoinduser terkumulasi dan berfungsi sehingga proses luminescens terjadi.
Proses luminescens terjadi tidak cukup hanya dengan adanya luciferin, tetapi harus dibutuhkan komponen yang lain. Komponen tersebut adalah senyawa aldehid rantai panjang (seperti dodekanal), flavin mononukleotida (FMN), dan oksigen. Walaupun hidup secara aerob-fakultatif, Photobacterium memerlukan oksigen untuk mengoksidasi luciferin.
Reaksi keseluruhan yang terjadi dalam proses ini adalah sebagai berikut ;

Lusiferase
FMNH2 + O2 + RCHO FMN + RCOOH + cahaya

FMNH2 digunakan sebagai donor elektron pertama dan FMN sebagai penerima elektron. Cahaya yang dihasilkan merupakan hasil proses penyerapan cahaya ungu yang menyebabkan terksitasinya ellektron ke kulit terluar, dan pada waktu kembali ke kulit awalnya akan membebaskan energi dalam bentuk cahaya dengan panjang gelombang yang lebih pendek.

0 comments share

ReviewReviewReview

FOTOSINTESIS PADA BAKTERI

Dec 4, ‘06 6:57 AM
for everyone

Category:

Other

Fotosintesis merupakan proses konversi cahaya ke energi kimia untuk pertumbuhan (fotofosforilasi). Proses ini dapat terjadi secara aerob dan anaerob. Dalam keadaan aerob, H20 digunakan sebagai donor elektron dan dihasilkan oksigen, sedangkan pada keadaan anaerob tidak diproduksi oksigen. Ada beberapa mikroorganisme yang mampu melakukan fotofosforilasi dalam keadaan anaerob, meraka ini dikenal dengan nama kelompok bakteri fotosintetik anoksigenik. Berdasarkan bakteriaklorofil yang dimiliki oleh anoksegenik, maka kelompok ini bibagi menjadi ; bakteri fotosintetik purple (sulfur dan non sulfur), bakteri fotosintetik hijau (sulfur dan non sulfur), dan Heliobacteria (White 1995).

Pada bakteri fotosintetik ungu non sulfur anoksigenik, konsentrasi sulfid harus benar-benar ditekan serendah mungkin, karena pada konsentrasi yang tinggi akan menjadi racun . bakteri ini telah diketahui sejak awal abad ke-20 ketika pertama kalinya diisolasi oleh Hans Molisch. Bakteri-bakteri ini dapat melakukan berbagai macam metabolisme, antara lain ; fotoautrotop atau fotoheterotrop pada kondisi anaerobik; respirasi anerobik; dan fermentasi. Selain itu, organisme-organisme ini pada umumnya merupakan penambat nitrogen yang hidup bebas.

Kemampuan bakteri ini untuk melakukan fotofosforilasi karena adanya piranti fotosintesis dalam selnya yang berupa pigmen fotosintesis, pigmen karatenoid, dan bakterioklorofil. Bakterioklorofil yang dimiliki bakteri ini dapat digunakan sebagai salah satu ciri morfologi dengan melihat spektra maksimumnya.

Sebagian besar bakteri fotosintetik ungu non sulfur anoksegenik, seperti bakteri dari genus Rhodobacter, pada umumnya menujukkan resistensi yang tinggi terhadap oksianion logam tanah jarang, seperti TeO3-2 dan SeO3-2. oleh karena itu penambahan larutan oksianion (biasanya K2TeO3) memungkinkan isolasi kelompok bakteri tersebut secara selektif.

1 comment share

ReviewReviewReview

ALL ABOUT GEDE PANGRANGO NATIONAL PARK

Dec 4, ‘06 6:48 AM
for everyone

Category:

Other

Tulisan ini merupakan salah satu laporan Praktek Lapangan yang saya susun sewaktu masih kuliah dan aktif sebagai volunteer di TN.Gede Pangrango

Sejarah Singkat Kawasan

Taman Nasional Gede Pangrango dicanangkan pada tahun 1980, ketika pemerintah mengadakan program pendirian taman nasional pertama di Indonesia bersama dengan empat taman nasional yang lain. Luas taman nasional ini adalah 15.196 ha, merupakan taman nasional kedua terkecil di Indonesia. TNGP mempunyai potensi keragaman hayati yang tinggi di dunia sehingga kawasan ini menjadi tempat yang sangat penting untuk konservasi flora dan fauna di dunia.

Pada beberapa abad sebelumnya kawasan puncak merupakan salah satu tempat terpencil di Jawa, dimana daerah-daerah di kaki lereng pegunungan banyak dimanfaatkan untuk perladangan berpindah. Sejarah wilayah ini diketahui dari beberapa legenda sunda kuno, yang dikatakan sebagai sebuah jalur antara kota tua Cianjur dan Bogor.

Sejarah penelitian dan konservasi wilayah ini dimulai dengan didirikannya sebuah kebun kecil dekat Istana Gubernur Jendral Belanda di Cipanas Pada tahun 1830. Perkebunan ini kemudian diperluas menjadi Kebun Raya Cibodas saat ini. Kemudian wilayah ini dikenal sebagai salah satu tempat kunjungan utama para ahli botani dunia.

Wilayah Gede Pangrango berperan sebagai pusat penelitian dunia selama dua abad dan telah mempunyai reputasi di dunia. Sir Thomas Raffles mengatur pengembangan wilayah tenggara pegunungan ini pada tahun 1811. Pendakian pertama Gunung Gede tercatat oleh F.W. Junghuhn (1839-1861), S.H. Teysman (1839), A.R. Wallace (1861), S.H. Koorders (1890), M. Treub (1891), dan Dr. Van Leuween (1911). CGGJ. Van Steenis (1920-1952) mengumpulkan spesimen-spesimen dan menyiapkan sebuah studi untuk bukunya yang terkenal :” The Mountain Flora of Java”, yang dipublikasikan pada tahun 1972.

Pengembangan kawasan dimulai pada tahun 1889 yaitu ketika hutan yang terletak diantara Kebun Raya Cibodas sampai mata air panas dikukuhkan sebagai cagar alam (240 ha). Kemudian pada tahun 1919 dikukuhkan pula Cagar Alam Cimungkat (56 ha). Selanjutnya pada 1975 Hutan Wisata Situ Gunung (120 ha) juga dikukuhkan. Tahun 1975 dikukuhkan sebagai Cagar Alam Gunung Gede Pangrango (14.000 ha), dengan dua puncak utama yang diperluas. Akhirnya pada 16 maret 1980 semua wilayah terpisah kawasan ini disatukan melalui deklarasi pendirian Taman Nasional seluas 15.196 ha. Kemudian pada tahun 1984 dibentuklah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Taman Nasional Gunung Gede Pangrango.

Tingginya keragaman hayati di kawasan ini menjadikannya sebagai salah satu kawasan konservasi di Indonesia. Kemasyuran TNGP makin diperkuat dengan dikukuhkannya sebagai Cagar Biosfer dunia oleh UNESCO. Sebagai zona inti biosfer dunia, Taman Nasional ini berperan melindungi flora dan fauna endemik Jawa Barat yang unik didalamnya.

Usaha pengembangan dan peningkatan Taman Nasional Gede Pangrango di tempuh melalui progam persaudaraan bersama dengan National Park Bavarian di Jerman. Pendekatan searah juga dilakukan melalaui pengembangan bersama Taman Negara di California dan Taman Nasional Kinibalu di Sabah, Malaysia. Taman Nasional Gede Pangrango hingga kini berusaha keras untuk berada di garis depan dalam program perencanaan konsevasi di masa depan.

Potensi Umum Kawasan Gede Pangrango

a.Keadaan fisik
Secara geografis, kawasan taman nasional Gede Pangrango terletak antara 1060 ‘ 51’- 1070 ‘02’ BT dan 60 41’-60 ’51’ LS. Secara administrasi Taman Nasional ini terletak pada tiga wilayah Kabupaten Daerah Tingkat II, yaitu Bogor, Sukabumi, dan Cianjur.

Lokasi TNGP sangat strategis dekat dengan pusat-pusat pemukiman penduduk, pusat-pusat penelitian dan pendidikan, dan pusat pengembangan wilayah, serta dikelilingi oleh jalan raya propinsi yang menghubungkan kota-kota besar di Jawa Barat dan Jakarta. Posisi yang menguntungkan ini menyebabkan TNGP banyak dikunjungi masyarakat, untuk memanfaatkan kawasan dengan potensi yang dikandungnya baik secara legal (seperti kegiatan penelitian, pendidikan, rekreasi) maupun secara ilegal (seperti penggarapan lahan hutan, pencurian hasil hutan, pencemaran).
Kawasan TNGP terdiri dari wilayah pegunungan, yaitu Gunung Pangrango (3.019 m dpl), Gunung Gede (2.958 m dpl)., Gunung Gumuruh (2.929 m dpl), Gunung Masigit (2.500 m dpl), Gunung Lingkung (2.100 m dpl), Gunung Mandalawangi (2.044 m dpl), dan beberapa gunung kecil lainnya. Beberapa tempat bertopografi ringan sampai datar, misalnya alun-alun Suryakencana (kawasan datar di komplek puncak gede seluas 50 ha) dan alun-alun Mandalawangi di komplek puncak pangrango seluas 5 ha). Ketinggian tempat bervariasi mulai dari 800 m dpl sampai 3.019 m dpl.
Curah hujan rata-rata setiap tahunnya adalah 3.000 mm – 4.200 mm. Bulan basah jatuh pada periode Oktokber-Mei, bertepatan dengan musim barat laut. Sedangkan curah hujan rendah lebih dari 200 mm/bulan, yaitu pada bulan Desember sampai Maret bisa mencapai 400 mm/bulan atau lebih. Bulan-bulan kering jatuh pada periode Juni-September dengan rata-rata curah hujan kurang dari 100 mm/tahun.

Temperatur rata-rata tahunan bervariasi antara 180C di Cibodas dan kurang dari 10oC di puncak pangrango, dengan penurunan rata-rata 0,550C per kenaikan 100 meter ketinggian tempat. Dengan rendahnya temperatur ini kadang-kadang turun salju atau hujan es sekitar Puncak Gede dan Pangrango.

Kawasan TNGP merupakan daerah tangkapan air (catchment area) yang penting untuk kota-kota besar di Jawa Barat dan Jakarta. Kawasan ini terbagi ke dalam tiga daerah aliran sungai (DAS), yaitu DAS Ciliwung dengan 17 anak sungai di bagian barat (Wilayah Bogor), DAS Citarum dengan 20 anak sungai di bagian timur (Wilayah Cianjur), dan DAS Cimandiri di bagian selatan (Wilayah Sukabumi).

Sungai-sungai yang mengalir di kawasan ini sangat penting bagi kehidupan masyarakat sekitarnya, misalnya sebagai sumber air bagi keperluan rumah tangga, pertanian, dan industri. Fungsi utama dari sungai tersebut bagi ekosistem kawasan yaitu sebagai sumber air bagi berbagai jenis satwa dan tumbuhan.

b. Keadaan Biologi

Taman Nasional Gede Pangrango dikenal karena tingginya keragaman hayati flora fauna didalamnya. Menurut Meijer (1959), dalam Rugayah dan Sunarno (1992), jumlah jenis tumbuhan berbunga (Spermathophytha) di TNGP ada 900 jenis, dan menurut Kato (1991), dalam Darnaedi (1992), terdapat 400 jenis tumbuhan paku (Pteridophyta). Menurut Seifriz (1924) kawasan ini diperkaya 114 jenis tumbuhan lumut (Briophyta).

Jenis ekosistem kawasan ini adalah ekosistem hutan hujan tropis pegunungan dengan tiga sub ekosistem Hutan Montana, Sub Montana, dan Sub Alpin. Selain itu juga terdapat sub ekosistem lainnya seperti padang rumput pegunungan, danau, rawa pegunungan, air terjun, air panas, kawah, hutan tanaman (damar), dan hutan sekunder.

Kekayaan tumbuhan di dalam kawasan menurut Van Stennis (1972), tumbuhan di kawasan TNGP dibedakan menjadi tiga zona berdasarkan perbedaan tumbuhan yang menyusunnya, yaitu zona Sub Montana (1.000-1.500 m dpl), zona Montana (1.500-2.400 m dpl), dan zona Sub Alpin (2.400-3.019 m dpl). Zona Sub Montana adalah ekosistem hutan dengan keragaman jenis yang tinggi, ditandai dengan adanya tajuk pohon besar dan tinggi, misalnya pohon rasamala dan buni. Sedangkan pada ekosistem Montana ditandai dengan sedikitnya variasi flora. Batang-batang pohon umumnya ditumbuhi dengan lumut. Zona sub Alpin merupakan hutan yang jenisnya rendah dengan pohon-pohon kerdil, misalnya pohon Cantigi Gunung (Vaccinum varingiaeolium) dengan batang yang ditumbuhi lumut janggut putih. Kekhasan hutan ini adalah terdapatnya dataran yang ditumbuhi rumput Isachne pangrangensis dan bunga abadi Eidelweis (Anaphalis javanica).

Potensi Obyek Wisata Alam

Selain kekayaan flora dan fauna, TNGP juga kaya akan potensi obyek wisata alam seperti keindahan alam, air terjun, air panas, danau, kawah, padang rumput pegunungan, goa, dan obyek wisata budaya. Pemandangan yang indah bisa dinikmati dari jalan raya sekeliling Taman Nasional, juga dibeberapa tempat seperti pemandangan (view) di sekitar Situgunung, Selabintana, Bodogol, dan pemandangan alam dari puncak gunung.

Air terjun merupakan salah satu obyek wisata yang banyak dikunjungi wisatawan. Di kawasan ini terdapat tidak kurang 20 air terjun, empat buah diantaranya sudah dikembangkan dan banyak diminati masyarakat, seperti air terjun Cibeureum di Cibodas, Cibeureum di Selabintana, Curug Sawer Situgunung dan air terjun Cipadaranten Bodogol. Di komplek air terjun Cibeureum Cibodas terdapat tiga buah air terjun, yaitu air terjn Cibeureum (30 m), Cidendeng (25), dan Cigundul (20 m).

Salah satu gejala alam yang unik di kawasan Taman nasional ini adalah adanya lahan basah seperti danau/telaga dan rawa pegunungan. Tanah di daerah pegunungan biasanya bersifat porous, namun di kawasan ini terdapat beberapa lahan basah, diantaranya Telaga Biru, Rawa Gayanggong dan Rawa Denok.

Puncak gunung merupakan obyek wisata yang paling banyak diminati pengunjung. Di kawasan ini terdapat dua puncak gunung yang sering dikunjungi yaitu puncak Gunung Gede (2.958 m) dan puncak Gunung Pangrango (3.019 m). di komplek puncak Gunung Gede terdapat beberapa kawah, yaitu Kawah Ratu, Kawah Lanang, Kawah Wadon, dan Kawah Baru. Arah selatan dari puncak Gunung Gede terdapat padang rumput seluas kurang lebih 51 ha yang dikenal dengan nama Alun-Alun Suryakencana. Di komplek Gunung Pangrango terdapat pula padang rumput yang dikenal dengan nama Alun-Alun Mandalawangi seluas 3 ha. Di kedua komplek puncak gunung tersebut ditumbuhi dengan jenis tumbuhan yang khas dan langka yaitu bunga Eidelwiss (Anaphalis javanica) .

Bagi mereka yang suka berkemah tersedia tiga lokasi bumi perkemahan, yaitu bumi perkemahan Bobojong di Gunung putri, bumi perkemahan Pondok Halimun di Selabintana, dan bumi perkemahan Barubolang di Cisarua.

Beberapa buah goa yang terdapat di kawasan ini sering didatangi oleh peziarah seperti Goa Lalay di Cibodas, Goa Gumuruh, dan Goa Ciheulang di Cimungkat.

Struktur Organisasi

TNGP adalah Unit Pelaksana Teknis (UPT) Direktorat Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam setingkat eselon III, yang berada di bawah dan bertanggungjawab terhadap Direktur Jendral Perlindungan Hutan dan Pelestarian Alam Departemen Kehutanan dan Perkebunan. TNGP bertugas menyelenggarakan pengelolaan kawasan Taman Nasional dalam rangka konservasi sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya, serta berfungsi :

a.Penyusunan program pengembangan taman nasional.
b.Pemangkuan, perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan taman nasional beserta ekosistemnya.
c.Promosi dan informasi
d.Pengamanan kawasan, konservasi kawasan hutan dan lingkungan, konservasi jenis sumberdaya alam hayati dan bina wisata alam.
e.Urusan tata usaha.

TNGP dipimpin oleh seorang Kepala Balai. Struktur organisasi TNGP diatur sesuai Surat Keputusan Kepala Balai TNGP No. Kep. 26/VI-TNGP/1998 Tanggal 20 November 1998, sebagai berikut :

a.Sub Bagian Tata Usaha

Bertugas melakukan urusan tata usaha kepegawaian, keuangan, surat menyurat, kearsipan, dan rumah tangga.
b.Seksi Konservasi

Bertugas melakukan penyusunan program, pemangkuan, perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan kawasan beserta ekosistemnya, serta promosi dan informasi.
c. Sub Seksi Wilayah Konservasi

Bertugas melakukan pemangkuan, perlindungan, pengawetan, dan pemanfaatan kawasan beserta ekosistem di wilayah kerjanya. Untuk pelaksanaan tugas dan fungsi di lapangan dibentuk Sub Seksi Wilayah Konservasi (SSWK) yang mencakup tiga wilayah kabupaten yaitu Cianjur, Bogor, dan Sukabumi. Wilayah Cianjur dengan SSWK Gunung Putri berkedudukan di Cibodas, meliputi satuan operasional Cibodas, Gunung Putri, dan Gedeh. Wilayah Bogor dengan SSWK Bodogol meliputi satuan operasional Bodogol, Cimande, dan Cisarua. Wilayah Sukabumi dengan SSWK Selabintana berkedudukan di Selabintana meliputi satuan operasional Selabintana, Goalpara, Cimungkat, dan Nagrak.

d. Kelompok Jabatan Fungsional

Terdiri dari Jagawana, Teknisi Kehutanan bidang Konservasi Kawasan Hutan dan Lingkungan, Teknisi Kehutanan Bidang Konservasi Jenis Sumberdaya Alam Hayati, serta Teknisi Kehutanan Bidang Bina wisata Alam.

Program Pengelolaan dan Pengembangan

Taman Nasional Gede Pangrango merupakan salah satu proyek pengelolaan Tanam Nasional yang berhasil, sehingga menjadi barometer pengelolaan Taman Nasional di Indonesia. untuk meningkatkan profesionalisme pengelolaan TNGP telah membuat rencana pegembangan 25 tahun melalui Rencana Pembangunan Taman Nasional (RPTN 1995-2020). RPTN yang telah disusun senantiasa terus dievaluasi dan diperbaiki setiap tahunnya. RPTN dijabarkan dalam rencana pengelolaan yang lebih sempit yaitu Rencana Kegiatan Lima Tahun (RKL), dan RKL sendiri dijabarkan dalam Rencana Kegiatan Tahunan (RKT).

Dalam pengelolaan kawasan taman nasional ini, TNGP menghadapi beberapa kendala, yaitu sebagai berikut ;

a.Sumber daya manusia
Sumber daya manusia yang ada di UPT TNGP dibandingkan dengan taman nasional yang terdapat di luar Jawa diketahui cukup tinggi, yaitu 126 : 15.196 ha, setara dengan 1 orang berbanding 120 ha. Kondisi ini juga ditentukan oleh faktor lain, yaitu tingkat pendidikan, keahlian, ketrampilan, mental, loyalitas dsb.

b.Apresiasi Pengunjung

Kelestarian Taman Nasional dan segala isinya sangat bergantung pada apresiasi pengunjung. Rendahnya apresiasi pengunjung tercermin pada saat mereka berada dalam kawasan, serta dampak perilaku tersebut terhadap potensi hayati, sarana dan prasarana, maupun terhadap kondisi lingkungan. Permasalahan tesebut selalu dikontrol dan diamati secara terus-menerus oleh petugas Taman Nasional bersama volunteer Taman Nasional. Akan tetapi budaya masyarakat yang masih rendah untuk turut menjaga dan melestarikan lingkugan belum seluruhnya dapat ditanggulangi.
c.Apresiasi Masyarakat

Daerah sekitar Naman Nasional dikelilingi oleh pemukiman penduduk. sebagian besar dari masyarakat tersebut kondisi sosial ekonominya masih sangat rendah. Tingkat sosial ekonomi yang masih sangat rendah ini menyebabkan kehidupan mereka masih bergantung pada penggunaan sumberdaya hayati secara langsung. Masalah ini menimbulkan berbagai gangguan dan kerusakan hutan seperti pengambilan kayu bakar, pencurian paku-pakuan dan aggrek, perburuan satwa liar, serta penebangan liar. Permasalahan ini belum dapat ditangani secara maksimal, sehigga diperlukan waktu yang panjang untuk meningkatkan apresiasi masyarakat.
d.Sarana dan Prasarana

Fasilitas yang terdapat di TNGP sudah cukup memadai. Fasilitas pelayanan pengunjung telah banyak di bangun untuk kenyamanan pengujung. Kendala masih banyak dalam pengelolaan fasilitas ini seperti kurang terpelihara dan rusak oleh ulah pengujung. Kendala lainnya dalam pengelolaan sarana dan prasarana ini yaitu keadaan cuaca yang sangat lembab, sehingga menyebabkan daya tahan bangunan menjadi menurun.

Dalam rangka menciptakan suatu pengelolaan yang profesional, beberapa aspek menjadi bahan evaluasi pengembangan yaitu peningkatan sumber daya manusia baik kualitas maupun kuantitasnya, pemantapan kerjasama kemitraan, pengembangan sistem pengelolaan, promosi dan informasi, serta pembangunan sarana dan prasarana yang memadai.

Kemitraan Taman Nasional Gede Pangrango

Sesuai dengan UU No. 5 Tahun 1990 Taman Nasional adalah kawasan pelestarian alam yang mempunyai ekosistem asli yang dikelola berdasarkan sistem zonasi dan dimanfaatkan untuk penelitian, pendidikan, ilmu pengetahuan, menunjang kegiatan budidaya, pariwisata, dan rekreasi. Dalam pengelolaan dan pemanfaatan tersebut tidak dapat dilakukan oleh Taman Nasional sendiri, tetapi perlu adanya dukungan dari pihak lain melalui kerjasama dengan berbagai lembaga dalam program kemitraan. Secara garis besar kemitraan lembaga ini dikelompokkan kedalam tiga bagian yaitu lembaga pemerintah, lembaga swadaya masyarakat (LSM), dan lembaga swasta lainnya.

Beberapa lembaga pemerintah yang menjadi mitra TNGP dalam kerjasama tersebut diantaranya adalah lembaga sektoral, perguruan tinggi, lembaga penelitian, dan pemerintah daerah. Kerjasama tersebut dilaksanakan dalam bentuk fasilitas, sumber dana, serta keterlibatan sumberdaya manusia, seperti keahlian, informasi, dll.

Lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang berkantor pusat di kota besar umumnya mempunyai basis kerja disekitar kawasan konservasi. Berbagai LSM konservasi, organisasi pecinta alam, dan para sukarelawan (volunteer) juga sangat mendukung kegiatan yang dilaksanakan oleh pengelola kawasan konservasi.

Dibandingkan dengan Taman Nasional di Indonesia lainnya, TNGP merupakan salah satu Taman Nasional yang lebih dulu mengembangkan sistem kemitraan dengan masyarakat lokal paling intensif. Kemitraan di Taman Nasional ini sudah berjalan duabelas tahun yang dikenal sebagai kelompok Volunteer atau sukarelawan. Mereka yang menjadi sukarelawan sebenarnya adalah kelompok atau pemuda dewasa yang mengabdikan tenaga dan pikirannya secara sukarela untuk membantu tugas sehari-hari petugas di lapangan. Kegiatan Volunteer ini antara lain ; membantu meringankan petugas berdasarkan hobby, pelayanan pengunjung, cek packing, penyuluhan, patroli hutan, operasi bersih, SAR, pemanduan, evakuasi korban, interpretasi, dan pendidikan lingkungan hidup. Para Volunteer ini tercatat pada Kantor Sospol sebagai LSM, kader konservasi, pecinta alam, tim Rescue, dan sebagai mitra Taman Nasional. Banyak ide dari volunteer yang kemudian dikembangkan menjadi program TNGP.

Untuk mengukuhkan eksistensi volunteer TNGP, maka pada tanggal 17 Agustus 1996, di buat perjanjian kerjasama antara TNGP dan Volunter TNGP. Sampai saat ini terdapat lima kelompok Volunteer yaitu, Volunteer Montana di Resort Cibodas, Volunteer GPO di Resort Gunung Putri, Volunteer Panthera di Resort Selabintana, Volunteer Eagle (1998 akhir) di Bodogol, dan Volunteer Evergreen di Sarongge.

Sektor swasta juga banyak yang terlibat dan peduli dengan masalah-masalah konservasi lingkungan. Masalah lingkungan hidup dan konservasi sumberdaya alam hayati telah banyak disebarluaskan ke masyarakat luas. Sektor swasta banyak berperan dalam menggalang dana, pengembangkan sumberdaya manusia, dan pemikiran yang mendukung pengelolaan kawasan konservasi.

0 comments share

ReviewReviewReview

KOLOM WINOGRADSKY: Miniatur kehidupan

Dec 4, ‘06 6:40 AM
for everyone

Category:

Other

Komunitas mikrob yang ada di alam sangat beragam dan mempunyai karakteristik yang unik. Dalam komunitas tersebut, konsorsium mikrob dapat saling memberi kontribusi, baik melalui kometabolisme maupun produk ekstraselluler yang dihasilkan. Salah satu contoh komunitas tersebut adalah lingkungan aquatik seperti sungai, danau, dan laut yang memiliki bentuk aktifitas biologis dari berbagai kelompok bakteri fotosintetik, seperti bakteri fotosintetik ungu dan hijau yang tumbuh secara anaerob. Bakteri semacam ini dapat diisolasi secara selektif dengan menggunakan teknik kultur pengkayaan yang diambil langsung dari alam atau dari labolatorium.

Pada tahun 1988, Surgey Winogradsky mengembangkan teknik kultur pengkayaan yang cocok untuk mengisolasi bakteri tersebut. Teknik tersebut dinamakan dengan Kolom Winogradsky. Teknik tersebut merupakan miniatur ekosistem mini anaerobik yang dapat digunakan sebagai sumber isolat berbagai jenis bakteri yang terlibat dalam siklus nutrien, dapat digunakan untuk seleksi mikroorganisme tertentu, serta mempelajari proses degradasi senyawa dan menyeleksi mikroorganisme yang mampu mendegradasinya.

Kultur pengkayaan ini bersifat fotoanaerobik dimana komponennya terdiri atas bahan tanaman, bahan kimia (NaCO3, CaCO3), vitamin, dan lapisan-lapisan lumpur yang digenangi air. Tujuan akhir kultur pengkayaan ini adalah mendapatkan popuilasi bakteri dengan densitas yang lebih tinggi daripada yang umum ditemukan di alam.

0 comments share

ReviewReviewReview

PENGANTAR OPERON lac

Dec 4, ‘06 6:36 AM
for everyone

Category:

Other

Kompleks antena penangkap cahaya yang dapat dipengaruhi oleh adanya cahaya dan oksigen pada Rhodobacter adalah Light Harvesting Compleks II b dan a(LH II). Komponen protein dari LH II yang utama adalah protein yang disandikan oleh operon pucBA.

Lee dan Kaplan telah menyisipkan sekuen regulator pucBA pada hulu sekuen sacB sari Bacillus substilis. Konstruksi tersebut terdapat plasmid pPS400 yang merupakan turunan dari pRK415. Di hulu sekuen regulator pucBA disisipkan kaset untuk meniadakan kemungkinan transkripsi dari placWsp/smr dari pHP45 atau Tcr.

SacB memnyandikan levensukrosa yang dapat berakibat mematikan pada kebanyakan bakteri gram negatif yang membawa gen tersebut apabila ditumbuhkan pada medium yang mengandung sukrosa. Pada konstruksi pPS400, puc reg akan mengatur ekspresi sacB. Oleh karena itu regulasi pucBA dapat diketahui dengan memonitor ekspresi sacB atau frekuensi kematian pada Rhodobacter sphaeroides yang membawa pPS400 dan ditumbuhkan pada medium yang mengandung sukrosa.

0 comments share

ReviewReviewReviewReview

ISOLASI BAKTERI PEMBENTUK NUKLEASI ES DI GEDE PANGRANGO

Sep 23, ‘06 12:31 AM
for everyone

Category:

Other

AMSI RAHMANTA1, SITI KARIMAH2, CAHYA PRIHATNA3

1) Laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia, Pusat Antar Universitas Bioteknologi IPB, Bogor
2)Laboratorium Mikrobiologi, Jalan Raya Pajajaran, Bogor, 16144
3)Laboratorium Biologi Molekuler Seameo-Biotrop, Jalan Raya Tajur, Bogor

Abstrak

Bakteri filosfer yang berhasil diisolasi, mempunyai kemampuan nukleasi es ditunjukkan oleh isolat yang berasal dari tanaman yang tidak diketahui namanya, yang dapat membekukan air menjadi es pada suhu –10o C dalam waktu 5 menit. Isolat tersebut merupakan 1 dari 12 isolat yang didapat. Isolat tersebut diisolasi dengan cara membuat replika daun dan pembentukan suspensi pada buffer fosfat daslam medium King’s B. isolat yang didapat diuji nukleasi esnya dengan memasukkan satu lup isolat pada buffer fosfat dan dinkubasi di dalam alcohol circulating bath pada suhu –10o C selama 5 menit. Uji positif ditandai dengan terbentuknya es pada buffer fosfat.

Latar Belakang

Keragaman bakteri bisa dilihat dari berbagai macam sudut pandang, seperti morfologi, fisiologi, dan genetik. Tiap-tiap habitat yang berbeda memberikan keragaman yang berbeda pula. Contohnya adalah daun, habitat yang banyak dihuni oleh bakteri. Tiap tanaman mempunyai daun yang berbeda, baik bentuk, ukuran, maupun eksudat yang dikeluarkannya. Perbedaan ini menyebabkan mikrob yang menghuni juga berbeda.
Bakteri yang mendiami permukaaan daun sangat bervariasi sesuai dengan jenis tanamannya oleh karena setiap tanaman menghasilkan eksudat tertentu yang sesuai dengan bakteri tertentu. Variasi tanaman dari dataran rendah ke dataran tinggi menyebabkan variasi bakteri yang hidup pada permukaan daunnya. Dari bakteri-bakteri yang menghuni permukaan daun salah satu diantaranya adalah bakteri pembentuk inti kristal es yang meliputi lima galur bakteri, yaitu ; Pseudomonas syringae, Pseudomonas viridiflava, Pseudomonas fluoresces, Erwinia herbicola, dan Xantomonas campestris pv translucens. Kelima spesies ini mampu mengkatalisis C, bahkan ada yang dapat membentuk°pembentukan es pada suhu di atas -10 C. Kehadiran spesies-spesies ini pada permukaan°es pada suhu –1,5 tanaman (daun) dapat menyebabkan terjadinya luka beku (frost injury) C. Pembentukan inti es oleh bakteri ini°pada temperatur di atas suhu –5 di habitat alaminya merupakan fenomena yang menarik (Gurian-Sherman dan Lindow 1993).
Kehadiran bakteri pembentuk kristal es pada permukaan daum pada pohon-pohon bertajuk lebar di dataran tinggi misalnya tegakan-tegakan pada hutan hujan tropis diperkirakan dapat bertindak sebagai inti kondensasi yang menginisiasi terbentuknya hujan. Dan hasil penelitian menunjukkan bahwa kehadiran bakteri ini pada permukaan daun semakin berkurang dengan semakin tingginya suhu lingkungan sehingga makin jarang dijumpai pada dataran rendah (Wilson dan Window 1994). Taman Nasional Gunung Gede Pangrango (TNGP) adalah hutan hujan tropis yang kaya akan vegetasi dan mempunyai temperatur udara yang relatif rendah. kondisi ini memungkinkan peluang besar untuk menemukan bakteri filosfer pembentuk kristal es dan melakukan uji aktivitas nukleasinya.
Bakteri filosfer pembentuk inti es diketahui mempunyai potensi yang besar misalnya untuk membuat hujan dan salju buatan, industri pengawetan makanan dan minuman dengan pembekuan, dan rekayasa gen pelapor (reporter gene engineering). Disamping itu dalam bidang pertanian, bakteri pembentuk es juga diketahui penyebab luka beku (frost injury) tanaman komoditi (Suwanto 1994; Wahyudi AT 1995; Lindow 1989). Mengingat peran dari bakteri pembentuk inti es tersebut, pemanfaatan bakteri ini secara praktis maupun aplikasi ilmiahnya mempunyai arti yang penting. Disamping itu pemahaman mengenai protein yang berperan dalam pembentukan inti es dan faktor-faktor yang mempengaruhi inti es juga perlu dipahami.
Tujuan
Tujuan praktikum ini adalah untuk mengisolasi bakteri filosfer dari sejumlah daun yang ada di Puncak Gunung Pangrango Eidelweis (Anaphalis javanica), Cantigi Gunung, dan daun yang belum diketahui namanya, serta menguji aktivitas nukleasi es dari sejumlah isolat yang dihasilkan.
Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada bulan Oktober-November di laboratorium Mikrobiologi dan Biokimia Pusat Antar Universitas (PAU) Bioteknologi IPB, di Dramaga.

BAHAN DAN METODE
Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan adalah sampel daun Eidelweis (Anaphalis javanica), Cantigi Gunung, dan daun yang belum diketahui namanya yang diambil dari puncak Gunung Pangrango (3.019 m dpl), media Kings’B Agar, agar bakteriologi, dan buffer fosfat. Alat yang digunakan adalah alkohol circulating bath, vorteks, cawan agar, tabung reaksi, dan alat-alat umum laboratorium mikrobiologi.
Metode
Pengambilan sampel
Sampel daun dipotong dengan menggunakan gunting steril kemudian dimasukkan ke dalam plastik steril dan langsung dibawa ke laboratorium untuk isolasi bakteri.
Isolasi bakteri filosfer
Dengan membuat replika daun.§ Sebanyak satu helai daun (sampel) diletakkan pada media Kings’B agar (20 g protease peptone, 15 mL gliserol; 1.5 g K2HPO4; 1.5 g MgSO4.7H2O; 20 g agar bakteriologi; akuades 1 liter). Daun ditekan pelan dan dibiarkan sebentar sampai terbentuk replika pada media tersebut. Hal yang sama dilakukan untuk permukaan daun yang berlawanan. Kemudian diinkubasi pada suhu ruang selama dua hari, lalu koloni yang terbentuk dimurnikan dengan medium yang sama.
Pembentukan suspensi pada§ buffer fosfat. Satu helai daun dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi 5 mL mM buffer fosfat kemudian divorteks selama 30 detik supaya bakterinya terlepas dan tersuspensi. Kemudian dibuat pengenceran serial 10-1, 10-2, 10-4, dan 10-6 dan disebar pada media Kings’B agar, dan diinkubasi selama 2 hari pada suhu kamar. Koloni yang terbentuk dimurnikan dengan medium sama.
Essei Nukleasi Es
Satu lup koloni yang terpisah diambil dan dimasukkan ke dalam 500 μL buffer fosfat steril dalam eppendorf dan divorteks hingga suspensinya homogen. Kemudian diambil 100μl dari suspensi tersebut dan dimasukkan ke dalam 10 ml buffer fosfat steril dalam tabung reaksi. Tabung-tabung ini kemudian dimasukkan ke dalam circulating alkohol bath pada suhu -10°C selama 5 menit. Untuk kontrol positif digunakan Xanthomonas campestris. Parameter yang diamati adalah terbentuknya es pada masing-masing medium.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Hasil Percobaan
Pertumbuhan Bakteri pada media KB
Nama daun Jumlah isolat Kemampuan nukleasi es
Tidak diketahui namanya 4 +
Eidelweiss 8 -
Cantigi Gunung 0 -
Keterangan: kontrol positif = Xanthomonas campertris
+ = terbentuk es
- = tidak terbentuk es
Umur dan luas permukaan daun
Nama Daun Umur Luas
permukaan
Tidak diketahui namanya Tua 46 cm2
Eidelweiss Muda 2,7 cm2
Cantigi Gunung Muda 4,8 cm2
Pembahasan
Dalam praktikum ini digunakan sampel daun yang diambil dari puncak Gunung Pangrango dengan ketinggian 3.019 meter di atas permukaan air laut. Dipilihnya tempat tersebut untuk pengambilan sampel karena mempunyai topografi yang tinggi dan suhu yang rendah, sehingga peluang untuk menemukan bakteri filosfer lebih banyak, karena dari penelitian sebelumnya diketahui bahwa populasi bakteri filosfer akan turun dengan semakin tingginya suhu lingkungan sehingga jarang ditemukan pada dataran rendah (Wilson & Lindow 1994).
Sampel daun yang diambil adalah Cantigi Gunung, Eidelweiss (Anaphalis javanica), dan satu daun yang tidak diketahui namanya (untuk selanjutnya disebut daun X). Dari ketiga daun tersebut diperoleh hasil satu isolat yang mampu membentuk C selama 5 menit. Isolat tersebut berasal°nukleasi es pada suhu -10 dari daun yang tidak diketahui namanya. Terbentuknya nukleasi es pada suhu tersebut belum bisa disimpulkan bahwa isolat tersebut adalah bakteri pembentuk kristal es, karena pada suhu tersebut banyak material yang dapat menjadi inti pembentukan es (Suwanto 1994). Namun kekhawatiran mengenai hal ini terbantah dengan adanya perlakuan pada isolat dari daun yang lain yaitu daun Eidelweiss (Anaphalis javanica). Seandainya yang menjadi inti pembentukan kristal es pada isolat dari daun X tersebut bukan berasal dari protein INA dan berasal dari materi selain itu, maka bisa dipastikan bahwa isolat dari daun Eidelweiss juga akan membentuk nukleasi es. Tapi ternyata dari kedua isolat yang diujikan hanya satu yang dapat membentuk nukleasi es, yaitu dari daun X. Dengan demikian dapat diasumsikan bahwa isolat tersebut adalah benar bakteri nukleasi es. Untuk mengetahui kemampuan nukleasi es lebih lanjut perlu dilakukan verifikasi protein INA, karena protein ini yang paling berperan dalam nukleasi es pada bakteri (Wilson & Lindow 1994; Wahtudi AT 1995; Suwanto A 1994).
Ditemukannya isolat positif nukleasi es pada daun X tidak lepas dari pengaruh umur jaringan daun. Daun X yang diambil umurnya lebih tua (ditunjukkan dengan warna hijau tua), daunnya lebih tebal, dan permukaannya lebih luas dibandingkan kedua daun lainnya.Umur berpengaruh terhadap eksudat yang dikeluarkan, yaitu semakin tua daun maka eksudat gula maupuan asam amino yang dikeluarkan juga akan semakin banyak, sehingga bakteri lebih suka menghuni daun yang tua. Pada Eidelweiss, jaringan daun yang diambil tergolong masih muda (dekat ujung apeks karena masih melekat calon bunga) dan permukaan daunnya kecil sehingga wajar jika populasi bakteri rendah dan waktu uji aktivitas nukleasi menunjukkan hasil negatif.
Populasi bakteri pembentuk nukleasi es sangat dipengaruhi oleh jumlah populasi, sedangkan jumlah populasi dipengaruhi oleh luas permukaan daun. Pada daun Cantigi Gunung permukaan daunnya relatif kecil (kurang lebih 2.7 cm2), jauh lebih kecil dari daun X (kurang lebih 46 cm2), sehingga mungkin saja hal ini mempengaruhi populasi bakteri yang menghuninya. Sekitar 0.1%-1% dari total permukaan daun dihuni oleh bakteri, sedangkan sisanya mati karena desinfektan topikal. Dari total bakteri yang ada diketahui hanya 1/1000 dari populasi yang membentuk nukleasi aktif. Pada kasus daun Eidelweis maupun Cantigi, bukan berarti tidak ada bakteri pada daun tesebut karena dalam uji aktivitas nukleasi yang paling menentukan adalah populasi total bakteri nukleasi. Untuk dapat membentuk nukleasi es bakteri nukleasi harus mencapai quorum sensing, yaitu jumlah minimal yang harus dipenuhi oleh bakteri. Di bawah jumlah minimal tersebut bakteri tidak mampu membentuk nukleasi es. Hal ini behubungan dengan ptootein INA yang dihasilkan bakteri tesebut. Protein INA merupakan protein unik yang dihamparkan pada membran luar sel bakteri pembentuknya. Protein tersebut disandikan oleh satu gen tunggal yang disebut gen ice atau ina (ice nucleation activity). Efektifitas protein pembentuk kristal es ditentukan oleh penataan dipermukaan membran serta tingkat agregasinya. Pada populasi bakteri yang tinggi, penataan dan agregasinya kompak sehingga jika satu protein sudah membetuk kristal es, maka protein yang lainnya akan lebih mudah terinisisai. Suhu dalam hal ini sangat mempengaruhi, yaitu ketika suhu rendah (kurang dari 0 0C) air berada dalam keadaan metastabil. Kemudian protein INA yang bersifat hidrofilik akan mengkatalisis pembentukan es. Dengan terbentuknya satu kristal es maka protein yang disusun kompak tersebut akan langsung menginisiasi air disekitarnya menjadi es juga.
Eidelweis dikenal sebagai bunga yang tidak mudah layu, sehingga lazim disebut bunga abadi. Kemampuan Eidelweiss untuk tidak mudah layu kemungkinan disebabkan oleh faktor eksudat dan lapisan lilin tebal yang dimilikinya. Eksudat tersebut mungkin lebih berfungsi sebagai senyawaan anti mikrob (bakterisida) yang menghambat pertumbuhan bakteri filosfer permukaan daun. Sedangkan lapisan lilin tebal bersifat hidrofobik juga menghalangi kolonisasi bakteri. Hubungannya dengan bakteri nukleasi es, protein INA bakteri nukleasi es bersifat hidofilik, yang menyukai adanya air pada permukaan daun (Wahyudi AT 1995). Lapisan lilin tebal pada Eidelweiss akan menciptakan kondisi hirofobik, yang sangat bertentangan dengan protein bakteri yang hidrofilik. Faktor lain yang menyebabkan tidak ditemukannya nukleasi es pada isloat daun Eidelweis mungkin karena pengujian hanya dilakukan pada dua isolat sedangkan sisanya tidak diuji karena keterbatasan media.
Media kultur dan inkubasi mempunyai pengaruh penting dalam ekspresi aktivitas inti es dari bakteri nukleasi es. Media kultur yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu King’s B agar, sudah cukup bagus untuk pertumbuhan bakteri karena bersifat padat dan mengandung gliserol sebagai sebagai sumber C. Perumbuhan pada media padat diketahui lebih efisien dibanding pertumbuhan pada media cair yang diaerasi (Lindow 1990). Sedangkan waktu inkubasi yang digunakan dalam penelitian ini C). Pada suhu°kurang efektif karena menggunakan suhu kamar (27 C frekuensi pembentukan inti es dari bakteri°diinkubasi lebih dari 24 pembentuk inti nukleasi es menurun secara nyata (Lindow 1990).
Adanya protein kristal es berhubungan dengan adaptasi bakteri pada situasi yang berubah dengan cepat. Bakteri yang hidup pada permukaan daun dihadapkan pada cuaca yang berubah secara drastis, seperti radiasi sinar ultraviolet matahari, angin, dan hujan (Suwanto A 1994). Disamping itu bakteri permukaan daun juga harus bersaing dengan bakteri lain untuk mendapatkan nutrisi yang serba terbatas. Untuk itu bakteri nukleasi es harus mempunyai mekanisme pertahanan diri terhadap kondisi tersebut. Mekanisme tersebut salah satunya dengan cara pembentukan nukleasi es. Kristal es yang dibentuk dapat digunakan untuk melukai tanaman sehingga mempermudah penyerapan nutrisi. Kristal es juga dapat digunakan untuk menghambat bakteri lainnya yang memggunakan niche ekologi sama atau untuk pertahanan diri terhadap cuaca yang berubah dengan cepat.
Untuk mengetahui kemampuan nukleasi es sebenarnya dari bakteri pada daun X, dan juga daun-daun lainnya, perlu dilakukan verifikasi protein INA dan pemurnian serta pengkayaan isolat bakteri, sehingga diperoleh densitas bakteri yang murni dan dapat membentuk nukleasi pada suhu yang lebih hangat. Usaha demikian sangat penting untuk aplikasi dalam dunia industri, kesehatan, dan pengaturan iklim mikro dan makro.
DAFTAR PUSTAKA
Gurian-Sherman D and SE Lindow 1988. Bacterial Ice Nucleation: Significance and Molecular Basis. FASEB J. 7:1338-1343.
Lindow SE. 1983. The Role of Bacterial Ice Nucleation in Frost Injury to Plant. Ann.Rev. Phytopathol. 21:363-384.
Lindow SE. 1989. Use of Genetically Altered Bacteria to Achieve Plant Frost Control. hlm. 85-111. University of California at Barkeley: California.
Lindow SE. 1990. Bacterial Ice Nucleation Activity. hlm 428-434. Dalam: Z. Klement K Rudolp and DC Sand, Editor. Methods in Phytobacteriology. Budapest: Academiai Kiodo.
Suwanto A. 23 Oktober 1994. Iptek & Kesehatan : Membuat Hujan dengan Bakteri. Kompas, hlm. 11.
Wahyudi AT. 1995. Pembentukan Inti Es oleh Bakteri. Ulas Balik. Hayati 2:55-59.


0 comments share

ReviewReviewReviewReviewReview

OHMANESA WASHTE 2005

Sep 23, ‘06 12:20 AM
for everyone

Category:

Other

Kau tentu akan merasa kecil jika dibandingkan dengan bentangan laut dan pantai. Atau dengan kerumunan pohon lebat yang sering kau sebut hutan. Juga ketakjuban akan kreasi Tuhan yang selama ini kau sebut alam. Kau bisa membuktikannya. Kau bisa menjadi saksi betapa luar biasa kreasi Tuhan. Dan kau akan merasa kecil jika dibandingkan dengan itu semua. Kau juga bisa mengalahkan egomu yang selalu membisikkan bahwa kau yang terkuat. Kau juga bisa menyakinkan dirimu sekali lagi, bahwa kau bisa. Kau bisa melewati itu semua. Kau bisa memberikan arti buat teman perjalananmu. Dan akhirnya, kau bisa mengatakan bahwa kau adalah OHMANESA WASHTE, “petualang yang baik”.
Nama “Ohmanesa wasthe” diambil dari bahasa Indian yang berarti “petualang yang baik”. Ekspedisi ini dilaksanakan di Taman Nasional Ujung Kulon (rute Taman Jaya – karang ranjang – Kalajetan – Cegok – pegunungan honje – Taman jaya) pada tanggal 1-4 September 2005. Wounded Knee, (The Custodian Mother of Nature), organisasi pecinta dan penggiat alam yang bermarkas di RS. Puri Cinere, Jl. Maribaya I, Limo, Depok menjadi panitia pelaksana ekspedisi tersebut.
Ohmanesa washte adalah ekspedisi yang unik. Ekspedisi yang lain dari yang lain, karena tujuan utamanya bukan hanya sekedar melihat keindahan Ujung Kulon yang gaungnya sudah mendunia, melainkan lebih bertujuan untuk mengangkat sisi kemanusiaan, mendewasakan emosional, dan mewujudkan kekompakan dan kebersamaan, sehingga setiap peserta dapat menjadi ohmanesa washte, petualang yang baik. Maka tidak heran, peserta ekspedisi ini berasal dari berbagai kalangan profesi dan usia. Sebanyak 70 orang peserta berasal dari dokter spesialis, karyawan swasta, perawat, seniman, ilmuwan, mahasiswa, dan profesi lain. Usianya pun sangat beragam dari anak-anak sampai orang tua. Peserta termuda berumur 11 tahun dan yang paling tua berumur 64 tahun. Meskipun berasal dari berbagai unsur dan usia tujuannya adalah sama yaitu menjadi ohmanesa washte, petualang yang baik.
Selama tiga bulan panitia mempersiapkan segala keperluan untuk mensukseskan kegiatan tersebut. Langkah pertama yang dilakukan panitia adalah sosialisasi kegiatan melalui mulut ke mulut, edaran resmi, dan situs internet (www.rspuricinere.com). Di luar dugaan sosialisasi tersebut cukup mendapatkan sambutan yang hangat. Tidak kurang ada 100 orang yang mendaftar. Mengingat kapasitas armada angkutan yang terbatas, peserta yang diterima adalah 60 pendaftar pertama.
Panitia memberlakukan aturan wajib terhadap 60 peserta tersebut. Salah satu aturan wajib tersebut adalah kewajiban peserta untuk mengikuti tenichal meeting, aklimatisasi, diskusi alam, latihan fisik, dan minum obat anti malaria, mengingat Ujung Kulon masih merupakan daerah endemik malaria. Tenichal meeting I membahas mengenai gambaran umum kegiatan dan pembekalan peserta mengenai dasar-dasar survival dan perencanaan kegiatan alam bebas. Tenichal meeting II yang dilaksanakan H-3 merupakan koordinasi akhir sebelum perjalanan yang sebenarnya. Sedangkan aklimatisasi dilakukan di base camp Rumpin, Leuwiliang, Bogor pada tanggal 8-9 Agustus 2005. Tujuan aklimatisasi adalah melihat tingkat emosional peserta dan kemampuan fisiknya. Aklimatisasi ini dibuat mirip dengan kondisi di lapangan, di mana dalam aklimatisasi ini peserta diberikan materi mengenai pengenalan tanda-tanda medan, teknik pembacaan peta, jurik malam, juga disisipkan acara diskusi alam pada tiap pos yang membahas permasalah yang sering dihadapi dalam perjalanan ke alam bebas. Latihan fisik dilakukan setiap hari selasa dengan bermain bola di lapangan bola Limo, Depok. Sayangnya latihan fisik ini hanya dihadiri beberapa peserta mengingat waktu latihannya pada hari kerja (selasa).
Sekilas terlihat bahwa aturan yang diberlakukan panitia terkesan kaku dan terlalu ketat. Akan tetapi, pada dasarnya aturan tersebut bertujuan agar ekspedisi yang dilakukan berjalan dengan aman, lancar, dan sesuai dengan target yang telah ditentukan. Terbukti, dengan persiapan yang matang tersebut, ekspedisi ohmanesa washte berjalan dengan sukses. Hal ini bisa dilihat dari target ekspedisi yang tercapai hampir 100%. Target yang dimaksud di sini adalah target waktu perjalanan dan target jumlah peserta yang berhasil menyelesaikan ekspedisi. Mengenai target waktu perjalanan, dari pos ke pos, waktu istirahat dan makan, buka tenda, tidur, dan briefing di lapangan sesuai dengan jadwal, dan kalaupun ada perbedaan tidak lebih dari setengah jam. Koordinator lapangan memegang andil yang besar dalam mengatur alokasi waktu tersebut. Satu hal yang tidak sesuai adalah mengenai pemberangkatan dari Jakarta menuju Taman Jaya yang mengalami keterlambatan karena mobil marinir yang di sewa mengalami kerusakan sehingga harus diganti dengan mobil yang lain. Untungnya keterlambatan tersebut tidak mempengaruhi jadwal ekspedisi karena tracking Ujung Kulon tetap bisa dilaksanakan sesuai jadwal ekspedisi, yaitu pukul 06.00 WIB hari berikutnya (Jumat). Mengenai target peserta, semua peserta berhasil menyelesaikan ekspedisi sesuai dengan jadwal dan rute yang sudah ditentukan. Dalam ekspedisi ini peserta di bagi dalam lima kelompok besar ( Oglala, Dakota, Teton, Sioux, dan Santee) berhasil menunjukkan kekompakan dan kebersamaan, meskipun pada awal perjalanan menuju pos Karang Ranjang kelompok sempat tercerai berai. Hal ini karena ada beberapa peserta yang masih mengikuti egonya masing-masing dan belum memahami pentingnya kebersamaan.
Mengenai kerjasama dan kekompakan anggota kelompok, perlu mendapatkan acungan jempol untuk semua peserta mengingat peserta berasal dari latar belakang berbeda dengan kemampuan fisik yang berbeda pula. Dalam menghadapi kondisi medan yang cukup berat di lapangan (panas, haus, lapar, angin, pasir lembut, di kejar target), dimana hal tersebut sering menimbulkan konflik individu dan kelompok, ternyata bisa dilewati peserta dengan sangat baik. Sekali lagi, peserta patut mendapatkan acungan jempol karena bisa menunjukkan kegigihan yang luar biasa dalam mengatasi hal tersebut.
Kesuksesan Ohmanesa Washte tidak lepas dari kerja keras Koordiantor Lapangan (Amsi, Anton, Broto, Nur) yang selalu memberikan motivasi kepada peserta untuk pantang menyerah dan selalu mengutamakan kerjasama dan kebersamaan. Tidak henti-hentinya disampaikan kepada peserta bahwa perjalanan ekspedisi ini adalah sebuah misi, yang mau tidak mau semua peserta harus menyelesaikannya, karena keberhasilan misi ini dapat menjadi titik tolak untuk keberhasilan yang lebih besar, yang lebih nyata dan sebenarnya, yaitu keberhasilan di tempat dimana peseta melakukan aktivitas pekerjaan, baik yang menjadi karyawan, perawat, pelajar, mahasiswa, atau profesi yang lain. Dalam setiap briefing sebelum melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya, selalu di tanamkan bahwa ekspedisi ini juga merupakan “character building”, ajang pembentukan karakter manusia seutuhnya, sehingga semua dapat menjadi ohmasena washte dimanapun dan kapanpun berada. Sehebat apapun cara kerja panitia, tanpa kerjasama dari peserta, ekspedisi tidak akan akan berjalan dengan baik. Peserta meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda menunjukkan sikap proaktif dengan panitia sehingga himbauan yang diberikan selalu dijalankan dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab.
Tidak ada gading yang tidak retak, dan tidak ada sesuatu yang sempurna, kecuali Tuhan dan ciptaan-Nya. Ohmanesa Washte juga tidaklah sempurna 100% seperti yang diharapkan oleh semua pihak, baik peserta maupun panitia. Dalam pelaksanaannya juga masih terdapat kekurangan yang perlu mendapatkan evaluasi agar perjalanan selanjutnya menjadi lebih baik. Dari pihak panitia masih perlu dioptimalkan kinerja beberapa seksi, sedangkan dari pihak peserta dinilai sudah cukup bagus, kecuali ada segelintir peserta (tidak lebih dari 4 orang) yang harus lebih banyak belajar mengenai arti kebersamaan dan kekompakan, bukan mementingkan diri sendiri.
Berdasarkan evaluasi perjalanan, dapat disimpulkan bahwa Ohmanesa Washte adalah ; ekspedisi yang sukses ; ekspedisi yang patut dijadikan contoh untuk penyusunan rencana ekspedisi yang akan datang, dan ; ekspedisi yang membawa kesan luar biasa dalam hidup semua peserta. Suksesnya ekspedisi tidak lepas dari kerjasama peserta dan panitia. Tidak ada salahnya juga kalau ekspedisi ini sukses atas bantuan moril maupun material yang di berikan oleh Bang Elang (dr. Isma). Beliau banyak memberikan filosofi mengenai alam dan kehidupan yang sangat bermanfaat dan beliau juga memberikan banyak bantuan akomodasi untuk panitia dan peserta. Terima kasih Bang, Bravo !!.


0 comments share

ReviewReviewReviewReview

PENDAKIAN MR KE GEDE 18-19 JUNI 2005

Sep 23, ‘06 12:15 AM
for everyone

Category:

Other

Barangkali lagu tadi mengingatkan kami akan pendakian yang telah kami laksanakan bersama. Tetapi, bukannya “tinggi-tinggi sekali…iii, melainkan “capek-capek sekali…ii”. Demikianlah mungkin apa yang dinyanyikan oleh Tatik, Lina, Eka, dan Diah. Sungguh, pendakian kemarin pastilah membawa pengalaman sendiri-sendiri bagi yang mengikutinya. Dan pasti, terlalu banyak kata-kata yang harus diungkapkan ketika kita diminta untuk menceritakannya.
Peserta pendakian kali ini adalah Medical Representative area Jakarta Selatan terutama dari Medrep RS. Pondok Indah, fatmawati, dan RS. Internasional Bintaro. Berawal dari keisengan Amsi yang menunjukkan foto-foto pendakiannya di Gunung Cermai, Bayu (PT. Fournier) dan Tatik PT. Glaxo) merasa terprovokator sehingga meminta Amsi (PT. Meiji Indonesia) untuk mengkoordinir anak-anak Medrep melakukan pendakian bersama. Amsi menyetujui dan memutuskan Gunung Gede adalah tujuannya, mengingat jarak dan lama tempuh yang relatif singkat dari Jakarta. Tidak ada susunan panitia dalam pendakian ini, yang ada hanya koordinator saja yang dipegang Amsi dan Bayu. Sosialisasi acara disebarkan melalui selebaran dan mulut ke mulut, hasilnya banyak sekali yang berminat, 60 Medrep lebih, meskipun yang akhirnya jadi jalan hanya 40 orang. Tetapi susah sekali mengumpulkan mereka untuk sekedar Tenichal meeting apalagi iuran 50.000, sehingga sempat pula kami pesimis bahwa acara tersebut akan sukses. Terpaksa deh amsi harus nalangin dahulu uang untuk boking.
Itu cerita lalu, yang penting semuanya sudah dilaksanakan dan buktinya: SUKSES. Kesuksesan ini tak lepas dari keikutsertaan teman-teman di RS Internasional Bintaro (4 orang) dan RS Puri Cinere (10 orang). Meskipun peserta Puri hanya iuran 35.000, tetapi mereka bisa mengurangi beban biaya mobil yang cukup besar. Sebagai catatan, peserta puri juga menyediakan 8 buah tenda dum dan 6 set alat masak beserta bahan bakarnya, sehingga cukup wajar seandainya mereka hanya iuran 35.000, karena tanpa tenda dan alat masak, peserta harus menyewa peralatan tersebut yang tidak murah biaya sewanya.
Jam 14.00 tanggal 18 Juni 2005 semua peserta berkumpul di RS Fatmawati. Ketika semua peserta sudah berada di dalam truk marinir dan siap diberangkatkan ke Cibodas, datang berita duka cita. Bapaknya Bayu yang meninggal dunia dan akan dimakamkan jam 17.00 pada hari itu juga sehingga bayu harus pulang dan tidak bisa mengikuti kegiatan. Kami sempat memberikan doa kepada almarhum yang dipimpin oleh ustaz Arief (PT. Novell). Selesai berdoa, jam 15.00 kami langsung berangkat ke Cibodas melalui tol.
Keluar tol ciawi jalannya macet. Dasar playboy kabel, kemacetan malah dimanfaatkan anton, jojon, mandra, amsi dan yang lain untuk godain awewe geulis yang naik motor, mobil, atau jalan kaki, sehingga suasana jadi tambah ramai. Apalagi dalam truk marinir juga ada peserta yang lagi pe-de-ka-te. Siapa tuh??? Kemacetan hanya sampai mega mendung dan setelah itu lancar kemabali. Jam 17.30 kami sudah sampai kantor Taman Nasional Gede Pangrango yang berada di Cibodas pada ketinggian sekitar 1300 mdpl, berhawa sejuk dan pemandangannya sangat indah sekali. Disebelah kantor terdapat banyak sekali villa dan tempat wisata seperti Mandalawangi dan kebun raya Cibodas. Sesampainya di kantor tersebut, rombongan ada yang sholat, bersih-bersih, dan duduk-duduk saja sambil menunggu datangnya makanan yang dipesan amsi dan anton. Setelah makanan siap, kami semua menyantap hidangan murah meriah, nasi sayur telur+sedikit orek seharga 2500/bungkus ditambah air minumnya. Cukup murah untuk ukuran jakarta.
Selesai makan kami mengecek kelengkapan dan kesiapan rombogan dilanjutkan dengan salam alam yang dipimpin duki. Selesai salam alam, dilanjutkan dengan breifing di halaman kantor taman nasional yang dipimpin oleh amsi. Karena peserta pendakian cukup banyak, 45 orang, kami membagi tim dan menunjuk ketua timnya beserta tim sweeping dan runner. Jam 20.00 kami memulai pendakian setelah sebelumnya kami mengurus perijinan di pos pendakian gunung gede pangrango. Semenit baru kami berjalan meninggalkan kantor, gerimis menyambut kami. Kami sempat membuka rain coat dan berjalan kembali. Rupanya hanya hujan-hujan ayam yang menyambut kedatangan kami untuk menguji semangat kami, karena tidak sampai 15 menit, cuacanya menjadi sangat cerah. Kami bisa melihat langit dan bintang-bintang di angkasa. Kami juga dibantu penerangan oleh sinar bulan meskipun malam itu bukan bulan purnama. Yah, malam itu alam sangat bersahabat dengan kita. Satu filosofi dari heni yang selalu didampingi cowoknya, “kalau kita menghormati alam, alam juga akan menghormati kita“. Emang iya ya hen……….
Perjalanan menuju panyancangan, 2.3 km dari pos, diisi dengan gurauan, ejek-ejekan, juga curhat-curhatan. Rupanya banyak juga peserta yang menjadi BPH, alias Barisan Patah Hati, sehingga tak segan-segan ada yang nyanyiin lagu tak bisa pindah ke lain hati-nya kla, atau jujur punya radja. Yang merasa BPH jangan marah lho. Sebelum sampai panyancangan kami melewati jembatan kayu yang panjangnya 300m dan sangat indah sekali. Kata tatik dan diah tempatnya romantis (Je’ilah mbak…romantis gitu lho..h!). Kami beristirahat agak lama di panyancangan.
Tidak selamanya niat yang kuat bisa diwujudkan. Pada saat berangkat semua peserta sangat kelihatan bersemangat. Tapi apa boleh dikata, fisik tetap saja bisa down, apalagi sebagian peserta baru sekali-kalinya naik gunung. Sudah terlihat wajah-wajah yang mulai pucat dan kedinginan. Seleksi alam dimulai, demikian kata amsi. Yang kuat lanjut, yang tidak kuat “nge-camp aja dech”. Saat-saat yang ditunggu tiba, yaitu saatnya membuka bekel kue, roti, wafer, coklat, pocari, extra jos dan entah apa lagi. Tapi yang jelas, setiap bekel yang dibuka, akan disambut dengan wajah yang penuh riang gembita. Mandra, topnya ranger anak rep salah satu contohnya. Tak lupa dengan cekatan, anton menyiapkan kopi panas bagi siapa yang menginginkannya. Anton dan ewo bisa dijadikan “bibi” dan “mamang” yang setia dalam pendakian ini. “Bibi” karena siap memasak dan membuatkan minuman kapanpun diminta, “mamang” karena rajin bawa beban berat.
Setelah cukup beristirahat, kami melanjutkan perjalanan ke puncak gede. Mbak Trie, Rissa, dan Udi dari RSI Bintaro terpaksa harus ngecamp. Enam peserta puri meskipun sebernarnya kuat sampai puncak juga memilih ngecamp, dan empat orang teman deni soho juga ngecamp di Panyancangan. Sesuia dengan intruksi dr. Isma, Sp.B peserta dari RS. Puri Cinere yang ngecamp dibawah (tidak mau capek-capek ke puncak) jam 12.00 malam harus mandi dan berendam di air terjun cibeureum sebagai hukumannya, dimana eksekutornya adalah Pak Duki. Tapi sayang hukuman itu tidak dapat dilaksanakan karena sedang ada prosesi ritual oleh orang yang tidak kami kenal di air terjun tersebut yang melarang pak duki cs untuk mendekati air terjun, bahkan untuk sekedar mengambil air wudlu disitu juga dilarang.
Perjalanan dari panyancangan menuju puncak lambat merayap. Lambat karena sering istirahat, merayap karena jalannya mulai terjal mendaki jadi kadang ada peserta yang harus merayap terengah-engah. Dengan perjuangan keras kami semua berjalan pelan-pelan. Lina, Eka, tatik, dan juga diah walaupun kelihatan capek dan nafas ngos-ngosan tetap maju pantang menyerah. Sebuah kegigihan yang patut diacungin jempol buat mereka semua. Melewati air panas kami memasang kewaspadaan I dan sangat berhati-hati, karena batu-batunya licin, udah gitu salah sedikit bisa masuk jurang atau kecebur ke air panas yang suhunya 55-700C. Cukup panas untuk membuat kaki kita “ngglojoti”. Panjang jalan yang dilalui air panas sekitar 25 m yang sebelah kanannya jurang dan sebelah kiri dinding batu yang dialiri air panas dari atas.
Nure, Lina, dan Arief memilih ngecamp di shelter dekat air panas. Kondisinya sudah mulai drop, sedangkan yang lain tetap semangat sampai ke puncak. Tetapi, baru berjalan 150 m dari air panas Eka (PT. Combhipar) pingsan. Eka terkena “mountain sickness”, yang ditandai dengan lemah, lesu, mual, kepala pusing, mual kadang disertai muntah, dan akhirnya pingsan. Jajat, ronald, broto segera memberikan pertolongan pertama. Tatik mengoleskan minyak kayu putih. Hampir saja Amsi mau memberikan nafas buatan, tapi tak lama kemudian eka sudah bangun. Hehe..becanda eka!. Didampingi oleh ronald dan jajat, Eka di bawa turun ke air panas dan mereka ngecamp disitu. Emang, ronald dan jajat dalam pendakian ini sangat care dengan kelompok timnya. Eka dimasukin ke tenda nur, sedangkan ronald, jajat, dan arief buka tenda sendiri. Tapi dasar cowok suka begadang, mereka ternyata ga pada tidur malah ngobrol di depan tenda beralaskan matras. Dengan kantuk yang sudah menjadi-jadi, perjalanan dilanjutkan menuju kandang badak, pos terakhir sebelum puncak. Rombongan jojon yang paling duluan sampai kandang badak jam 01.00-an, rombongan yang dipimpin anton sampai jam 02.30, sedangkan rombongan terakhir jam 04.30 baru sampai. Tenda dum segera didirikan disebelah tenda rombongan pertama dan anak-anak langsung tidur. Di kandang badak, banyak sekali pendaki lain yang sudah ngecamp, ada 20an tenda disitu. Dengan matras diluar dum, Amsi langsung masuk dalam sleeping bag tidur blek-sek dan baru bangun jam 06.30 karena suara anton yang seperti toa meraung-raung. Wiwin dan triyanto tidak tidur semalaman, nongrong di depan dum sambil menggigil. Tidak tahu persis apa yang mereka omongkan. Ni anak berdua memang jagonya begadang karena memang tidak tidur selama pendakian. Sedangkan amsi katanya “ketika bangun, saya melihat semua orang memperhatikan saya, tidak tahu kenapa, saya hanya mendengar orang pada manggil saya gorilla, ternyata dalam kantung tidur saya yang “lemu ginuk-ginuk” dan posisi tidur saya yang ngringkel, saya mirip gorilla” kata amsi.
Praktis jam 06.20 kita semua sudah pada bangun. Suara antonlah yang bikin pada bangun. Hanya mandra yang tidurnya paling molor. Dengan muka yang super kucel, kucuk-kucuk-kucuk ehhh, si mandra bangun juga mendengar kita pada ketawa-ketawa di luar. Segera, sang bibi juru masak kita, ewo dan anton, langsung menghidangkan mie panas, corned, nasi instan indofood, kopi, teh dan apapun yang bisa dihidangkan, termasuk menghidangkan diri. Tak kalah gesitnya, si cantik diah (PT. Ferron) juga mengeluarkan ransumnya. Ngomong-ngomong soal perbekalan makanan, diah-lah yang kelihatannya paling banyak, karena bentar-bentar selalu mengeluarkan makanan.
Jam 07.00 sebanyak 28 orang melanjutkan perjalanan ke puncak, hanya amsi yang tinggal di camp kandang badak menunggui tenda. Rombongan ke puncak dipimpin anton dan mandra. Ewo dan mpok juga memberikan support dibelakang, sekaligus sebagai runner dan sweaper. Sepanjang perjalanan ke puncak dari kandang badak tak henti-hentinya kami bercanda satu sama lain sehingga menambah erat tali persahabatan di antara kami. Meskipun diantara kami sebelum pendakian ini belum saling kenal, tetapi dalam perjalanan kami ibarat sudah saling kenal lama.
Melewati tanjakan rante pendaki dari rombongan kami yang belum pernah mendaki gunung gede merasa agak minder melihat tanjakan yang kemiringannya hampir 80 derajad. Tapi dengan semangat baja, mereka semua mampu melewatinya. Anton yang berjalan paling duluan, sedangkan diah dan tatik belakangan berjalan satu-persatu, dengan harapan di foto dari atas sambil bergaya layaknya pendaki profesional yang sedang climbing. Sampai di atas tanjakan rante kembali kami berfoto ria dengan latar belakang puncak gunung pangrango yang sangat indah.
Dari atas tanjakan rante menuju puncak gede jalan semakin menanjak, menanjak, dan suueemakin menanjak terjal yang bikin orang putus asa. Ayu yang tahun kemarin juga naik ke gede dan hampir tidak kuat meneruskan perjalanan, dalam pendakian ini terlihat paling agresif. Ia dan hanum berjalan paling duluan meninggalkan yang lain. Ewo dan Siti yang start belakangan dari kandang badak juga sangat agresif, hanya 30 menit yang mereka butuhkan untuk sampai tanjakan rante dari kandang badak. Ewo yang bertemu dengan anton di atas tanjakan rante segera menggantikan kerir yang dibawa anton dan langsung meluncur ke puncak dengan cepat disusul mpok dibelakangnya, sedangkan anton menemani diah dan tatik yang tertatih-tatih (bukan ter-tatik-tatik lho). Dua primadona pendakian kita ini menanyakan “puncak masih jauh tidak” dan selalu dijawab “dikit lagi sampai, tinggal dua belokan lagi, kiri dan kanan”. (memang benar juga sih, karena seberapa jauh kita berjalan, kita hanya akan menemukan dua belokan, yaitu kiri dan kanan.). Begitulah perjuangan mencapai puncak yang penuh dengan usaha keras dan nafas ngos-ngosan. Lain halnya dengan usman, oding, dan jojon. Ni anak bertiga denger-denger tidak pada buka camp di Kandang Badak dan langsung ke puncak. Mereka sampai di puncak jam 04.00 dini hari, dan hanya mereka bertiga yang dapat menikmati indahnya sunrise. Tapi ni anak bertiga lupa kalau nesting di bawa rombongan dibelakang, sehingga harus pinjam pendaki lain.
Akhirnya dengan perjuangan yang keras dan semangat yang tak mudah putus asa, sampai juga kami di puncak gunung gede jam 09.00. Pertama kali menginjakkan kaki di puncak ada persaan lega menyelimuti dada, seolah capek dan badan yang pegal-pegal hilang seketika ketika kami melihat hamparan alam di bawah kami, juga ketika terbentang langit biru yang maha luas di sekitar kami, awan yang biasanya kami lihat ada di tas, sekarang kelihatannya ada di bawah kami, juga keindahan kawah gede yang selalu mengeluarkan asap dan bau belerang serta bunga abadi yang menawan. Sungguh indah sekali, dan tak henti-hentinya kami bertasbih memuji keagungan Tuhan pencipta alam. Berada pada ketinggian lebih dari 2.900 mdpl sungguh membuat kami merasa sangat kecil dihadapan tuhan dan tidak ada alasan bagi kami untuk menyombongkan diri.
Sambil menikmati keindahan alam, di puncak gunung gede kami sempat berfoto bersama, memasak mie, dan membuat kopi panas. Ada perasaan haru menyelimuti. Haru melihat kebersamaan kami meskipun kami baru kenal satu sama lain dalam pendakian ini. Ternyata acara pendakian ini membuat kami jadi semakin tambah teman dan sahabat yang memang benar-benar mau membantu dalam suka maupun duka.
Setelah puas menikmati pemandangan di puncak, jam 09.45 kami mulai packing barang untuk persiapan turun. Jam 10.00 kami mulai meninggalkan puncak gede. Ada perasaan sedih meninggalkan puncak gede, karena tidak tahu kapan lagi kami bisa kembali ke sini sehingga dengan rasa yang agak males kami mulai berjalan meninggalkan puncak. Kami ber 26 berjalan beriringan, karena siti dan ewo sudah turun duluan. Ewo dan siti ditunjuk sebagai runners dengan pengalaman pendakian yang cukup banyak, bahkan untuk pendakian ke gede jumlahnya sudah tidak terhitung. Sebenarnya mereka berdua punya tugas nungguin camp kandang badak, tapi karena ngotot pingin naik, maka mereka diijinkan naik oleh amsi tapi hanya diberikan waktu 2 jam PP kandang badak – puncak dan mereka bisa membuktikannyal. Tak jauh dari puncak terjadi musibah yang menimpa anton, “saya yang berjalan dengan carier di pundak yang lumayan berat tak sengaja nginjak batu rapuh sehingga saya terjatuh dan engkel kaki kanan saya langsung mblendung”, kata anton. Sebelumnya engkel kaki kanan anton juga pernah cedera. Kami beristirahat sejenak untuk memberikan pertolongan pada kaki anton. Untung fotografer kita, bang Broto, membawa tensocrap (pembalut elastis bertekanan tinggi) dan alhasil, setelah dibalut, kaki anton bisa di gerakan dan bisa melanjutkan perjalanan dengan sebuah tongkat. Meski dengan tertatih-tatih, “saya berusaha untuk tetap berjalan”, kata anton. Bang Broto segera menggantikan beban kerir yang dibawa anton, sedangkan anton membawa day-pack Hanum. Melihat musibah yang menimpa anton, diah memberikan semangat agar anton berhati-hati dan tidak putus asa. Rupa-rupanya himbauan diah sangat diperhatikan oleh anton. Ada apa denganmu……………TON??
Sampai di kandang badak dengan tertawa-tawa anton minta maaf pada amsi, karena telah ngeledek amsi dengan sebutan gorilla sehingga ia kuwalat, tapi dibalas tertawaan anak-anak. Istirahat sebentar di kandang badak sambil membereskan tenda dan mungutin sampah, kami lalu berjalan turun gunung bersama-sama, pelan-pelan, dan lagi-lagi…ledek-ledekan. Yang tidak kuat iman dijamin bisa kencing dicelana. “Ada untungnya juga anton kecelakaan, so anak-anak bisa bareng turunnya, coba kalau tidak, pasti pada ngacir sendiri-sendiri”, demikian kata amsi. Selama perjalanan turun kandang badak – panyancangan kami selalu bersama dan so pasti kenyang dengan ledek-ledekan. Tatik di panggil mak lampir yang kerjaannya jatuh mulu, karena bentar-bentar jatuh “nggregeli” kakinya. Sedangkan si diah, akrab dengan panggilan macan karena pake jaket mirip macan, udah gitu sepatunya pada jebol gara-gara cakarnya ketajeman sehingga harus diganti pake sandal jepit. Amsi dipanggil gorilla karena kerjaannya “ngringkel” mulu. Si papi kita, mandra, selalu rajin nungguin pasien yang kecapean, sedangkan triyanto cukup puas dengan jadi tukang mungutin sampah sepanjang jalan sambil ngarokok. Entah sudah berapa batang yang ia habiskan. Barangkali triyanto-lah yang paling banyak pahalanya karena rajin bawa sampah. Wiwin yang agak-agak pendiam tampaknya kelihatan mesra juga ketika bersama diah. Hanum yang sebenarnya punya tenaga “xena”, karena solidaritas sesama kawan, dengan rela juga harus berjalan pelan-pelan bareng anak-anak yang lain.
Turun sampai di Panyancangan kami beristirahat sebentar. Heni dan Nure yang setia menunggu kami dari puncak sudah menyiapkan minuman dan makanan hangat. Ketika kami beristirahat di panyancangan, banyak sekali rombongan pendaki lain yang istirahat di situ juga. Turun melewati jembatan kayu di bawah panyancangan yang indah dan romantis (kata tatik), kami berfoto ria sambil bergaya. Sampai di telaga biru rombongan terpisah. Diah dan amsi belakangan, yang lain pada duluan. Diah sudah kecapean dan tasnya harus dibantu dibawa amsi. Sampai di pos cibodas, amsi lapor kepada petugas jagawana bahwa rombongan sudah turun semua dan selamat. Amsi dan diah datang paling terakhir di kantor taman nasional bawah, anak-anak yang lain kelihatannya sudah pada selesai belanja oleh-oleh dan souvenir cibodas. Di kantor ini kami sempat berfoto juga. Lina yang pulang duluan karena harus ke bandung, sempat bergaya ok ketika difoto di kantor ini. Begitu juga dengan eka.
Jam 18.00 kami meninggalkan cibodas naik truk marinir. Tapi sebelumnya kami sempat kebingungan mencari tempat parkirnya karena jalanan cukup padat dipenuhi bus dan angkutan wisatawan yang datang ke cibodas. Sampai di Jakarta jam 20.30 dengan selamat jalan dan pulang kembali ke habitat masing-masing, lalu tidur pulas…..kecapean.
Demikianlah perjalanan kami, Medical Representative, area jakarta selatan ke gunung gede. Meskipun berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, dari perusahaan farmasi yang berbeda pula, atau meskipun di rumah sakit tempat kami memasarkan produk ethical kami adalah kompetitor yang selalu bersaing, tetapi di Gunung gede, di acara pendakian bersama ini kami bisa membuktikan bahwa kami adalah satu. Satu untuk semua, semua untuk satu. Kami yakin bahwa pendakian ini pastilah memberikan kesan luar biasa dalam hidup kami yang akan selalu kami ingat sepanjang masa dan akan kami ceritakan kepada anak cucu kami kelak. Bukan mengenai tingginya gunung yang telah kami daki, tetapi semangat kebersamaan, pengorbanan, dan tolong-menolong yang akan kami pegang teguh.

0 comments share

ReviewReviewReviewReview

CATPER MERBABU

Sep 23, ‘06 12:05 AM
for everyone

Category:

Other

CATATAN PERJALANAN
PENDAKIAN GUNUNG MERBABU

Sudah menjadi kebiasaan orang yang hobi mendaki gunung bahwa pada hari-hari libur nasional selain Sabtu dan Minggu selalu menjadi libur favorit untuk melakukan pendakian gunung, apalagi apabila hari libur tersebut jatuh pada hari Senin atau Jumat, bisa dipastikan banyak pendaki yang berduyun-duyun mendaki gunung-gunung yang notabenenya berada di luar kota. Seperti juga dengan saya (Amsi), Siti, dan Salma yang termasuk salah satu dari ribuan orang yang tertular demam gunung. Maka waktu bertepatan dengan hari libur nasional (hari Wafat Yesus) yang jatuh pada 25 Maret 2005, kami pun berencana melakukan pendakian ke Gunung Merbabu.
Hari kamis, 24 Maret 2005 jam 19.00 kami bertiga sudah berkumpul di terminal Kampung Rambutan. Pukul 19.30 bisa Sri Mulyo yang membawa kami sudah meninggalkan terminal. Jumat pagi jam 06.00 Kami memasuki kota Ungaran. Dari kejauhan sudah terlihat Gunung Merbabu yang menjulang tinggi. Disebelahnya terlihat gunung merapi yang selalu mengeluarkan asap, dan diarah timur kelihatan gunung Ungaran dan Telomoyo yang sangat indah meskipun tidak setinggi merbabu dan merapi.
Tepat jam 06.30 kami sudah sampai di pertigaan Pasar Kuda, salatiga. Keadaan pasar masih sepi. Kami berbelanja logistik di sini. Setelah semua logistic terpenuhi, kami segera meluncur menuju Kopeng mengunakan mobil elf dengan ongkos 2000. Sampai di kopeng perjalanan dilanjutkan menggunakan ojek menuju Base Camp Thekelan (1602 m) dengan tarif 5000 per orang melewati bumi perkemahan Umbul Songo, hutan pinus, dan pertanian penduduk. Jarak yang ditempuh tracknya menanjak sejauh 2,5 km.
Jam 08.30 kami tiba di base camp. Kami rombongan pendaki yang pertama tiba. Waktu itu tidak ada siapa-siapa di base camp, bahkan penduduk desa Thekelan juga hanya satu dua yang kelihatan. Untung saja tak lama kemudian, maruf dan haryanto pendaki kenalan kami yang berasal dari Klaten yang sudah janjian mau mendaki bareng datang menggunakan kendaraan sendiri. Tak lama kemudian datang pula 8 orang pendaki dari Salatiga yang baru turun gunung sehingga base camp menjadi tambah rame. Selang 2 jam kami puas ngobrol sambil tidur-tiduran, datang tiga rombongan pendaki lainnya yang berasal dari Jepara, Jakarta, dan Magelang. Di desa Tekelan terdapat dua basecamp yang bersebrangan. Setelah mempersiapkan stamina, makan nasi goreng plus telur, minum extrajoss, dan berak kami segera bergegas berangkat, tapi sayang keberangkatan kami tertunda karena gerimis turun.
Setelah menunaikan sholat dan gerimis reda kami memulai perjalanan pukul 14.30. Tiga rombongan pendaki lain menyusul dibelakang kami. Dalam perjalanan kami melewati ladang penduduk sepanjang 2 km. Setelah 1 jam perjalanan kami sampai di pos pending. Di pos ini terdapat tempat penampungan air yang biasa dimanfaatkan petani dan pendaki. Di pos ini kami beristirahat bersama rombongan pendaki yang lain dan mengambil air untuk persediaan mendaki.
Setelah pos pending terdapat dua percabangan ke kiri dan ke kanan. Jalur pendakian yang sering digunakan adalah yang ke arah kiri, yang di kenal dengan jalur Thekelan. Karena tidak tahu, kami mengambil jalur ke arah kanan. Anehnya, rombongan pendaki yang lain juga mengikuti kami mengambil jalur kanan tersebut. Pantas saja sepanjang 3 jam perjalanan mendaki melewati hutan campuran dan padang rumput kami tidak menemukan pos sama sekali.. Kami baru sadar ketika tiba-tiba kami sampai di atas bukit terbuka yang agak datar dan terbuka. Di situ ada penanda arah “pos IV”. Spontan kami kegirangan, rupanya jalur yang salah tersebut ternyata merupakan jalur tembus dan juga jalur alternative yang jaraknya relative lebih pendek. Jadi kami tidak perlu lagi melewati pos I, pos II, dan pos III, tapi langsung sampai pos IV. Di tempat ini rombongan yang lain berhenti, membuka tenda, dan memasak. Waktu itu jam menunjukkan pukul 18.30.
Rombongan pendaki dari Jepara mengajak kami untuk membuka tenda dan melanjutkan perjalanan lagi jam 12 malam, akan tetapi karena fisik yang masih bagus dan sayang menyianyiakan tenaga, kami sepakat melanjutkan perjalanan. Setelah selesai makan indomie plus krupuk dengan makanan penutup roti bolu, jam 19.30 perjalanan dilanjutkan melewati sabana yang penuh dengan semak belukar pendek. Pohon sudah jarang. Vegetasi didominasi oleh Cantigi, Edelweiss, dan semak pendek. 15 menit berlalu, jalanan mulai menanjak terjal. Sepanjang jalan tak ada bonus, semua menanjak dan semakin menanjak. Sering sekali kami beristirahat sehingga banyak waktu yang terbuang. Jalan yang kami lalui juga agak licin, berlubang dan kadang berbatu sehingga membuat kami sedikit pesimis untuk mencapai puncak dan mengejar sunrise, tapi kami sangat beruntung karena sepanjang perjalanan ini kami juga di temani oleh cahaya rembulan yang sangat terang dan indah. Malam itu cuaca benar-benar cerah. Purnama bersinar dengan indah dan sangat terang sehingga kami hanya sekali-kali menyalakan senter. Di bawah kami terbentang kota salatiga dengan lampu-lampu yang berjajar dan sepertinya tidak pernah putus. Sungguh pengalaman yang tidak akan terlupakan.
Jam 22.30 kami mencapai pos IV. Di pos IV terdapat antena pemancar dan tempat penampungan air yang terbuat dari drum. Di sana telah ada pendaki lainnya yang sudah mendirikan tenda dan beristirahat. Sambil istirahat kami meeting sebentar. Dengan pertimbangan fisik yang sudah lelah dan puncak utama tidak jauh lagi, kami memutuskan ngecamp dan akan melanjutkan perjalanan lagi jam 03.00. Tenda dibuka dan kami istirahat. Sayang sekali tenda hanya muat untuk 4 orang, sedangkan rombongan kami berjumlah 5 orang. Akhirnya Haryanto mengorbankan diri untuk tidur di bivak luar. Belum lama kami pada tidur, tiba-tiba cuaca berubah. Hujan turun dengan tiba-tiba. Tas yang kami simpan dekat bivak basah beserta isinya. Untung saja tenda tidak tembus air. Hujan berlangsung satu jam, dan setelahnya suhu benar-benar dingin. Kami lumayan tersiksa juga malam itu, sehingga tidur kami hanya tidur-tidur ayam. Siti badannya bergetar, salma giginya bergemerutuk, haryanto di luar hanya jongkok sambil ngoceh karena matrasnya basah. Yang paling nyenyak hanya maruf yang selalu mendengkur (kata anak-anak amsi juga mendengkur).
Jam 02.30 dini hari Amsi bangun. Anak-anak yang lain ikut bangun juga. Suhu tambah dingin saja sampai ke tulang-tulang. Siti dan haryanto membakar sampah untuk menghangatkan badan, anehnya maruf tetap saja mendengkur. Jam 03.00 di luar tenda, tiba-tiba kabut tebal turun dari puncak. Sekali lagi, udara tambah dingin, dingin, dan semakin dingin. Akhirnya diputuskan perjalanan dilanjutkan pagi hari jam 07.00. Pikir kami tidak masalah kalau tidak melihat sunrise dari puncak utama karena di pos IV (puncak I) inipun sunrise dapat dilihat dengan jelas.
Jam 05.00 amsi bangun dan mengajak yang lain untuk melihat sunrise. Tapi anak-anak pada malas keluar tenda. Amsi keluar sendiri. Tak tahunya anak-anak nyusul juga. Sunrise pagi itu kelihatan indah. Menanjang berbentuk fusiform (tengahnya bulat merah, semakin meruncing ke sisi) dan muncul disela-sela awan. Di sini kami berfoto bersama. Rombongan pendaki yang ngecamp di pos IV juga sudah pada bangun dan mengamati sunrise. Sedangkan rombongan dari Bekasi dan Jepara yang kami tinggalkan semalam baru sampai di pos IV jam 06.00.
Setelah puas mengamati sunrise dan berfoto, kami memasak dan makan. Tepat jam 07.30 kami melanjutkan perjalanan ke puncak kenteng songo (3,142 m). Maruf yang merasa tidak pe-de melihat terjalnya tanjakan setan yang kelihatan dari pos IV, memutuskan menunggui tenda dan tidak ikut naik. Bagi maruf yang masih duduk di kelas 1 smu, pendakian ini merupakan pendakian pertama. Kami naik berempat dengan membawa 2 daypack yang berisi air dan sedikit logistic. Waktu itu kabut sudah mulai turun.
Menuju pos V (2928 m) jalur mulai menurun, kemudian mendatar, dan terakhir menanjak. Kanan kiri jurang yang tidak begitu dalam. Di dasar jurang ada kawah mati. Pendaki yang iseng suka turun ke kawah mati ini dan membuat prasasti tulisan dari batu. Jam 08.00 kami sampai di pos V yang berupa puncak bukit berbentuk dataran seluas 20 m2. Kami istirahat dan membuka peta untuk menentukan jalur yang akan diambil karena disini terdapat 3 percabangan.
Kami mengambil jalur ke kiri, menurun dan akhirnya langsung menanjak terjal dan terjal sekali. Hampir-hampir mirip tanjakan rante di Gunung gede. Bahkan siti sampai bilang apakah benar ini tanjakannya. Inilah yang disebut dengan tanjakan setan/ jembatan setan yang lebarnya 1 meter dan kanan kirinya jurang yang waktu itu, dasarnya tidak kelihatan karena kabut. Salah sedikit akan fatal sekali akibatnya. Rombongan memasang kewaspadaan ekstra.
Berdasarkan peta, tanjakan ini sampai persimpangan puncak dapat ditempuh 45 menit (627 m jaraknya), tetapi kami menempuh selama satu setengah jam. Kami sempat agak stress juga karena persimpangan puncak tidak juga kelihatan dan jarak pandang kami hanya 5 meter karena kabut tebal. Untuk menghibur diri kami saling sahut-menyahut dengan pendaki lain yang ada di bawah kami.
Jam 09.30 kami sampai di persimpangan puncak, ke arah kiri puncak syarif (3,119 m) dapat ditempuh 15 menit dari persimpangan tadi, dan ke arah kanan menuju puncak kenteng songo (3,142 m) dapat ditempuh 45 menit menempuh jarak 500 m. Kami mengambil jalur ke kanan menuju puncak kenteng songo (3,142 m) selama 1 jam kami sampai di puncak. Perjalanan dari persimpangan menuju ke puncak ini sangat berkesan karena mengitari bukit dengan lebar jalan hanya 25 cm, sebelah kanan berupa tebing yang hampir vertical, sedangkan sebelah kiri jurang yang dalam sekali. Kembali waspada I kami terapkan. Enaknya disini tidak seperti tanjakan setan yang tanjakannya “naudzubillah min dzalik”, di sini jalannya landai mengitari sisi bukit. Oleh masyarakat setempat tempat ini disebut pundak sapi.
Setelah mengitari pundak sapi, kami sampai di tempat datar (pertengahan 2 bukit). Puncak sudah kelihatan di depan mata kami tinggal satu tanjakan lagi. Di sini kami melihat 6 ekor monyet ekor panjang (Macaca fascicularis). Badannya lebih kecil dan bulunya lebih tebal jika dibandingkan dengan species sama yang hidup di dataran lebih rendah. Menurut kami ini salah satu pola adaptasi dari mereka. Hal ini merupakan pemandangan luar biasa karena di tempat seperti ini masih ada saja mamalia yang bisa beradaptasi terhadap udara dingin dan jumlah makanan terbatas.
Rombongan pendaki lain sudah kelihatan dibelakang kami. Karena idak ingin berdesak-desakan di tanjakan terakhir, kamipun segera take off. Tanjakan terakhir benar-benar gila. Badan harus merapat ke tebing sedangkan tangan mencengkeram lubang yang ada di tebing, dan kaki dimiringkan. Kami merayap ke kiri pelan-pelan karena tidak mungkin berjalan lurus karena lebar jalan hanya 10 – 15 cm sementara dibawahnya jurang (foto pas disini keren tapi ngeri).
Sampai juga kami di puncak kenteng songo (3,142 m) jam 10.30. Ekspresi kami berbeda-beda ketika sampai di puncak. Haryanto dan Siti berteriak, Salma langsung duduk, sedangkan amsi tak henti-hentinya bersyukur dan bertasbih, sambil menyulut rokok, dan mengamati gunung merapi di kejauhan. Seandainya cuaca tidak berkabut, kami dapat mengamati gunung merapi, lawu, sindoro, sumbing, telomoyo, dan gunung ungaran dari puncak merbabu ini. Tapi sayang kabut menutupi semua gunung tersebut. Selang 30 menit sudah banyak sekali pendaki yang sampai juga dipuncak. Rombongan dibelakang kami juga sudah sampai. Kami sempat heran juga melihat banyaknya pendaki, karena seingat kami yang mendaki bersama kami hanya 5 rombongan tapi pas di puncak mencapai sepuluh rombongan lebih. Ternyata yang lain naik dari jalur selo. Kami saling berfoto bersama dengan pendaki lain.
Menurut penglihatan paranormal, di puncak kenteng songo terdapat 9 batu berlubang yang sangat dikeramatkan. Sementara kami hanya melihat 5 buah batu saja. Di dekat batu tersebut kami memasak dan makan. Tidak lupa hemaviton jreng kami siapkan. Jam 12.00 kami turun setelah bersalaman dengan pendaki lain.
Sampai di bawah persimpangan puncak, kami melihat kawah candradimuka. Amsi dan haryanto bermaksud turun membuat jalur terobosan yang langsung menuju kawah candradimuka tersebut untuk mengambil air tanpa harus menuruni tanjakan setan. Kalau dipikir-pikir, rencana ini dapat menghemat 400 m perjalanan dan jalur terobosan yang akan dibuat relative aman karena tidak ada jurang kanan kirinya. Setelah melihat kontur dan peta, haryanto turun duluan sejauh 100 meter. Katanya medannya aman, tapi karena siti dan salma pada takut haryanto kembali. Kita akhirnya melewati jalur biasa.
Sebelum pos V kami sempatkan turun ke kawah candradimuka untuk mengambil 8 liter air. Perjalanan bolak-balik turun ke kawah mengambil air ini sangat membuat kami kelelahan. Salma kakinya sudah gemetaran. Jam 02.00 kami sampai di pos IV. Maruf sudah menunggu. Kami memasak lagi dan makan. Di sini musibah hampir terjadi, kopi panas (baru saja dibuat dari air mendidih) yang dimasukkan dalam Tupperware, ditutup, lalu dikocok tiba-tiba meleduk dan tumpah mengenai tangan dan kaki amsi. Rupanya tekanan uap dari air panas tersebut yang menyebabkannya. Aneh sekali, dan alhamdulillah, air panas tersebut tidak terasa panas, melainkan hangat.
Selesai makan kami buru-buru packing dan mengumpulkan sampah untuk dibawa turun lalu bergegas cabut jam 14.30 karena mulai gerimis. Jalur turun yang kami ambil berbeda dengan jalur sewaktu kami naik semalam. Jalur inilah yang disebut jalur thekelan. Setengah jam perjalanan turun kami sampai di pos III yang ditandai dengan adanya batu besar mirip gua karena ada lubang ditengahnya yang bisa dimasuki 5 orang. Batu ini di sebut watu gubuk, berada pada ketinggian 2,610 m. Menurut penduduk sekitar disinilah pusat kerajaan makluk halus. Ada tulisan sangat jelas dari KOMPPAS (volunteer resmi gunung merbabu) agar pendaki dilarang buang air, berbuat mesum, dan merusak tempat tersebut. Kami sempat berfoto di sini.
Kami tidak berlama-lama di pos III karena gerimis mulai turun. Menuju pos III kami melewati hutan campuran berupa jalan tanah yang lumayan licin. Jam 16.30 kami sampai di pos II. Ada shelter sederhana di situ. Perjalanan kami lanjutkan kembali bersama rombongan pendaki yang lain. Jalanan masih licin saja. Sampai di pos I yang juga terdapat shelter sederhana, hari mulai gelap. Jam menunjukkan pukul 18.00. Pos I ini berada pada ketinggian 2,260 m. Untuk mencapai base camp masih ada 2,7 km lagi yang harus kami tempuh.
Perjalanan kami lanjutkan ketika hari mulai gelap. Senter kami nyalakan. Sampai di pos bayangan II hari benar-benar gelap. 7 orang pendaki dari pekalongan memutuskan untuk ngecamp di pos tersebut. Di pos ini kami juga ketemu dengan pendaki dari Semarang yang mengajak kami berfoto bersama. Rombongan kami turun sendirian. Tracknya licin karena merupakan jalan air juga. Amsi merasa tersiksa, beban dalam carer semakin berat karena berisi tenda dan pakaian basah. Sampai di pos bayangan I maruf terjatuh dan kami istirahat. Disini kami bertemu 12 orang pendaki dari salatiga yang mengatakan bahwa base camp masih jauh di bawah. Perjalanan kami lanjutkan. Senter yang hanya 2 buah membuat perjalanan kami agak lambat. Salma nyenterin amsi, sedangkan haryanto nyenterin siti dan maruf. Pelan-pelan perjalanan kami lanjutkan. Jam 21.00 kami semua tiba dengan selamat di base camp thekelan. Di base camp tersebut sudah beristirahat 30-an lebih pendaki yang sudah sampai duluan. Setelah bersih-bersih sebentar. Karena Siti ada keperluan yang tidak bisa ditinggalkan pada hari Minggu, dia langsung pulang ke Jakarta diantar sampai salatiga oleh haryanto dan maruf. Setelah siti dapat bis, haryanto dan maruf langsung pulang ke klaten, sementara amsi dan salma menginap di base camp. Pagi harinya amsi dan salma baru meninggalkan base camp menuju Jakarta kembali.

Add comment September 20, 2008

BAHASA INGGRIS

Past Perfect Tense

I had sung

The past perfect tense is quite an easy tense to understand and to use. This tense talks about the “past in the past”.


<!–
google_ad_client = “pub-5548979790183500″;
/* 300×250, created 5/10/08 */
google_ad_slot = “2296317292″;
google_ad_width = 300;
google_ad_height = 250;
//–>

FORM

[had + past participle]

Examples:

  • You had studied English before you moved to New York.
  • Had you studied English before you moved to New York?
  • You had not studied English before you moved to New York.

Past Perfect Forms

Positive

Negative

Question

  • I had finished.
  • You had finished.
  • We had finished.
  • They had finished.
  • He had finished.
  • She had finished.
  • It had finished.
  • I had not finished.
  • You had not finished.
  • We had not finished.
  • They had not finished.
  • He had not finished.
  • She had not finished.
  • It had not finished.
  • Had I finished?
  • Had you finished?
  • Had we finished?
  • Had they finished?
  • Had he finished?
  • Had she finished?
  • Had it finished

How do we make the Past Perfect Tense?

The structure of the past perfect tense is:

subject

+

auxiliary verb HAVE

+

main verb

conjugated in simple past tense

past participle

had

V3

For negative sentences in the past perfect tense, we insert not between the auxiliary verb and main verb. For question sentences, we exchange the subject and auxiliary verb. Look at these example sentences with the past perfect tense:

subject

auxiliary verb

main verb

+

I

had

finished

my work.

+

You

had

stopped

before me.

-

She

had

not

gone

to school.

-

We

had

not

left.

?

Had

you

arrived?

?

Had

they

eaten

dinner?

When speaking with the past perfect tense, we often contract the subject and auxiliary verb:

I had

I’d

you had

you’d

he had
she had
it had

he’d
she’d
it’d

we had

we’d

they had

they’d

The ‘d contraction is also used for the auxiliary verb would. For example, we’d can mean:

  • We had
    or
  • We would

But usually the main verb is in a different form, for example:

  • We had arrived (past participle)
  • We would arrive (base)

It is always clear from the context.

How do we use the Past Perfect Tense?

The past perfect tense expresses action in the past before another action in the past. This is the past in the past. For example:

  • The train left at 9am. We arrived at 9.15am. When we arrived, the train had left.

The train had left when we arrived.

past

present

future

Train leaves in past at 9am.

9

9.15



We arrive in past at 9.15am.

Look at some more examples:

  • I wasn’t hungry. I had just eaten.
  • They were hungry. They had not eaten for five hours.
  • I didn’t know who he was. I had never seen him before.
  • “Mary wasn’t at home when I arrived.”
    “Really? Where had she gone?”

You can sometimes think of the past perfect tense like the present perfect tense, but instead of the time being now the time is past.

past perfect tense

present perfect tense

had |
done |
> |

have |
done |
> |



past

now

future

past

now

future

For example, imagine that you arrive at the station at 9.15am. The stationmaster says to you:

  • “You are too late. The train has left.”

Later, you tell your friends:

  • “We were too late. The train had left.”

We often use the past perfect tense in reported speech after verbs like said, told, asked, thought, wondered:

Look at these examples:

  • He told us that the train had left.
  • I thought I had met her before, but I was wrong.
  • He explained that he had closed the window because of the rain.
  • I wondered if I had been there before.
  • I asked them why they had not finished.

Past perfect tense is an absolute-relative tense that refers to a time in the past relative to a reference point, which itself is in the past relative to the moment of utterance.

Example (English)

· The “had + verb” construction expresses past perfect tense, as in the following sentence:

· By that time, nearly everyone had left.

The construction had left is in the past relative to that time, which itself is in the past relative to the moment of utterance.

The Past Perfect is also used in a number of expressions like these:
I wish, as if/though and if only

I wish I hadn’t gone there.
John looked as if he had done something terrible.

Form

Positive sentences:

Subject

+

Auxiliary verb

+

Past participle

I/a dog etc.

had

eaten/given/gone

TYPICAL MISTAKES:

As soon as the film started, I realized I had seen it before.
(the past participle of the verb “to see” is “seen”, not “seed”)

By the time I got to the station my train HAD left. (“By the time” indicates that the train had left before the speaker got to the station, not the other way around!)

When we arrived, the concert had already finished. (Use 1)

It had got/gotten worse before it got better. (Use 1)

By the time I watched my favorite program, I had drunk a cup of beer. (Use 1)

If I hadn’t taken my keys from the drawer, I would be able to get into my house. (Use 2a)

My mum asked me whether I had visited grandma the previous day. (Use 2b)

By the time I got to the market, most of the stalls had already been closed. (Use 1)

I wish I had taken more food with me (Use 3)

Use 3 is the so-called hypothetical past. We’re talking about things that never happened.

I wish I had fixed my umberella. (but I didn’t)

If only I had known the answer to that question. (but I didn’t)

Form of the Simple Past Perfect Tense

The past perfect is formed with had + the past participle.

I had (I’d) >
You had (You’d) > arrived
He had (He’d) > finished
She had (She’d) > started
It had (It’d) > shut
We had (We’d) > lost
You had (You’d) > drunk
They had (They’d) >

Uses of the Past Perfect Tense
It is sometimes supposed that we use the Past Perfect simply to describe ‘events that happened a long time ago’. This is not the case. We use the Simple Past for this purpose:

· Anthony and Cleopatra died in 30 B.C.

1. The Past Perfect referring to an earlier past

The main use of the Past Perfect is to show which of two events happened first. Here are two past events:

· The patient died. The doctor arrived.

We can combine these two sentences in different ways to show their relationship in the past:

· The patient died when the doctor arrived. (i.e. the patient died at the time or just after the doctor arrived)

· The patient had died when the doctor arrived. (i.e. the patient was already dead when the doctor arrived)

The event that happened first need not be mentioned first:

· The doctor arrived quickly, but the patient had already died.

Some typical conjunctions used before a Past Perfect to refer to ‘an earlier past’ are: when and after, as soon as, by the time that. They often imply a cause-and-effect relationship:

· We cleared up as soon as our guests had left.

Adverbs often associated with the Present Perfect: already, ever, for (+ period of time), just, never, never before, since (+ point of time) are often used with the Past Perfect to emphasize the sequence of events:

· When I rang, Jim had already left.

· The boys loved the zoo. They had never seen wild animals before.

2. The Past Perfect as the past equivalent of the Present Perfect

The Past Perfect sometimes functions simply as the past form of the Present Perfect:

· Juliet is excited because she has never been to a dance before.

· Juliet was excited because she had never been to a dance before.

This is particularly the case in indirect speech.Used in this way, the Past Perfect can emphasize completion:

· I began collecting stamps in February and by November I had collected more than 2000.

Yet can be used with the Past Perfect, but we often prefer expressions like until then or by that time. Compare:

· He hasn’t finished yet.

· He hadn’t finished by yesterday evening.

3. The Past Perfect for unfulfilled hopes and wishes

We can use the Past Perfect (or the Past Simple or Progressive) with verbs like expect, hope, mean, suppose, think, want, to describe things we hoped or wished to do but didn’t:

· I had hoped to send him a telegram to congratulate him on his marriage, but I didn’t manage it.

Obligatory and non-obligatory uses of the Past Perfect

We do not always need to use the Past Perfect to describe which event came first. Sometimes this is perfectly clear, as in:

· After I finished, I went home.

The sequence is often clear in relative clauses as well:

· I wore the necklace (which) my grandmother (had) left me.

We normally use the Simple Past for events that occur in sequence:

· I got out of the taxi, paid the fare, tipped the driver and dashed into the station.

· ‘I came, I saw, I conquered.’ Julius Caesar declared.

But there are instances when we need to be very precise in our use of Past or Past Perfect, particularly with when:

· When I arrived, Anne left. (i.e. at that moment)

· When I arrived, Anne had left. (i.e. before I got there)

· In the first sentence, I saw Anne, h,wever briefly. In the second, I didn’t see her at all. See also indirect speech.

We normally use the Past Perfect with conjunctions like no sooner … than or hardly/scarcely/barely … when:

· Mrs Winthrop had no sooner left the room than they began to gossip about her.

· Mr Jenkins had hardly/scarcely/barely begun his speech when he was interrupted.

Simple Past and Simple Past Perfect in typical contexts

The Past Perfect combines with other past tenses (Simple Past, Past Progressive, Past Perfect Progressive) when we are talking or writing about the past. It is used in story-telling, biography, autobiography, reports, eye-witness accounts, etc. and is especially useful for establishing the sequence of events:

· When we returned from our holidays, we found our house in a mess. What had happened while we had been away? A burglar had broken into the house and had stolen a lot of our things. (Now that the time of the burglary has been established relative to our return, the story can continue in the simple past.) The burglar got in through the kitchen window. He had no difficulty in forcing it open. Then he went into the living-room.

Note the reference to an earlier past in the following narrative:

· Silas Badley inherited several old cottages in our village. He wanted to pull them down and build new houses which he could sell for high prices. He wrote to Mr Harrison, now blind and nearly eighty, asking him to leave his cottage within a month. Old Mr Harrison was very distressed. (The situation has been established through the use of the simple past. What follows now is a reference to an earlier past through the use of the simple past perfect.) He had been born in the cottage and stayed there all his life. His children had grown up there; his wife had died there and now he lived there all alone.

Add comment September 20, 2008

kimia

SIFAT KOLIGATIF LARUTAN

Sifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut).

Sifat koligatif meliputi:

1. Penurunan tekanan uap jenuh
2. Kenaikan titik didih
3. Penurunan titik beku
4. Tekanan osmotik

Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa larutan elektrolit di dalam pelarutnya mempunyai kemampuan untuk mengion. Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak daripada larutan non elektrolit pada konsentrasi yang sama

Contoh:

Larutan 0.5 molal glukosa dibandingkan dengan iarutan 0.5 molal garam dapur.
- Untuk larutan glukosa dalam air jumlah partikel (konsentrasinya) tetap, yaitu 0.5 molal.
- Untuk larutan garam dapur: NaCl(aq) –> Na+ (aq) + Cl- (aq) karena terurai menjadi 2 ion, maka konsentrasi partikelnya menjadi 2 kali semula = 1.0 molal.

Yang menjadi ukuran langsung dari keadaan (kemampuannya) untuk mengion adalah derajat ionisasi.
Besarnya derajat ionisasi ini dinyatakan sebagai:

= jumlah mol zat yang terionisasi/jumlah mol zat mula-mula

Untuk larutan elektrolit kuat, harga derajat ionisasinya mendekati 1, sedangkan untuk elektrolit lemah, harganya berada di antara 0 dan 1 (0 <  < 1).

Atas dasar kemampuan ini, maka larutan elektrolit mempunyai pengembangan di dalam perumusan sifat koligatifnya.

1. Untuk Kenaikan Titik Didih dinyatakan sebagai:

Tb = m . Kb [1 + (n-1)] = W/Mr . 1000/p . Kb [1+ (n-1)]

n menyatakan jumlah ion dari larutan elektrolitnya.

2. Untuk Penurunan Titik Beku dinyatakan sebagai:

Tf = m . Kf [1 + (n-1)] = W/Mr . 1000/p . Kf [1+ (n-1)]

3. Untuk Tekanan Osmotik dinyatakan sebagai:
= C R T [1+ (n-1)]

Contoh:

Hitunglah kenaikan titik didih dan penurunan titik beku dari larutan 5.85 gram garam dapur (Mr = 58.5) dalam 250 gram air ! (bagi air, Kb= 0.52 dan Kf= 1.86)

Jawab:

Larutan garam dapur, NaCl(aq) –> NaF+ (aq) + Cl- (aq)
Jumlah ion = n = 2.

Tb = 5.85/58.5 x 1000/250 x 0.52 [1+1(2-1)] = 0.208 x 2 = 0.416oC

Tf = 5.85/58.5 x 1000/250 x 0.86 [1+1(2-1)] = 0.744 x 2 = 1.488oC

Catatan:
Jika di dalam soal tidak diberi keterangan mengenai harga derajat ionisasi, tetapi kita mengetahui bahwa larutannya tergolong elektrolit kuat, maka harga derajat ionisasinya dianggap 1.

A. Sifat Koligatif Larutan Non ElektrolitSifat koligatif larutan adalah sifat larutan yang tidak tergantung pada macamnya zat terlarut tetapi semata-mata hanya ditentukan oleh banyaknya zat terlarut (konsentrasi zat terlarut). Sifat koligatif meliputi: 1. Penurunan tekanan uap jenuh
2. Kenaikan titik didih
3. Penurunan titik beku
4. Tekanan osmotik Banyaknya partikel dalam larutan ditentukan oleh konsentrasi larutan dan sifat Larutan itu sendiri. Jumlah partikel dalam larutan non elektrolit tidak sama dengan jumlah partikel dalam larutan elektrolit, walaupun konsentrasi keduanya sama. Hal ini dikarenakan larutan elektrolit terurai menjadi ion-ionnya, sedangkan larutan non elektrolit tidak terurai menjadi ion-ion. Dengan demikian sifat koligatif larutan dibedakan atas sifat koligatif larutan non elektrolit dan sifat koligatif larutan elektrolit. Penurunan Tekanan Uap Jenuh Dan Kenaikan Titik Didih PENURUNAN TEKANAN UAP JENUH Pada setiap suhu, zat cair selalu mempunyai tekanan tertentu. Tekanan ini adalah tekanan uap jenuhnya pada suhu tertentu. Penambahan suatu zat ke dalam zat cair menyebabkan penurunan tekanan uapnya. Hal ini disebabkan karena zat terlarut itu mengurangi bagian atau fraksi dari pelarut, sehingga kecepatan penguapanberkurang.Menurut RAOULT: p = po . XB dimana:p = tekanan uap jenuh larutan
po = tekanan uap jenuh pelarut murni
XB = fraksi mol pelarutKarena XA + XB = 1, maka persamaan di atas dapat diperluas menjadi:P = Po (1 – XA)P = Po – Po . XAPo – P = Po . XAsehingga:P = po . XAdimana:P = penunman tekanan uap jenuh pelarut
po = tekanan uap pelarut murni
XA = fraksi mol zat terlarutContoh: Hitunglah penurunan tekanan uap jenuh air, bila 45 gram glukosa (Mr = 180) dilarutkan dalam 90 gram air !
Diketahui tekanan uap jenuh air murni pada 20oC adalah 18 mmHg. Jawab: mol glukosa = 45/180 = 0.25 mol mol air = 90/18 = 5 molfraksi mol glukosa = 0.25/(0.25 + 5) = 0.048Penurunan tekanan uap jenuh air: P = Po. XA = 18 x 0.048 = 0.864 mmHg KENAIKAN TITIK DIDIHAdanya penurunan tekanan uap jenuh mengakibatkan titik didih larutan lebih tinggi dari titik didih pelarut murni.Untuk larutan non elektrolit kenaikan titik didih dinyatakan dengan:Tb = m . Kbdimana:Tb = kenaikan titik didih (oC)
m = molalitas larutan
Kb = tetapan kenaikan titik didih molalKarena : m = (W/Mr) . (1000/p) ; (W menyatakan massa zat terlarut)Maka kenaikan titik didih larutan dapat dinyatakan sebagai:
Tb = (W/Mr) . (1000/p) . Kb Apabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik didih larutan dinyatakan sebagai: Tb = (100 + Tb)oCPenurunan Titik Beku Dan Tekanan Osmotik PENURUNAN TITIK BEKU Untuk penurunan titik beku persamaannya dinyatakan sebagai :Tf = m . Kf = W/Mr . 1000/p . Kfdimana:Tf = penurunan titik beku
m = molalitas larutan
Kf = tetapan penurunan titik beku molal
W = massa zat terlarut
Mr = massa molekul relatif zat terlarut
p = massa pelarutApabila pelarutnya air dan tekanan udara 1 atm, maka titik beku larutannya dinyatakan sebagai:
Tf = (O – Tf)oTEKANAN OSMOTIKTekanan osmotik adalah tekanan yang diberikan pada larutan yang dapat menghentikan perpindahan molekul-molekul pelarut ke dalam larutan melalui membran semi permeabel (proses osmosis). Menurut VAN’T HOFF tekanan osmotik mengikuti hukum gas ideal: PV = nRT Karena tekanan osmotik =  , maka : = n/V R T = C R T dimana :
= tekanan osmotik (atmosfir)
C = konsentrasi larutan (mol/liter= M)
R = tetapan gas universal = 0.082 liter.atm/moloK
T = suhu mutlak (oK) – Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih rendah dari yang lain
disebut larutan Hipotonis.
- Larutan yang mempunyai tekanan osmotik lebih tinggi dari yang lain
disebut larutan Hipertonis.
- Larutan-larutan yang mempunyai tekanan osmotik sama disebut
Isotonis.  B. Sifat Koligatif Larutan Elektrolit Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa larutan elektrolit di dalam pelarutnya mempunyai kemampuan untuk mengion. Hal ini mengakibatkan larutan elektrolit mempunyai jumlah partikel yang lebih banyak daripada larutan non elektrolit pada konsentrasi yang samaContoh: Larutan 0.5 molal glukosa dibandingkan dengan iarutan 0.5 molal garam dapur.
- Untuk larutan glukosa dalam air jumlah partikel (konsentrasinya) tetap, yaitu 0.5 molal.
- Untuk larutan garam dapur: NaCl(aq) –> Na+ (aq) + Cl- (aq) karena terurai menjadi 2 ion, maka konsentrasi partikelnya menjadi 2 kali semula = 1.0 molal. Yang menjadi ukuran langsung dari keadaan (kemampuannya) untuk mengion adalah derajat ionisasi.
Besarnya derajat ionisasi ini dinyatakan sebagai: = jumlah mol zat yang terionisasi/jumlah mol zat mula-mulaUntuk larutan elektrolit kuat, harga derajat ionisasinya mendekati 1, sedangkan untuk elektrolit lemah, harganya berada di antara 0 dan 1 (0 <  < 1).Atas dasar kemampuan ini, maka larutan elektrolit mempunyai pengembangan di dalam perumusan sifat koligatifnya.1. Untuk Kenaikan Titik Didih dinyatakan sebagai:Tb = m . Kb [1 + (n-1)] = W/Mr . 1000/p . Kb [1+ (n-1)] n menyatakan jumlah ion dari larutan elektrolitnya.2. Untuk Penurunan Titik Beku dinyatakan sebagai:Tf = m . Kf [1 + (n-1)] = W/Mr . 1000/p . Kf [1+ (n-1)]3. Untuk Tekanan Osmotik dinyatakan sebagai:
= C R T [1+ (n-1)]Contoh:Hitunglah kenaikan titik didih dan penurunan titik beku dari larutan 5.85 gram garam dapur (Mr = 58.5) dalam 250 gram air ! (bagi air, Kb= 0.52 dan Kf= 1.86)Jawab:Larutan garam dapur, NaCl(aq) –> NaF+ (aq) + Cl- (aq)
Jumlah ion = n = 2.Tb = 5.85/58.5 x 1000/250 x 0.52 [1+1(2-1)] = 0.208 x 2 = 0.416oCTf = 5.85/58.5 x 1000/250 x 0.86 [1+1(2-1)] = 0.744 x 2 = 1.488oCCatatan:
Jika di dalam soal tidak diberi keterangan mengenai harga derajat ionisasi, tetapi kita mengetahui bahwa larutannya tergolong elektrolit kuat, maka harga derajat ionisasinya dianggap 1.

Add comment September 20, 2008

Pemeriksaan jantung


Inspeksi
Dilakukan inspeksi pada prekordial penderita yang berbaring terlentang atau dalam posisi sedikit dekubitus lateral kiri karena apek kadang sulit ditemukan misalnya pada stenosis mitral. dan pemeriksa berdiri disebelah kanan penderita.
Memperhatikan bentuk prekordial apakah normal, mengalami depresi atau ada penonjolan asimetris yang disebabkan pembesaran jantung sejak kecil. Hipertropi dan dilatasi ventrikel kiri dan kanan dapat terjadi akibat kelainan kongenital.
Garis anatomis pada permukaan badan yang penting dalam melakukan pemeriksaan dada adalah:
 Garis tengah sternal (mid sternal line/MSL)
 Garis tengah klavikula (mid clavicular line/MCL)
 Garis anterior aksilar (anterior axillary line/AAL)
 Garis parasternal kiri dan kanan (para sternal line/PSL)
Mencari pungtum maksimum, Inspirasi dalam dapat mengakibatkan paru-paru menutupi jantung, sehingga pungtum maksimimnya menghilang, suatu variasi yang khususnya ditemukan pada penderita emfisema paru. Oleh kerena itu menghilangnya pungtum maksimum pada inspirasi tidak berarti bahwa jantung tidak bergerak bebas.
Pembesaran ventrikel kiri akan menggeser pungtum maksimum kearah kiri, sehingga akan berada diluar garis midklavikula dan kebawah. Efusi pleura kanan akan memindahkan pungtum maksimum ke aksila kiri sedangkan efusi pleura kiri akan menggeser kekanan. Perlekatan pleura, tumor mediastinum, atelektasis dan pneumotoraks akan menyebabkan terjadi pemindahan yang sama.
Kecepatan denyut jantung juga diperhatikan, meningkat pada berbagai keadaan seperti hipertiroidisme, anemia, demam.

Palpasi

Pada palpasi jantung, telapak tangan diletakkan diatas prekordium dan dilakukan perabaan diatas iktus kordis (apical impulse)
Lokasi point of masksimal impulse , normal terletak pada ruang sela iga (RSI) V kira-kira 1 jari medial dari garis midklavikular (medial dari apeks anatomis). Pada bentuk dada yang panjang dan gepeng, iktus kordis terdapat pada RSI VI medial dari garis midklavikular, sedang pada bentuk dada yang lebih pendek lebar, letak iktus kordis agak ke lateral. Pada keadaan normal lebar iktus kordis yang teraba adalah 1-2 cm2
Bila kekuatan volum dan kualitas jantung meningkat maka terjadi systolic lift, systolic heaving, dan dalam keadaan ini daerah iktus kordis akan teraba lebih melebar.
Getaranan bising yang ditimbulkan dapat teraba misalnya pada Duktus Arteriosis Persisten (DAP) kecil berupa getaran bising di sela iga kiri sternum.

Pulsasi ventrikel kiri
Pulsasi apeks dapat direkam dengan apikokardiograf. Pulsasi apeks yang melebar teraba seperti menggelombang (apical heaving). Apical heaving tanpa perubahan tempat ke lateral, terjadi misalnya pada beban sistolik ventrikel kiri yang meningkat akibat stenosis aorta. Apical heaving yang disertai peranjakan tempat ke lateral bawah, terjadi misalnya pada beban diastolik ventrikel kiri yang meningkat akibat insufisiensi katub aorta. Pembesaran ventrikel kiri dapat menyebabkan iktus kordis beranjak ke lateral bawah. Pulsasi apeks kembar terdapat pada aneurisme apikal atau pada kardiomiopati hipertrofi obstruktif.

Pulsasi ventrikel kanan
Area dibawah iga ke III/IV medial dari impuls apikal dekat garis sternal kiri, normal tidak ada pulsasi. Bila ada pulsasi pada area ini, kemungkinan disebabkan oleh kelebihan beban sistolik ventrikel kanan, misalnya pada stenosis pulmonal atau hipertensi pulmonal. Pulsasi yang kuat di daerah epigastrium dibawah prosesus sifoideus menunjukkan kemungkinan adanya hipertropi dan dilatasi ventrikel kanan. Pulsasi abnormal diatas iga ke III kanan menunjukkan kemungkinan adanya aneurisma aorta asendens. Pulsasi sistolik pada interkostal II sebelah kiri pada batas sternum menunjukkan adanya dilatasi arteri pulmonal.

Getar jantung ( Cardiac Trill)
Getar jantung ialah terabanya getaran yang diakibatkan oleh desir aliran darah. Bising jantung adalah desiaran yang terdengar karena aliran darah. Getar jantung di daerah prekordial adalah getaran atau vibrasi yang teraba di daerah prekordial. Getar sistolik (systolic thrill) timbul pada fase sistolik dan teraba bertepatan dengan terabanya impuls apikal. Getar diastolic (diastolic thrill) timbul pada fase diastolik dan teraba sesudah impuls apikal.
Getar sistolik yang panjang pada area mitral yang melebar ke lateral menunjukkan insufisiensi katup mitral. Getar sistolik yang pendek dengan lokasi di daerh mitral dan bersambung kearah aorta menunjukkan adanya stenosis katup aorta. Getar diastolik yang pendek di daerah apeks menunjukkan adanya stenosis mitral. Getar sistolik yang panjang pada area trikuspid menunjukkan adanya insufisiensi tricuspid. Getar sistolik pada area aorta pada lokasi didaerah cekungan suprasternal dan daerah karotis menunjukkan adanya stenosis katup aorta, sedangkan getar diastolik di daerah tersebut menunjukkan adanya insufisiensi aorta yang berat, biasanya getar tersebut lebih keras teraba pada waktu ekspirasi. Getar sistolik pada area pulmonal menunjukkan adanya stenosis katup pulmonal.
Pada gagal jantung kanan getar sistolik pada spatium interkostal ke 3 atau ke 4 linea para sternalis kiri.
Perkusi jantung
Cara perkusi
Batas atau tepi kiri pekak jantung yang normal terletak pada ruang interkostal III/IV pada garis parasternal kiri pekak jantung relatif dan pekak jantung absolut perlu dicari untuk menentukan gambaran besarnya jantung.
Pada kardiomegali, batas pekak jantung melebar kekiri dan ke kanan. Dilatasi ventrikel kiri menyebabkan apeks kordis bergeser ke lateral-bawah. Pinggang jantung merupakan batas pekak jantung pada RSI III pada garis parasternal kiri.
Kardiomegali dapat dijumpai pada atlit, gagal jantung, hipertensi, penyakit jantung koroner, infark miokard akut, perikarditis, kardiomiopati, miokarditis, regurgitasi tricuspid, insufisiensi aorta, ventrikel septal defect sedang, tirotoksikosis, Hipertrofi atrium kiri menyebabkan pinggang jantung merata atau menonjol kearah lateral. Pada hipertrofi ventrikel kanan, batas pekak jantung melebar ke lateral kanan dan/atau ke kiri atas. Pada perikarditis pekat jantung absolut melebar ke kanan dan ke kiri. Pada emfisema paru, pekak jantung mengecil bahkan dapat menghilang pada emfisema paru yang berat, sehingga batas jantung dalam keadaan tersebut sukar ditentukan.

Auskultasi Jantung
Auskultasi ialah merupakan cara pemeriksaan dengan mendengar bunyi akibat vibrasi (getaran suara) yang ditimbulkan karena kejadian dan kegiatan jantung dan kejadian hemodemanik darah dalam jantung.
Alat yang digunakan ialah stetoskop yang terdiri atas earpiece, tubing dan chespiece.
Macam-macam ches piece yaitu bowel type dengan membran, digunakan terutama untuk mendengar bunyi dengan frekuensi nada yang tinggi; bel type, digunakan untuk mendengar bunyi-bunyi dengan frekuensi yang lebih rendah.

Beberapa aspek bunyi yang perlu diperhatikan :
a) Nada berhubungan dengan frekuensi tinggi rendahnya getaran.
b) Kerasnya (intensitas), berhubungan dengan ampitudo gelombang suara.
c) Kualitas bunyi dihubungkan dengan timbre yaitu jumlah nada dasar dengan bermacam-macam jenis vibrasi bunyi yang menjadi komponen-komponen bunyi yang terdengar.
Selain bunyi jantung pada auskultasi dapat juga terdengar bunyi akibat kejadian hemodemanik darah yang dikenal sebagai desiran atau bising jantung (cardiac murmur).

Bunyi jantung
Bunyi jantung utama: BJ, BJ II, BJ III, BJ IV
Bunyi jantung tambahan, dapat berupa bunyi detik ejeksi (ejection click) yaitu bunyi yang terdengar bila ejeksi ventrikel terjadi dengan kekuatan yang lebih besar misalnya pada beban sistolik ventrikel kiri yang meninggi. Bunyi detak pembukaan katub (opening snap) terdengar bila pembukaan katup mitral terjadi dengan kekuatan yang lebih besar dari normal dan terbukanya sedikit melambat dari biasa, misalnya pada stenosis mitral.

Bunyi jantung utama
Bunyi jantung I ditimbulkan karena kontraksi yang mendadak terjadi pada awal sistolik, meregangnya daun-daun katup mitral dan trikuspid yang mendadak akibat tekanan dalam ventrikel yang meningkat dengan cepat, meregangnya dengan tiba-tiba chordae tendinea yang memfiksasi daun-daun katup yang telah menutup dengan sempurna, dan getaran kolom darah dalam outflow track (jalur keluar) ventrikel kiri dan di dinding pangkal aorta dengan sejumlah darah yang ada didalamnya. Bunyi jantung I terdiri dari komponen mitral dan trikuspidal.

Faktor-faktor yang mempengaruhi intensitas BJ I yaitu:
 Kekuatan dan kecepatan kontraksi otot ventrikel, Makin kuat dan cepat makin keras bunyinya
 Posisi daun katup atrio-ventrikular pada saat sebelum kontraksi ventrikel. Makin dekat terhadap posisi tertutup makin kecil kesempatan akselerasi darah yang keluar dari ventrikel, dan makin pelan terdengarnya BJ I dan sebaliknya makin lebar terbukanya katup atrioventrikuler sebelum kontraksi, makin keras BJ I, karena akselerasi darah dan gerakan katup lebih cepat.
 Jarak jantung terhadap dinding dada. Pada pasien dengan dada kurus BJ lebih keras terdengar dibandingkan pasien gemuk dengan BJ yang terdengar lebih lemah. Demikian juga pada pasien emfisema pulmonum BJ terdengar lebih lemah.
Bunyi jantung I yang mengeras dapat terjadi pada stenosisis mitral,
BJ II ditimbulkan karena vibrasi akibat penutupan katup aorta (komponen aorta), penutupan katup pulmonal (komponen pulmonal), perlambatan aliran yang mendadak dari darah pada akhir ejaksi sistolik, dan benturan balik dari kolom darah pada pangkal aorta yang baru tertutup rapat.
Bunyi jantung II dapat dijumpai pada Duktus Arteriosus Persisten besar, Tetralogi Fallot, stenosis pulmonalis,
Pada gagal jantung kanan suara jantung II pecah dengan lemahnya komponen pulmonal. Pada infark miokard akut bunyi jantung II pecah paradoksal, pada atrial septal depect bunyi jantung II terbelah.
BJ III terdengar karena pengisian ventrikel yang cepat (fase rapid filling). Vibrasi yang ditimbulkan adalah akibat percepatan aliran yang mendadak pada pengisisan ventrikel karena relaksasi aktif ventrikel kiri dan kanan dan segera disusul oleh perlambatan aliran pengisian
Bunyi jantung III dapat dijumpai pada syok kardiogenik, kardiomiopati, gagal jantung, hipertensi
Bunyi jantung IV dapat terdengar bila kontraksi atrium terjadi dengan kekuatan yang lebih besar, misalnya pada keadaan tekanan akhir diastole ventrikel yang meninggi sehingga memerlukan dorongan pengisian yang lebih keras dengan bantuan kontraksi atrium yang lebih kuat.
Bunyi jantung IV dapat dijumpai pada penyakit jantung hipertensif, hipertropi ventrikel kanan, kardiomiopati, angina pectoris, gagal jantung, hipertensi,
Irama derap dapat dijumpai pada penyakit jantung koroner, infark miokard akut, miokarditis, kor pulmonal, kardiomiopati dalatasi, gagal jantung, hipertensi, regurgitasi aorta.

Bunyi jantung tambahan
Bunyi detek ejeksi pada awal sistolik (early sisitolic click). Bunyi ejeksi adalah bunyi dengan nada tinggi yang terdengar karena detak. Hal ini disebabkan karena akselerasi aliran darh yang mendadak pada awal ejeksi ventrikel kiri dan berbarengan dengan terbukanya katup aorta yang terjadi lebih lambat.. keadaan inisering disebabkan karena stenosis aorta atau karena beban sistolik ventrikel kiri yang berlebihan dimana katup aorta terbuka lebih lambat.
Bunyi detak ejeksi pada pertengahan atau akhir sistolik (mid-late systolick klick) adalah bunyi dengan nada tinggi pada fase pertengahan atau akhir sistolik yang disebabkan karena daun-daun katup mitral dan chordae tendinea meregang lebih lambat dan lebih keras. Keadaan ini dapat terjadi pada prolaps katup mitral karena gangguan fungsi muskulus papilaris atau chordae tendinea.
Detak pembukaan katup (opening snap) adalah bunyi yang terdengar sesudah BJ II pada awal fase diastolik karena terbukanya katup mitral yang terlambat dengan kekuatan yang lebih besar yang disebabkan hambatan pada pembukaan katup mitral. Keadaan ini dapat terjadi pada stenosis katup mitral.
Pada stenosis trikuspid pembukaan katup didaera trikuspid.

Bunyi ekstra kardial
Gerakan perikard (pericardial friction rub) terdengar pada fase sistolik dan diastolik akibat gesekan perikardium viseral dan parietal. Bunyi ini dapat ditemukan pada perikarditis.

Bising (desir) jantung (cardiac murmure)
Bising jantung adalah bunyi desiran yang terdengar memanjang yang timbul akibat vibrasi aliran darah turbulen yang abnormal.
Evaluasi desir jantung dilihat dari:
1. Waktu terdengar: pada fase sistolik atau diastolik
Terlebih dahulu tentukan fase siklus jantung pada saat terdengar bising (sistolik atau diastolik) dengan patokan BJ I dan BJ II atau dengan palapasi denyut karotis yang teraba pada awal sistolik.
Bising diastolik dapat dijumpai pada stenosis mitral, regurgitasi aorta, insufisiensi aorta, gagal jantung kanan, stenosis tricuspid yang terdengar pada garis sternal kiri sampai xipoideus, endokarditis infektif, penyakit jantung anemis
Bising sistolik dapat dijumpai pada stenosis aorta, insufisiensi mitral, endokarditis infektif, angina pectoris, stenosis pulmonalis yang terdengar di garis sternal kiri bagian atas, tatralogi fallot,
Bising jantung sistolik terdengar pada fase sistolik, dibedakan:
 Bising jantung awal sistolik: Terdengar mulai pada saat sesudah BJ I dan menempati pase awal sistolik dan berakhir pada pertengahan pase sistilik
 Bising jantung pertengahan sistolik: Terdengar sesudah BJ I dan pada pertengahan fase sisitolik dan berakhir sebelum terdengar BJ II.
Bising ini dapat dijumpai pada Duktus Arteriosus Persisten (DAP) sedang,
 Bising jantung akhir sistolik: Terdengar pada fase akhir sistolik dan berakhir pada saat terdengar BJ II
Bising ini dapat dijumpai pada sindrom marfan

 Bising jantung pan-sistolik: Mulai terdengar pada saat BJ I dan menempati seluruh fase sisitolik dan berakhir pada saat terdengar BJ II.
Bising ini dapat dijumpai pada ventrikel septal defect , regurgitasi trikuspid

Bising jantung diastolik terdengar pada fase diastolik, dibedakam:
 Bising jantung awal: terdengar mulai saat BJ II menempati fase awal diastolik dan biasanya menghilang pada pertengahan diastolik.
Bising ini dapat dijumpai pada ventrikel septal depect
 Bising jantung pertengahan: terdengar sesaat sesudah terdengar BJ II dan biasanya berakhir sebelum BJ I
Bising ini dapat dijumpai pada ventrikel septal depect, stenosis mitral, Duktus Arteriosus Persisten (DAP) yang berat
 Bising jantung akhir diastolik atau presistolik: terdengar pada fase akhir diastolik dan berakhir pada saat terdengar BJ I
Bising ini dapat dijumpai pada stenosis mitral,
 Bising jantung bersambungan: mulai terdengar paada fase sistolik dan tanpa interupsi melampai BJ II terdengar kedalam fase diastolic
Bising ini dapat ditemukan pada patent dutus srteriosus

2.Intensitas bunyi:
intensitas bunyi yang ditimbulkan berbeda-beda dari yang ringan sanpai yang keras. Pada insufisiensi mitral intensitas bising sedang sampai tinggi. Pada gagal janntung kanan dapat terdengar bising Graham Steel yang merupakan bising yang terdengar dengan nada tinggi yang terjadi akibat hipertensi pulmonal.
Didasarkan pada tingkat kerasnya suara, dibedakan:

3.Tipe (konfigurasi): timbul karena penyempitan atau aliran balik, dibedakan:
 Bising tipe kresendo: mulai terdengar dari pelan kemudian mengeras
Bising kresendo diastolik dapat terdengar pada stenosis mitral
 Bising tipe dekresendo: bunyi dari keras kemudian menjadi pelan
 Bising tipe kresendo-dekresendo: bunyi pelan lalu keras lalu pelan kembali
 Bising tipe plateau: keras suara bising lebih menetap sepanjang pase sistolik, keras jarang berbunyi kasar
Bising ini dapat dijumpai pada insufisiensi mitral.

4.Lokasi dan penyebaran: daerah bising terdengar paling keras dan mungkin menyebar kearah tertentu
Pada stenosis aorta bising diastolik di sela iga 2 kiri atau kanan dapat menjalar ke leher atau aorta

Add comment September 20, 2008

Keracunan dalah masuknya zat yang berlaku sebagai racun, yang memberikan gejala sesuai dengan macam, dosis dan cara pemberiannya.

Seseorang dicurigai menderita keracunan, bila :
1. Sakit mendadak.
2. Gejala tak sesuai dengan keadaan patologik tertentu.
3. Gejala berkembang dengan cepat karena dosis besar.
4. Anamnese menunjukkan kearah keracunan, terutama kasus percobaan bunuh diri, pembunuhan atau kecelakaan.
5. Keracunan kronis dicurigai bila digunakannya obat dalam waktu lama atau lingkungan pekerjaan yang berhubungan dengan zat kimia.
GEJALA UMUM KERACUNAN

1. Hipersalivasi (air ludah berlebihan)
2. Gangguan gastrointestinal : mual-muntah
3. Mata : miosis

PENATALAKSANAAN

1. Mencegah / menghentikan penyerapan racun

a. Racun melalui mulut (ditelan / tertelan)
1. Encerkan racun yang ada di lambung dengan : air, susu, telor mentah atau norit).
2. Kosongkan lambung (efektif bila racun tertelan sebelum 4 jam) dengan cara :

- Dimuntahkan :
Bisa dilakukan dengan cara mekanik (menekan reflek muntah di tenggorokan), atau pemberian air garam atau sirup ipekak.
Kontraindikasi : cara ini tidak boleh dilakukan pada keracunan zat korosif (asam/basa kuat, minyak tanah, bensin), kesadaran menurun dan penderita kejang.

- Bilas lambung :
• Pasien telungkup, kepala dan bahu lebih rendah.
• Pasang NGT dan bilas dengan : air, larutan norit, Natrium bicarbonat 5 %, atau asam asetat 5 %.
• Pembilasan sampai 20 X, rata-rata volume 250 cc.
Kontraindikasi : keracunan zat korosif & kejang.

- Bilas Usus Besar : bilas dengan pencahar, klisma (air sabun atau gliserin).

b. Racun melalui melalui kulit atau mata

- Pakaian yang terkena racun dilepas
- Cuci / bilas bagian yang terkena dengan air dan sabun atau zat penetralisir (asam cuka / bicnat encer).
- Hati-hati : penolong jangan sampai terkontaminasi.

c. Racun melalui inhalasi
- Pindahkan penderita ke tempat aman dengan udara yang segar.
- Pernafasan buatan penting untuk mengeluarkan udara beracun yang terhisap, jangan menggunakan metode mouth to mouth.

d. Racun melalui suntikan
- Pasang torniquet proximal tempat suntikan, jaga agar denyut arteri bagian distal masih teraba dan lepas tiap 15 menit selama 1 menit
- Beri epinefrin 1/1000 dosis : 0,3-0,4 mg subkutan/im.
- Beri kompres dingin di tempat suntikan

2. Mengeluarkan racun yang telah diserap
Dilakukan dengan cara :
- Diuretic : lasix, manitol
- Dialisa
- Transfusi exchange

3. Pengobatan simptomatis / mengatasi gejala
- Gangguan sistem pernafasan dan sirkulasi : RJP
- Gangguan sistem susunan saraf pusat :
• Kejang : beri diazepam atau fenobarbital
• Odem otak : beri manitol atau dexametason.

4. Pengobatan spesifik dan antidotum

a. Keracunan Asam / Basa Kuat (Asam Klorida, Asam Sulfat, Asam Cuka Pekat, Natrium Hidroksida, Kalium Hidroksida).

- Dapat mengenai kulit, mata atau ditelan.
- Gejala : nyeri perut, muntah dan diare.
- Tindakan :
• Keracunan pada kulit dan mata :
- irigasi dengan air mengalir
- beri antibiotik dan antiinflamasi.
• Keracunan ditelan / tertelan :
- asam kuat dinetralisir dengan antasida
- basa kuat dinetralisir dengan sari buah atau cuka
- jangan bilas lambung atau tindakan emesis
- beri antibiotik dan antiinflamasi.

b. Keracunan Alkohol / Minuman Keras

- Gejala : emosi labil, kulit memerah, muntah, depresi pernafasan, stupor sampai koma.
- Tindakan :
• Bilas lambung dengan air
• Beri kopi pahit
• Infus glukosa : mencegah hipoglikemia.

c. Keracunan Arsenikum

- Gejala : mulut kering, kulit merah, rasa tercekik, sakit menelan, kolik usus, muntah, diare, perdarahan, oliguri, syok.
- Tindakan :
• Bilas lambung dengan Natrium karbonat/sorbitol
• Atasi syok dan gangguan elektrolit
• Beri BAL (4-5 Kg/BB) setiap 4 jam selama 24 jam pertama. Hari kedua sampai ketiga setiap 6 jam (dosis sama). Hari keempat s/d ke sepuluh dosis diturunkan.

d. Keracunan Tempe Bongkrek

- Gejala : mengantuk, nyeri perut, berkeringat, dyspneu, spasme otot, vertigo sampai koma.
- Tindakan : terapi simptomatik.

e. Keracunan Makanan Kaleng (Botulisme)

- Gejala : gangguan penglihatan, reflek pupil (-), disartri, disfagi, kelemahan otot lurik, tidak ada gangguan pencernaan dan kesadaran.
- Tindakan :
• Bilas lambung dengan norit
• Beri ATS 10.000 unit.
• Ber Fenobarbital 3 x 30-60 mg / oral.

f. Keracunan Ikan

- Gejala : panas sekitar mulut, rasa tebal pada anggota badan, mual, muntah, diare, nyeri perut, nyeri sendi, pruritus, demam, paralisa otot pernafasan.
- Tindakan : Emesis, bilas lambung dan beri pencahar.

g. Keracunan Jamur

- Gejala : air mata, ludah dan keringat berlebihan, mata miosis, muntah, diare, nyeri perut, kejang, dehidrasi, syok sampai koma.
- Tindakan :
• Emesis, bilas lambung dan beri pencahar.
• Injeksi Sulfas Atropin 1 mg / 1-2 jam
• Infus Glukosa.
h. Keracunan Jengkol

- Gejala : kolik ureter, hematuria, oliguria – anuria, muncul gejala Uremia.
- Tindakan :
• Infus Natrium bikarbonat
• Natrium bicarbonat tablet : 4 x 2 gr/hari

i. Keracunan Singkong

- Gejala : Mual, nyeri kepala, mengantuk, hipotensi, takikardi, dispneu, kejang, koma (cepat meninggal dalam waktu 1-15 menit).
- Tindakan :
• Beri 10 cc Na Nitrit 5 % iv dalam 3 menit
• Beri 50 cc Na Thiosulfat 25 % iv dalam 10 menit.

j. Keracunan Marihuana / Ganja

- Gejala : halusinasi, mulut kering, mata midriasis
- Tindakan : simptomatik, biasanya sadar setelah dalam 24 jam pertama.

k. Keracunan Formalin

- Gejala :
• Inhalasi : iritasi mata, hidung dan saluran nafas, spasme laring, gejala bronchitis dan pneumonia.
• Kulit : iritasi, nekrosis, dermatitis.
• Ditelan/tertelan : nyeri perut, mual, muntah, hematemesis, hematuria, syok, koma, gagal nafas.
- Tindakan : bilas lambung dengan larutan amonia 0,2 %, kemudian diberi minum norit / air susu

l. Keracunan Barbiturat

- Gejala : mengantuk, hiporefleksi, bula, hipotensi, delirium, depresi pernafasan, syok sampai koma.
- Tindakan :
• Jangan lakukan emesis atau bilas lambung
• Bila sadar beri kopi pahit secukupnya
• Bila depresi pernafasan, beri amphetamin 4-10 mg intra muskular.

m. Keracunan Amfetamin

- Gejala : mulut kering, hiperaktif, anoreksia, takikardi, aritmia, psikosis, kegagalan pernafasan dan sirkulasi.
- Tindakan :
• Bilas lambung
• Klorpromazin 0,5-1 mg/kg BB, dapat diulang tiap 30 menit
• Kurangi rangsangan luar (sinar, bunyi)
n. Keracunan Aminopirin (Antalgin)

- Gejala : gelisah, kelainan kulit, laborat : agranolositosis
- Tindakan :
• Beri antihistamin im/iv
• Beri epinefrin 1 %o 0,3 cc sub kutan.

o. Keracunan Digitalis (Digoxin)

- Gejala : anoreksia, mual, diare, nadi lambat, aritmia dan hipotensi
- Tindakan :
• Propranolol
• KCl iv

p. Keracunan Insektisida Gol.Organofosfat (Diazinon, Malathion)

- Gejala : mual, muntah, nyeri perut, hipersalivasi, nyeri kepala, mata miosis, kekacauan mental, bronchokonstriksi, hipotensi, depresi pernafasan dan kejang.
- Tindakan :
• Atropin 2 mg tiap 15 menit sampai pupil melebar
• Jangan diberi morfin dan aminophilin.

q. Keracunan Insektisida Gol.(Endrin, DDT)

- Gejala : muntah, parestesi, tremor, kejang, edem paru, vebrilasi s/d kegagalan ventrikel, koma
- Tindakan :
• Jangan gunakan epinefrin
• Bilas lambung hati-hati
• Beri pencahar
• Beri Kalsium glukonat 10 % 10 cc iv pelan-pelan.

r. Keracunan Senyawa Hidrokarbon (Minyak Tanah, Bensin)

- Gejala :
• Inhalasi : nyeri kepala, mual, lemah, dispneu, depresi pernafasan
• Ditelan/tertelan : muntah, diare, sangat berbahaya bila terjadi aspirasi (masuk paru)
- Tindakan :
• Jangan lakukan emesis
• Bilas lambung hati-hati
• Beri pencahar
• Depresi pernafasan : Kafein 200-500 mg im
• Pengawasan : kemungkinan edem paru.

s. Keracunan Karbon Mono-oksida (CO)

- Gejala : kulit dan mukosa tampak merah terang, nyeri dan pusing kepala, dispneu, pupil midriasis, kejang, depresi pernafasan sampai koma.
- Tindakan :
• Pasang O2 bertekanan
• Jangan gunakan stimulan
• Pengawasan : kemungkinan edem otak

t. Keracunan Narkotika (Heroin, Morfin, Kodein)

- Gejala : mual, muntah, pusing, klulit dingin, pupil miosis, pernafasan dangkal sampai koma.
- Tindakan :
• Jangan lakukan emesis
• Beri Nalokson 0,4 mg iv tiap 5 menit (atau Nalorpin 0,1 mg/Kg BB.
Obat terpilih Nalokson (dosis maximal 10 mg), karena tidak mendepresi pernafasan, memperbaiki kesadaran, hanya punya efek samping emetik.
Karenanya pada penderita koma tindakan preventif untuk aspirasi harus disiapkan.

Add comment September 20, 2008

TUBERKULOSIS MILIER

Beberapa bulan setelah terbentuknya komplek primer, basil tuberkulosis menyebar ke seluruh tubuh. Penyebaran ini jarang menyebabkan sakit.
Pada Tuberkulosis Milier sebagai perkembangan penyakit, terjadi penyebaran hematogen ke seluruh tubuh. Penyebaran ini menyebabkan orang menjadi sakit. Umumnya Tuberkulosis Milier terjadi dalam waktu 1 tahun setelah infeksi primer.
Tuberkulosis Milier adalah suatu bentuk Tuberkulosa paru dengan terbentuknya granuloma. Granuloma yang merupakan perkembangan penyakit dengan ukuran kurang lebih sama kelihatan seperti biji ‘milet’ (sejenis gandum), berdiameter 1-2 mm.
Tuberkulosis jenis ini bisa terjadi pada semua golongan umur, namun sebagian besar penderita berumur kurang dari 5 tahun.
PATOGENESIS

Pada anak dan orang dewasa, Tuberkulosis Milier terjadi bila fokus di paru pecah dan masuk ke dalam arteri atau vena sehingga terjadi bakterimia. Kuman penyebab penyakit kronis seperti tuberkulosa ini sering menyebabkan berbagai macam reaksi imunologi, yang akibatnya bisa lebih parah dari pada akibat erosif kuman. Dalam hal tuberkulosis terbentuk granuloma-granuloma yang berbatas tegas oleh sifat kronis penyakit tuberkulosis dan reaksi imunologik penderita.
Apabila bakteri pirogen memasuki pembuluh darah, artinya terjadi septisemia. Maka reaksi antara septisemia dan reaksi imunologik ini menentukan apakah nantinya tanda dan gejala penyakit akan menjadi ringan atau berat. Begitu pula dengan prognosisnya baik atau buruk, serta apakah penyebaran basil tuberkulosis terkendali atau tidak.

GAMBARAN KLINIS

Gejala TBC Milier timbul perlahan-lahan dan sifatnya tidak spesifik. Gejala bisa berupa : febris, letargi, keringat malam, nafsu makan berkurang, dan berat badan menurun. Febris yang bersifat turun naik sampai 40 C dan berlangsung lama adalah gejala yang paling sering dijumpai.
Di negara berkembang TBC milier harus dicurigai, bila setelah menderita campak, batuk rejan atau infeksi interkuren lainnya, anak sakit-sakitan dan berat badanya menurun. Walaupun terdapat febris, penderita TBC Milier biasanya tidak tampak sakit berat. Batuk biasanya tidak ada atau ringan saja. Sesak nafas dan sianosis mungkin dijumpai pada kasus yang berat.
Pada pemeriksaan paru sering tidak didapatkan kelainan. Krepitasi mungkin terdengar bila anak disuruh bernafas dalam. Limpa biasanya membesar, sedang hepar tidak selalu. Pemeriksaan funduskopi mata sering menunjukkan gejala patognomonik pada sebagian besar kasus, yaitu ditemukannya tuberkel koroid. Dan pada sebagian penderita bisa ditemukan tanda-tanda meningitis.

PEMERIKSAAN DARAH

Tidak ada perubahan hematologi yang spesifik pada TBC Milier. Laju enap darah tidak informatif. Anemia biasanya ringan, namun pada kasus lama dan berat mungkin dijumpai anemia berat. Sering ditemui lekopeni, kadang-kadang lekositosis dan monositosis.
Dalam pemeriksaan sumsum tulang didapatkan tuberkel-tuberkel dan gambaran darah tepi dapat menyerupai leukemia berupa leukositosis dan lekosit-lekosit muda, anemia leukoeritroblastik berupa lekosit muda dan normoblas.
Kadang-kadang terdapat gambaran hematologik anemia aplastik berupa pansitopenia.

TES TUBERKULIN (MANTOUX)

Hasil tes tuberkulin biasanya positif kuat. Pada sebagian penderita mungkin positif lemah bahkan negatif. Tetapi bila diulang satu bulan kemudian setelah mendapatkan pengobatan, praktis semua berubah menjadi positif.

PEMERIKSAAN RADIOLOGI

Gambaran patologik pada pemeriksaan radiologi tidak selalu dijumpai pada kasus TBC Milier. Oleh karenanya gambaran radiologi normal belum pasti menyingkirkan diagnosa TBC Milier. Gambaran normal radiologi mungkin disebabkan oleh :

- fokus di paru memecah ke cabang vena, yang menyebabkan tidak terjadinya infiltrat di paru.
- ukuran infiltrat yang sangat kecil.
- atau karena pemeriksaan dilakukan pada fase dini dari penyakit.

Dalam hal demikian sebaiknya pemeriksaan diulang setelah 1-4 minggu.

Gambaran klasik Rongent foto dari TBC Milier adalah gambaran badai salju. Infiltrat-infiltrat yang halus berukuran beberapa mm, tersebar di kedua lapangan pandang paru. Namun perlu diketahui bahwa gambaran badai salju juga bisa ditemukan pada kasus lain seperti : fungosis paru, sarkoidosis, hemosiderosis, dan histositosis X. Gambaran radiologik juga bisa berupa lesi paru yang lebih besar, yaitu berupa infiltrat lober atau linfadenopati hilus.
Disamping itu dapat ditemukan pula efusi pleura, penebalan pleura dan kavitasi. Pada anak biasanya didapat gambaran campuran.

PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK SPESIFIK

Dari uraian di atas terlukis sulitnya menegakkan diagnosa TBC Milier, dan lebih sulit lagi bila anak sudah mendapatkan vaksinasi BCG, karena:
- Vaksinasi BCG merubah reaksi imunologi penderita.
- Vaksinasi BCG mengurangi nilai diagnosa tes tuberkulin.

Pemeriksaan diagnostik spesifik berupa :

1. Pemeriksaan BTA sputum
Hanya 75 % kasus TBC Milier positif dalam pemeriksaan BTA sputum.

2. Pemeriksaan bilasan lambung
Karena sulitnya mendapatkan sputum pada bayi dan anak, maka bisa dilakukan pemeriksaan bilasan lambung. Dalam hal ini ternyata hanya ditemukan 34,8 – 56 % yang positif.

3. Pemeriksaan cairan cerebrospinal
TBC Milier sering disertai Meningitis yang kadang-kadang asimtomatik, oleh karenanya perlu dipertimbangkan punksi lumbal untuk memeriksa cairan cerebrospinal.
Gambaran yang didapat adalah : pleiositosis, kadar glukosa rendah dan atau kadar protein yang tinggi. Hasil biakan positif hanya didapat pada 18,2 % kasus.

4. Pemeriksaan biopsi
Angka positif tergantung dari jaringan yang didapat. Hanya 60 % kasus positif dari pemeriksaan kelenjar limfa dengan granuloma yang mengeju dan yang tidak mengeju.

DIAGNOSA

Diagnosa ditegakkan bila memenuhi kriteri minimal :
1. Anamnesa : ada riwayat kontak dengan penderita TBC dewasa dan aktif.
2. Mantoux test positif.
3. Ditemukan TBC extra paru.

PENGOBATAN

Mengacu kepada ketentuan WHO, pengobatan TBC Milier pada prinsipnya sama dengan pengobatan TBC pada umumnya, yaitu perpaduan dari beberapa jenis antituberkulosa baik yang bakteriostatik maupun bakterisid, yaitu :

1. Isoniasid (H)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh 90% populasi kuman dalam beberapa hari pengobatan. Dosis harian : 5 mg/kg BB, dosis intermiten 3 x / minggu : 10 mg/kg BB.

2. Rifampisin (R)
Bersifat bakterisid, dapat membunuh kuman yang tidak bisa dibunuh oleh Isoniasid. Dosis harian dan dosis intermiten sama, yaitu : 10 mg/kg BB.

3. Pirasinamid (Z)
Bersifat bakterisid, membunuh kuman yang berada di dalam sel dengan suasana asam. Dosis harian : 25 mg/kg BB, dosis intermiten 35 mg/kg BB.

4. Streptomisin (S)
Bersifat bakterisid, dosis harian dan intermiten sama, yaitu : 15 mg/kg BB.

5. Etambutol (E)
Bersifat bakteriostatik, dosis harian : 15 mg/kg BB, dosis intermiten : 30 mg/kg BB.

Pengobatan dibagi dalam 2 tahap yaitu :

1. Tahap Intensif :
Pada tahap ini kombinasi obat diberikan setiap hari selama 60 – 90 hari minum obat.

2. Tahap Lanjutan:
Jenis obat yang diberikan pada tahap ini lebih sedikit, tetapi dengan jangka waktu yang lebih lama, yaitu selama 4 – 5 bulan dengan 54 – 66 hari minum obat (3x/minggu)

Paduan Obat yang ada di Indonesia adalah :

1. Katagori I

- Tahap Intensif , 60 hari minum obat setiap hari dengan perpaduan obat sbb : Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E).
- Tahap lanjutan, 54 hari minum obat selama 4 bulan (3x/minggu), dengan paduan sbb: Isoniasid (H) dan Rifampisin (R).

Obat ini diberikan untuk :
a. Penderita baru TBC Paru BTA positif
b. Penderita TBC Paru BTA negatif, Rontgen positif sakit berat.
c. Penderita TBC ekstra paru berat.

2. Katagori II

- Tahap Intensif, selama 90 hari, terdiri dari :
• 60 hari dengan paduan obat : Isoniazid (H), Rifampisin (R), Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E) serta suntikan Streptomisin (S)
• 30 hari dengan paduan seperti di atas minus suntikan Streptomisin (S).
- Tahap Lanjutan, selama 66 hari minum obat dalam 5 bulan (3x/minggu), dengan paduan : Isoniasid (H), Rifampisin (R) dan Etambutol (E).

Obat ini diberikan untuk :
a. Penderita kambuh (relaps).
b. Penderita gagal dengan pengobatan sebelumnya (failure).
c. Penderita dengan pengobatan setelah lalai (after default)

3. Katagori III

- Tahap Intensif, 60 hari minum obat setiap hari dengan perpaduan obat sbb : Isoniazid (H), Rifampisin (R), dan Pirasinamid (Z)
- Tahap Lanjutan, 54 hari minum obat dalam 4 bulan (3x/minggu) dengan perpaduan obat sbb : Isoniazid (H) dan Rifampisin (R).

Obat ini diberikan untuk :
a. Penderita baru TBC Paru BTA negatif, rontgen positif sakit ringan.
b. Penderita TBC ekstra paru ringan.

4. Obat Sisipan

Obat ini diberikan kepada penderita yang mendapat pengobatan Katagori I atau Katagori II, dimana pada akhir pengobatan fase intensif hasil pemeriksaan BTA masih positif.
Obat fase sisipan diberikan setiap hari selama 30 hari dengan perpaduan obat : Isoniasid (H), Rifampisin (R), Pirasinamid (Z) dan Etambutol (E).
TBC Milier bersama dengan :

- TBC dengan Meningitis,
- TBC Pleuritis Eksudatif,
- TBC Parikarditis Konstriktif,

direkomendasikan untuk mendapat pengobatan dengan :

1. Katagori I dan
2. Kortikosteroid, dengan dosis 30-40 mg/kg BB per hari, kemudian diturunkan secara bertahap sampai 5-10 mg/kg BB, dan lama pemberian disesuaikan dengan jenis penyakit dan kemajuan pengobatan.

PROGNOSA

Prognosa kesembuhan TBC Milier, setelah ditemukannya obat anti TBC mengalami perbaikan yang signifikan, kecuali bila ada komplikasi meningitis, serta keterlambatan dan tidak teratur dalam berobat.

Add comment September 20, 2008

hipoksia

Tujuan akhir pernapasan adalah untuk mempertahankan konsentrasi oksigen, karbondioksida dan ion hidrogen dalam cairan tubuh. Kelebihan karbondioksida atau ion hidrogen mempengaruhi pernapasan terutama efek perangsangan pusat pernapasannya sendiri, yang menyebabkan peningkatan sinyal inspirasi dan ekspirasi yang kuat ke otot-otot pernapasan. Akibat peningkatan ventilasi pelepasan karbondioksida dari darah meningkat, ini juga mengeluarkan ion hidrogen dari darah karena pengurangan karbondioksida juga mengurangi asam karbonat darah.1
PO2 darah yang rendah pada keadaan normal tidak akan meningkatkan ventilasi alveolus secara bermakna sampai tekanan oksigen alveolus turun hampir separuh dari normal. Sebab dari berkurangnya efek perubahan tekanan oksigen pada pengaturan pernapasan berlawanan dengan yang disebabkan oleh mekanisme yang mengatur karbondioksida dan ion hidrogen. Peningkatan ventilasi yang benar-benar terjadi bila PO2 turun mengeluarkan karbondioksida dari darah dan oleh karena itu mengurangi tekanan PCO2, pada waktu yang sama konsentrasi ion hidrogen juga menurun. Berbagai keadaan yang menurunkan transpor oksigen dari paru ke jaringan termasuk anemia, dimana jumlah total hemoglobin yang berfungsi untuk membawa oksigen berkurang, keracunan karbondioksida, sehingga sebagian besar hemoglobin menjadi tidak mampu mengangkut oksigen, dan penurunan aliran darah ke jaringan dapat di sebabkan oleh penurunan curah jantung atau iskemi lokal jaringan.1
Perubahan tegangan oksigen dan karbondioksida serta perubahan konsentrasi intraeritrosit dari komponen fosfat organik, terutama asam 2,3 bifosfat (2,3-BPG) men yebabkan pergeseran kurva disosiasi oksigen. Bila hasil hipoksia sebagai akibat gagal pernapasan, PaCO2 biasanya meningakat, dan kurva disosiasi oksigen bergeser ke kanan. Dalam kondisi ini, persentase saturasi hemoglobin dalam darah arteri pada kadar penurunan tegangan okmsigen alveolar (PaO2) yang diberikan. Akibat dari hipoksia, terjadinya perubahan pada sistem syaraf pusat. Hipoksia akaut akan menyebabkan gangguan judgement, inkoordinasi motorik dan gambaran klinis yang mempunyai gambaran pada alkoholisme akut. Kalau keadaan hipoksia berlangsung lama mengakibatkan gejala keletihan, pusing, apatis, gangguan daya konsentrasi, kelambatan waktu reaksi dan penurunan kapasitas kerja. Begitu hipoksia bertambah parah pusat batang otak akan terkena, dan kematian biasanya disebabkan oleh gagal pernapasan. Bila penurunan PaO2 disertai hiperventilasi dan penurunan PaCO2, resistensi serebro-vasculer meningkat, aliran darah serebral meningkat dan hipoksia bertambah.2
Pengaruh hipoksia stagnant tergantung pada jaringan yang dipengaruhi. Pada hipoksia, otak dipengaruhi pertama kali.3 Di otak terdapat pusat pernapasan yang merupakan sekelompok neuron yang tersebar luas dan terletak bilateral (dari kiri ke kanan) medula oblongata dan pons. Ada tiga kelompok neuron utama: (1) kelompok neuron pernapasan dorsal terletak di bagian dorsal medulla, yang menyebabkan inspirasi, (2) kelompok pernapasan ventral yang terletak di ventro lateral medulla yang menyebabkan ekspirasi atau inspirasi tergantubg pada kelompok neuron yang dirangsang, (3) pusat pneumotaksik, terletak di bagian superior belakang pons yang membantu kecepatan dan pola pernapasan.1 neuron-neuron kelompok pernapasan dorsal memegang peranan penting dalam mengontrol pernapasan.
II.1 Definisi
Hipoksia adalah penurunan pemasukan oksigen ke jaringan sampai di bawah tingkat fisiologik meskipun perfusi jaringan oleh darah memedai.4,5

II.2 Etiologi
Hipoksia dapat terjadi karena defisiensi oksigen pada tingkat jaringan akibatnya sel-sel tidak cukup memperoleh oksigen sehingga metabolisme sel akan terganggu. Hipoksia dapat disebabkan karena:(1) oksigenasi paru yang tidak memadai karena keadaan ekstrinsik, bisa karena kekurangan oksigen dalam atmosfer atau karena hipoventilasi (gangguan syaraf otot), (2) penyakit paru, hipoventilasi karena peningkatan tahanan saluran napas atau compliance paru menurun. Rasio ventilasi –perfusi tidak sama (termasuk peningkatan ruang rugi fisiologik dan shunt fisiologik). Berkurangnya membran difusi respirasi, (3) shunt vena ke arteri (shunt dari “kanan ke kiri’ pada jaringan), (4) transpor dan pelepasan oksigen yang tidak memedai (inadekuat). Hal ini terjadi pada anemia, penurunan sirekulasi umum, penurunan sirkulasi lokal (perifer, serebral, pembuluh darah jantung), edem jaringan, (5) pemakaian oksigen yang tidak memedai pada jaringan, misal pada keracunan enzim sel, kekurangan enzim sel karena defisiensi vitamin B.1
Gagal pernapasan dapat akut dapat didefinisikan sebagai kurangnya PO2 dari 50 mmHg dengan atau tanpa PCO2 lebih dari 50 mmHg. Hipoksia dapat disebabkan oleh gagal kardiovaskuler misalnya syok, hemoglobin abnormal, penyakit jantung, hipoventilasi alveolar, lesi pirau, masalah difusi, abnormalitas ventilasi-perfusi, pengaruh kimia misal karbonmonoksida, ketinggian, faktor jaringan lokal misal peningkatan kebutuhan metabolisme, dimana hipoksia dapat menimbulkan efek-efek pada metabolisme jaringan yang selanjutnya menyebabkan asidosis jaringan dan mengakibatkan efek-efek pada tanda vital dan efek pada tingkat kesadaran.6 Gagal napas selalu disertai hipoksia. Beberapa kasus umum gagal pernapasan adalah: (1) syaraf pusat, segala sesuatu yang menimbulkan depresi pada pusat napas akan menimbulkan gangguan napas misalnya obat-obatan(anestesia, narkotik, tranquiliser),trauma kepala, radang otak, strok, neoplasma. (2) syaraf tepi:
a. Jalan napas, sumbatan jalan napas akan menganggu ventilasi dan oksigenasi, tetapi setelah sumbatan jalan napas bebas masih tetap ada gangguan ventilasi maka harus di cari penyebab yang lain.
b. Paru, kelainan di paru seperti radang, aspirasi, atelektasis, edem, contusio, dapat menyebabkan gangguan napas.
c. Rongga pleura, normalnya rongga pleura kosong dan bertekanan negatif, tetapi biula sesuatu yang menyebabkan tekanan menjadi positif seperti udara (pneumothorak), cairan (fluidothorak), darah (hemothorak) maka paru dapat terdesak dan timbul gangguan napas.
d. Dinding dada, patah tulang iga yang multipel apalagi segmental akan menyebabkan nyeri waktu inspirasi dan terjadinya flail chest sehingga terjadi hipoventilasi sampai atelektasis paru, scleroderma, kyphoscoliosis.
e. Otot napas, otot inspirasi utama adalah diafragma dan interkostal eksternus. Bila ada kelumpuhan otot-otot tersebut misal karena sisa obat pelumpuh otot, myastenia gravis, akan menyebabkan gangguan napas. Tekanan intra abdominal yang tinggi akan menghambat gerak diafragma.
f. Syaraf, kelumpuhan atau menurunnya fungsi syaraf yang mengnervasi otot interkostal dan diafragma akan menurunkan kemampuan inspirasi sehingga terjadi hipoventilasi. Misalnya: Blok subarachnoid yang terlalu tinggi, cedera tulang leher, Guillain Barre Syndrome, Poliomyelitis.
(3) Percabangan neuromuscular misalnaya otot yang relaksasi, keracunan organophospat. (4) Post operasi misal bedah thorak, bedah abdomen.7,8
Dalam anestesi, gagal pernapasan/sumbatan jalan napas dapat disebabkan oleh tindakan operasi itu sendiri misalnya karena obat pelumpuh otot, karena muntahan,/lendir, suatu penyakit,(koma, stroke, radang otak), trauma/kecelakaan (trauma maksilofasial, trauma kepala, keracunan).8

II.3 Macam Hipoksia
Hipoksia di bagi dalam 4 tipe : (1) hipoksia hipoksik (anoksia anoksik), dimana PO2 darah arteri berkurang, (2) hipoksia anemik, dimana PO2 darah arteri normal tetapi jumlah hemoglobin yang tersedia untuk mengangkut oksigen berkurang, (3) hipoksia stagnant atau iskemik, dimana aliran darah ke jaringan sangat lambat sehingga oksigen yang adekuat tidak di kirim ke jaringan walaupun PO2 konsentrasi hemoglobin normal, (4) hipoksia histotoksik dimana jumlah oksigen yang dikirim ke suatu jaringan adalah adekuat tetapi oleh karene kerja zat yang toksik sel-sel jaringan tidak dapat memakai oksigen yang disediakan.3

II.4 Diagnosis
Setiap keluhan atau tanda gangguan respirasi hendaknya mendorong di lakukannya analisis gas-gas darah arteri. Saturasi hemoglobin akan oksigen (SaO2) kurang dari 90% yang biasanya sesuai dengan tegangan oksigen arterial (PaO2) kurang dari 60 mmHg sangat mengganggu oksigenasi CO2 arterial (PaCO2) hingga lebih dari 45-50 mmHg mengandung arti bahwa ventilasi alveolar sangat terganggu. Kegagalan pernapsan terjadi karena PaCO2 kurang dari 60mmHg pada udara ruangan, atau pH kurang dari 7,35 dengan PaCO2 lebih besar dari 50mmHg. Dimana daya penyampaian oksigen ke jaringan tergantung pada: (1) sistem pernapasan yang utuh yang akan memberikan oksigen untuk menjenuhi hemoglobin, (2) kadar hemoglobin, (3) curah jantung dan microvascular, (4) mekanisme pelepasan oksihemoglobin.9

II.5 Patofisiologi
Pada keadaan dengan penurunan kesadaran misalnya pada tindakan anestesi, penderita trauma kepal/karena suatu penyakit, maka akan terjadi relaksasi otot-otot termasuk otot lidah dan sphincter cardia akibatnya bila posisi penderita terlentang maka pangkal lidah akan jatuh ke posterior menutup orofaring, sehingga menimbulkan sumbatan jalan napas. Sphincter cardia yang relaks, menyebabkan isi lambung mengalir kembali ke orofaring (regurgitasi). Hal ini merupakan ancaman terjadinya sumbatan jalan napas oleh aspirat yang padat dan aspirasi pneumonia oleh aspirasi cair, sebab pada keadaan ini pada umumnya reflek batuk sudah menurun atau hilang.8
Kegagalan respirasi mencakup kegagalan oksigenasi maupun kegagalan ventilasi. Kegagalan oksigenasi dapat disebabkan oleh: (1) ketimpangan antara ventilasi dan perfusi. (2) hubungan pendek darah intrapulmoner kanan-kiri. (3) tegangan oksigen vena paru rendah karena inspirasi yang kurang, atau karena tercampur darah yang mengandung oksigen rendah. (4) gangguan difusi pada membran kapiler alveoler. (5) hipoventilasi alveoler. Kegagalan ventilasi dapat terjadi bila PaCO2 meninggi dan pH kurang dari 7,35. Kegagalan ventilasi terjadi bila “minut ventilation” berkurang secara tidak wajar atau bila tidak dapat meningkat dalam usaha memberikan kompensasi bagi peningkatan produksi CO2 atau pembentukan rongga tidak berfungsi pada pertukaran gas (dead space). Kelelahan otot-otot respirasi /kelemahan otot-otot respirasi timbul bila otot-otot inspirasi terutama diafragma tidak mampu membangkitkan tekanan yang diperlukan untuk mempertahankan ventilasi yang sudah cukup memadai. Tanda-tanda awal kelelahan otot-otot inspirasi seringkali mendahului penurunan yang cukup berarti pada ventilasi alveolar yang berakibat kenaikan PaCO2. Tahap awal berupa pernapasan yang dangkal dan cepat yang diikuti oleh aktivitas otot-otot inspirasi yang tidak terkoordinsiberupa alterans respirasi (pernapasan dada dan perut bergantian), dan gerakan abdominal paradoxal (gerakan dinding perut ke dalam pada saat inspirasi) dapat menunjukan asidosis respirasi yang sedang mengancam dan henti napas.9
Jalan napas yang tersumbat akan menyebabkan gangguan ventilasi karena itu langkah yang pertama adalah membuka jalan napas dan menjaganya agar tetap bebas. Setelah jalan napas bebas tetapi tetap ada gangguan ventilasi maka harus dicari penyebab lain.penyebab lain yang terutama adalah gangguan pada mekanik ventilasi dan depresi susunan syaraf pusat. Untuk inspirasi agar diperoleh volume udara yang cukup diperlukan jalan napas yang bebas, kekuatan otot inspirasi yang kuat, dinding thorak yang utuh, rongga pleura yang negatif dan susunan syaraf yang baik.Bila ada gangguan dari unsur-unsur mekanik diatas maka akan terjadi hipoventilasi yang mengakibatkan hiperkarbia dan hipoksemia. Hiperkarbia menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah otak yang akan meningkatkan tekanan intrakranial, yang dapat menurunkan kesadran dan menekan pusat napas bila disertai hipoksemia keadaan akan makin buruk. Penekanan pusat napas akan menurunkan ventilasi. Lingkaran ini harus dipatahkan dengan memberikan ventilasi dan oksigensi. Gangguan ventilasi dan oksigensi juga dapat terjadi akibat kelainan di paru dan kegagalan fungsi jantung. Parameter ventilasi : PaCO2 (N: 35-45 mmHg), ETCO2 (N: 25-35mmHg), parameter oksigenasi : Pa O2 (N: 80-100 mmHg), Sa O2 (N: 95-100%).8

II.6 Penatalaksanaan
Penilaian dari pengelolaan jalan napas harus dilakukan dengan cepat, tepat dan cermat. Tindakan ditujukan untuk membuka jalan napas dan menjaga agar jalan napas tetap bebas dan waspada terhadap keadaan klinis yang menghambat jalan napas.Penyebab sumbatan jalan napas yang tersering adalah lidah dan epiglotis, muntahan, darah, sekret, benda asing, trauma daerah maksilofasial. Pada penderita yang mengalami penurunan kesadaran maka lidah akan jatuh ke belakang menyumbat hipofarings atau epiglotis jatuh kebelakang menutup rima glotidis. Dalam keadaan seperti ini, pembebasan jalan napas dapat dilakukan tanpa alat maupun dengan menggunakan jalan napas buatan. Membuka jalan napas tanpa alat dilakukan dengan cara Chin lift yaitu dengan empat jari salah satu tangan diletakkan dibawah rahang ibu jari diatas dagu, kemudian secara hati-hati dagu diangkat ke depan. Bila perlu ibu jari dipergunakan untuk membuka mulut/bibir atau dikaitkan pada gigi seri bagian bawah untuk mengangkat rahang bawah. Manuver Chin lift ini tidak boleh menyebabkan posisi kepala hiperekstensi. Cara Jaw Thrust yaitu dengan mendorong angulus mandibula kanan dan kiri ke depan dengan jari-jari kedua tangan sehingga barisan gigi bawah berada di depan barisan gigi atas, kedua ibu jari membuka mulut dan kedua telapak tangan menempel pada kedua pipi penderita untuk melakukan immobilisasi kepala. Tindakan jaw thrust buka mulut dan head tilt disebut airway manuver.8
Jalan napas orofaringeal. Alat ini dipasang lewat mulut sampai ke faring sehingga menahan lidah tidak jatuh menutup hipofarings. Jalan napas nasofaringeal. Alat di pasang lewat salah satu lubang hidung sampai ke faring yang akan menahan jatuhnya pangkal lidah agar tidak menutup hipofaring. Untuk sumbatan yang berupa muntahan, darah, sekret, benda asing dapat dilakukan dengan menggunakan alat penghisap atau suction. Ada 2 macam kateter penghisap yang sering digunakan yaitu rigid tonsil dental suction tip atau soft catheter suction tip. Untuk menghisap rongga mulut dianjurkan memakai yang rigid tonsil/dental tip sedangkan untuk menghisap lewat pipa endotrakheal atau trakheostomi menggunakan yang soft catheter tip. Jangan menggunakan soft catheter tip lewat lubang hidung pad penderita yang den gan fraktur lamina cribosa karena dapat menembus masuk rongga otak. Harus diperhatikan tata cara penghisapan agar tidak mendapatkan komplikasi yang dapat fatal. Benda asing misalnya daging atau patahan gigi dapat dibersihkan secara manual dengan jari-jari. Bila terjadi tersedak umumnya “nyantol”didaerah subglotis, dicoba dulu dengan cara back blows, abdominal thrust.8

Add comment September 20, 2008

agama

Biar Pede Jadi Muslim

karenanya, jangan ragu en bimbang untuk jadi remaja muslim sejati. di tangan kita sudah ada segenggam berlian yang diburu banyaj orang, sayang banget kalau dibuang. so, busungkan dadamu dan bangga deh jadi remaja muslim. tapi gimana caranya?

*kenali islam dalam-dalam

pepatah lama bilang, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. banyak remaja yang menjauh dari islam karena emang nggak kenal islam. menurut mereka islam itu cuma sekedar ngurusin sholat, puasa, zakat. pikiran ini makin parah dengan adanya isu-isu terorisme, fundamentalisme, fanatisme. supaya nggak tak tersesat, nggak ada jalan lain kesuali, mendalami islam. coba deh mulai pelajari islam. datang ke majlis ta’lim, pengajian sekolah, gaul ama anak-anak rohis, dan baca apa saja tentang kebenaran islam.

*mulai care ama urusan kaum muslim

baca koran, denger radio dan tonton televisi, bahwa di luar rumahmu banyak kaum muslim yang butuh uluran tangan. ornag yang berbahagia, adalah orang yang juga mau berbagi sama ornag lain.

*buat para aktivis, jangan eksklusif

gimana teman-temanmu mau ikutan ngaji kalau para aktivisnya menutup diri dan ogah bergaul dengan dunia luar. nah, mulai deh menarik simpati kawan-kawanmu. tunjukkin bahwa aktivis dakwah itu bersahabat dengan semua orang dan punya solidaritas yang tinggi. mereka yang belum ngaji adalah karena belum tahu. so, tugas kalianlah memberi tahu mereka. jadilah sales islam terbaik. insya Allah, kemenangan akan tiba.

*jangan takut dicap aneh

pembawa kebenaran, emang kudu siap dicap aneh, pake jilbab disangka nenek-nenek mo ke pengajian, rajin ngaji disangka nyari berkat, pake sarung disangka abis disunat. don’t worry guys! sebutan aneh juga ditujukan buat para nabi dan rasul juga para pendukungnya. Nabi saw. berpesan, “Islam itu datang sebagai perkara yang asing, dan akan kembali asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang asing!”

so, be a perfect strangers boyz and galz!

“mutiara hikmah” (QS. al-baqarah:164)

“sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit beriupa air, lalu dengan itu dihidupkan-NYa bumi setelah mati(kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”

Add comment September 18, 2008

13 AURAT WANITA

1. Bulu kening - Menurut Bukhari, Rasullulah melaknat perempuan yang mencukur atau menipiskan bulu kening atau meminta supaya dicukurkan bulu kening – Petikan dari Hadis Riwayat Abu Daud Fi Fathil Bari.

2. Kaki (tumit kaki) semacam hantu loceng – Dan janganlah mereka (perempuan) membentakkan kaki (atau mengangkatnya) agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan – Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31. Keterangan : Menampakkan kaki dan menghayunkan/ melenggokkan badan mengikut hentakan kaki terutamanya pada mereka yang mengikatnya dengan loceng…sama juga seperti pelacur dizaman jahiliyah .

3. Wangian – Siapa sahaja wanita yang memakai wangi-wangian kemudian melewati suatu kaum supaya mereka itu mencium baunya, maka wanita itu telah dianggap melakukan zina dan tiap-tiap mata ada zinanya terutamanya hidung yang berserombong kapal kata orang sekarang hidong belang – Petikan dari Hadis Riwayat Nasaii, Ibn Khuzaimah dan Hibban.

4. Dada – Hendaklah mereka (perempuan) melabuhkan kain tudung hingga menutupi bahagian hadapan dada-dada mereka – Petikan dari Surah An-Nur Ayat 31.

5. Gigi – Rasullulah melaknat perempuan yang mengikir gigi atau meminta supaya dikikirkan giginya – Petikan dari Hadis Riwayat At-Thabrani, Dilaknat perempuan yang menjarangkan giginya supaya menjadi cantik, yang merubah ciptaan Allah – Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.

6. Muka dan leher – Dan tinggallah kamu (perempuan) di rumah kamu dan janganlah kamu menampakkan perhiasan mu seperti orang jahilliah yang dahulu. Keterangan : Bersolek (make-up) dan menurut Maqatil sengaja membiarkan ikatan tudung yang menampakkan leher seperti orang Jahilliyah.

7. Muka dan Tangan – Asma Binte Abu Bakar telah menemui Rasullulah dengan memakai pakaian yang tipis. Sabda Rasullulah: Wahai Asma! Sesungguhnya seorang gadis yang telah berhaid tidak boleh baginya menzahirkan anggota badan kecu ali pergelangan tangan dan wajah saja – Petikan dari Hadis Riwayat Muslim dan Bukhari.

8. Tangan – Sesungguhnya kepala yang ditusuk dengan besi itu lebih baik daripada menyentuh kaum yang bukan sejenis yang tidak halal baginya – Petikan dari Hadis Riwayat At Tabrani dan Baihaqi.

9. Mata – Dan katakanlah kepada perempuan mukmin hendaklah mereka menundukkan sebahagian dari pemandangannya – Petikan dari Surah An Nur Ayat 31.

Sabda Nabi Muhamad SAW, Jangan sampai pandangan yang satu mengikuti pandangan lainnya. Kamu hanya boleh pandangan yang pertama sahaja manakala pandangan seterusnya tidak dibenarkan hukumnya haram – Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud dan Tirmidzi.

10. Mulut (suara) – Janganlah perempuan-perempuan itu terlalu lunak dalam berbicara sehingga berkeinginan orang yang ada perasaan serong dalam hatinya, tetapi ucapkanlah perkataan-perkataan yang baik – Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 32.

Sabda SAW, Sesungguhnya akan ada umat ku yang minum arak yang mereka namakan dengan yang lain, iaitu kepala mereka dilalaikan oleh bunyi-bunyian (muzik) dan penyanyi perempuan, maka Allah akan tenggelamkan mereka itu dalam bumi – Petikan dari Hadis Riwayat Ibn Majah.

11. Kemaluan – Dan katakanlah kepada perempuan-perempuan mukmin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mereka dan menjaga kehormatan mereka – Petikan dari Surah An Nur Ayat 31.

Apabila seorang perempuan itu solat lima waktu, puasa di bulan Ramadan, menjaga kehormatannya dan mentaati suaminya, maka masuklah ia ke dalam Syurga daripada pintu-pintu yang ia kehendakinya – Hadis Riwayat Riwayat Al Bazzar.

Tiada seorang perempuanpun yang membuka pakaiannya bukan di rumah suaminya, melainkan dia telah membinasakan tabir antaranya dengan Allah – Petikan dari Hadis Riwayat Tirmidzi, Abu Daud dan Ibn Majah.

12. Pakaian – Barangsiapa memakai pakaian yang berlebih-lebihan terutama yang menjolok mata , maka Allah akan memberikan pakaian kehinaan di hari akhirat nanti – Petikan dari Hadis Riwayat Ahmad, Abu Daud, An Nasaii dan Ibn Majah.

Petikan dari Surah Al Ahzab Ayat 59. Bermaksud : Hai nabi-nabi katakanlah kepada isteri-isterimu, anak perempuanmu dan isteri-isteri orang mukmin, hendaklah mereka memakai baju jilbab (baju labuh dan longgar) yang demikian itu supaya mereka mudah dikenali . Lantaran itu mereka tidak diganggu. Allah maha pengampun lagi maha penyayang.

Sesungguhnya sebilangan ahli Neraka ialah perempuan-perempuan yang berpakaian tetapi telanjang yang condong pada maksiat dan menarik orang lain untuk melakukan maksiat. Mereka tidak akan masuk Syurga dan tidak akan mencium baunya – Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim. Keterangan : Wanita yang berpakaian tipis/jarang, ketat/ membentuk dan berbelah/membuka bahagian-bahagian tertentu.

13. Rambut - Wahai anakku Fatimah! Adapun perempuan-perempuan yang akan digantung rambutnya hingga mendidih otaknya dalam Neraka adalah mereka itu di dunia tidak mahu menutup rambutnya daripada dilihat oleh lelaki yang bukan mahramnya – Petikan dari Hadis Riwayat Bukhari dan Muslim.

Add comment September 18, 2008

islam

Biar Pede Jadi Muslim

karenanya, jangan ragu en bimbang untuk jadi remaja muslim sejati. di tangan kita sudah ada segenggam berlian yang diburu banyaj orang, sayang banget kalau dibuang. so, busungkan dadamu dan bangga deh jadi remaja muslim. tapi gimana caranya?

*kenali islam dalam-dalam

pepatah lama bilang, tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta. banyak remaja yang menjauh dari islam karena emang nggak kenal islam. menurut mereka islam itu cuma sekedar ngurusin sholat, puasa, zakat. pikiran ini makin parah dengan adanya isu-isu terorisme, fundamentalisme, fanatisme. supaya nggak tak tersesat, nggak ada jalan lain kesuali, mendalami islam. coba deh mulai pelajari islam. datang ke majlis ta’lim, pengajian sekolah, gaul ama anak-anak rohis, dan baca apa saja tentang kebenaran islam.

*mulai care ama urusan kaum muslim

baca koran, denger radio dan tonton televisi, bahwa di luar rumahmu banyak kaum muslim yang butuh uluran tangan. ornag yang berbahagia, adalah orang yang juga mau berbagi sama ornag lain.

*buat para aktivis, jangan eksklusif

gimana teman-temanmu mau ikutan ngaji kalau para aktivisnya menutup diri dan ogah bergaul dengan dunia luar. nah, mulai deh menarik simpati kawan-kawanmu. tunjukkin bahwa aktivis dakwah itu bersahabat dengan semua orang dan punya solidaritas yang tinggi. mereka yang belum ngaji adalah karena belum tahu. so, tugas kalianlah memberi tahu mereka. jadilah sales islam terbaik. insya Allah, kemenangan akan tiba.

*jangan takut dicap aneh

pembawa kebenaran, emang kudu siap dicap aneh, pake jilbab disangka nenek-nenek mo ke pengajian, rajin ngaji disangka nyari berkat, pake sarung disangka abis disunat. don’t worry guys! sebutan aneh juga ditujukan buat para nabi dan rasul juga para pendukungnya. Nabi saw. berpesan, “Islam itu datang sebagai perkara yang asing, dan akan kembali asing sebagaimana datangnya, maka beruntunglah orang-orang asing!”

so, be a perfect strangers boyz and galz!

“mutiara hikmah” (QS. al-baqarah:164)

“sesungguhnya pada penciptaan langit dan bumi, pergantian malam dan siang, kapal yang berlayar di laut dengan (muatan) yang bermanfaat bagi manusia, apa yang diturunkan Allah dari langit beriupa air, lalu dengan itu dihidupkan-NYa bumi setelah mati(kering), dan Dia tebarkan di dalamnya bermacam-macam binatang, dan perkisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi, (semua itu) sungguh, merupakan tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang mengerti.”

Add comment September 17, 2008

Previous Posts

Pages

Categories

Links

Meta

Calendar

September 2008
S S R K J S M
    Okt »
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
2930  

Posts by Month

Posts by Category